
Hari ini cuaca begitu cerah. Langit begitu bersih membiru dan sang mentari dengan sukarela menyebarkan kehangatannya. Seorang gadis sedang asyik membaca buku di bawah pohon rindang di sebuah taman. Jemarinya yang lentik membalik lembar demi lembar halaman di buku itu. Parasnya yang manis dan cantik tak memudar sampai kini.
Enam tahun berlalu, gadis itu kini sudah berubah menjadi wanita yang lebih matang dan dewasa. Kirana Dwi Lestari, gadis dengan perjalanan hidup yang melelahkan beberapa tahun silam, kini usianya sudah 24 tahun.
"Aduh,"
Tari mengeluh kesakitan ketika sebuah batu kerikil mendarat di kepalanya. Diambilnya batu yang tergeletak di sampingnya dan menaruhnya kembali. Sepertinya ada orang yang sengaja melemparnya dengan batu. Sambil mengusap bagian kepalanya yang sakit, Tari menoleh ke belakang dan mencari-cari siapa yang telah berbuat iseng padanya. Tidak ada yang mencurigakan. Semua orang yang berada di sekitarnya sedang fokus dengan aktivitas mereka.
"Ah," Gadis itu dibuat terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang di depannya saat berbalik.
Seorang pria tampan dengan senyum mengembang. Wajahnya begitu dekat dengan Tari hingga membuat gadis itu terkejut.
"Kamu ngapain sih?" tanya Tari dengan kesal. Gadis itu mendorong pria yang masih berjongkok di hadapannya hingga terjungkal.
Tidak merasa sakit, pria itu malah tertawa melihat ekspresi Tari saat sedang kesal.
"Idih, malah ketawa. Dasar gaje, gak jelas!" ucapnya sambil memutar kedua bola matanya.
"Iya, aku emang Gaje. Gajendra David Mahardika. Lelaki perkasa yang kelak menjadi pemimpin yang kuat." balas Gajendra.
Pria muda itu lantas berdiri dan memamerkan beberapa otot di lengannya pada Tari.
"Hahaha," Tari tertawa terbahak.
"Kok malam ketawa? Aku akan jadi pemimpin nanti, pemimpin rumah tangga kita agar sakinah, mawadah, warahmah." kata Gajendra yang masih berdiri tegak di depan Tari.
"Gimana kamu mau jadi pemimpin yang perkasa?" Tari bangkit dan berdiri.
"Lihat ini," Gadis itu memukul pelan kedua lengan Gajendra.
"Auw sakit, Tar!"
"Baru dipukul gitu aja udah sakit, mau sok-sokan jadi pemimpin." Gadis itu kembali tertawa.
"Kan nggak perlu pakai otot kalau mau jadi pemimpin kamu, Tar." kilah Gajendra.
"Ish, emang kamu gak jelas." Tari melengos kemudian pergi dari tempat itu dengan menenteng bukunya.
"Lah, kok malah pergi? Tunggu, Tar!"
__ADS_1
Gajendra langsung berjalan mengikuti Tari dan merangkulnya. Dari kejauhan mereka terlihat saling bersenda gurau. Tawa mereka pun juga terdengar beberapa kali. Dua sahabat yang selama ini saling melengkapi.
Gajendra David Mahardika, usianya satu tahun lebih tua dari Tari. Mereka berteman sejak Tari pindah di dekat rumahnya. Gajendra berasal dari keluarga sederhana seperti Tari. Ia juga seorang yatim piatu dan tinggal bersama paman dan bibinya.
6 tahun yang lalu, Tari membawa Bu Mae dan adik-adiknya pergi dari kotanya. Memanfaatkan kesempatan saat Tuan Anton lengah menjaganya. Malam itu, saat Tuan Anton sedang terlelap, Tari diam-diam pergi dan kembali ke rumah untuk menjemput Bu Mae dan adik-adiknya. Tanpa membawa apapun yang ada di rumah tersebut, Tari dan keluarga pergi begitu saja. Bahkan gadis itu meninggalkan ponsel dan buku tabungannya di rumah tersebut, ia hanya membawa beberapa lembar uang untuk membayar mobil yang sempat ia sewa saat melarikan diri dan beberapa berkas penting.
Hingga sampailah Tari di kota yang ia tempati saat ini. Beruntung ia bertemu dengan keluarga Gajendra yang menolongnya dari mencarikan rumah sampai pekerjaan untuk Tari. Waktu terus berjalan, keadaan Tari dan keluarga semakin membaik. Kini, ia bisa membuka sebuah warung sembako kecil di rumahnya. Tari juga bisa menyekolahkan kembali adik-adiknya yang sempat terputus selama satu tahun. Sedangkan gadis itu, ia memilih kejar paket agar memiliki ijasah setara SLTA.
***
"Kakak!" Seorang anak laki-laki berlari bahagia ketika melihat sang kakak pulang.
Dia berlari dari dalam toko menyambut sang kakak dan langsung memeluknya. Siapa lagi kalau bukan Adnan. Bocah kecil yang dulu sangat menggemaskan dengan celotehannya kini sudah menjadi anak laki-laki yang tampan. Hanya tingkahnya yang tetap sama dari dulu, selalu menyambut Tari dengan berlari riang dan memeluknya.
"Kamu pasti nantinya akan jadi pelari hebat, Nan." kata Gajendra pada Adnan.
"Kok kamu tahu?" tanya Tari.
"Ya kan dia suka banget lari, Tar."
"Ih gaje, gak jelas!"
Lagi-lagi Gajendra dibuat tertawa saat melihat kekesalan di wajah Tari. Adnan yang baru menyadari bahwa Gajendra juga datang bersama kakaknya pun segera memeluk Gajendra.
"Hai, Adnan. Calon adik ipar Kakak," balas Gajendra.
"Kakak nggak bawain mainan buat Adnan?" tanya Adnan saat melihat Gajendra datang dengan tangan kosong.
"Aduh, Kakak lupa," jawab Gajendra sambil menepuk jidatnya. Setiap Gajendra datang, dia selalu memanjakan Adnan dengan membawakan mainan baru. Itu sebabnya Adnan selalu menanyakan mainan saat Gajendra datang.
"Itu hasil dari ulah kamu memanjakan dia." sahut Tari dengan kesal.
"Kamu itu dari tadi judes banget sama aku, nanti cantiknya hilang loh kalau judes terus. Tapi nggak apa-apa, aku tetep suka kamu." canda Gajendra.
"Auw," keluh Gajendra saat Tari kembali memukul lengannya.
"Udah yuk, masuk!" ajak Tari.
Gajendra dan Adnan mengangguk lalu berjalan mengikuti Tari masuk ke dalam rumah. Rumah yang sederhana sama seperti rumah Tari yang dulu. Hanya halaman yang luas dan terdapat garasi mobil yang disulap menjadi sebuah warung sembako.
__ADS_1
Saat membuka pintu, Tari langsung dibuat kesal oleh kedua adiknya yang sedang asyik memiringkan ponselnya. Keduanya sama-sama menyukai game Moba yang sangat digandrungi oleh orang-orang.
"Kalian ini, bukannya bantu jaga warung malah asyik main game terus."
Kedua kakak beradik tersebut tidak mengindahkan teguran sang kakak. Keduanya tetap fokus pada layar ponsel di depannya. Farhan dan Bilal, kini mereka sudah beranjak remaja.
"Hei, kalian dengar nggak sih?"
"Iya, kita dengar." jawab Farhan tanpa melihat kakaknya.
"Semakin besar bukannya jadi lebih baik, malah semakin malas." keluh Tari.
Kemudian gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa kesal dengan kelakuan adik-adiknya. Setelah masuk ke SMA, mereka sudah jarang membantunya ataupun Bu Mae. Ah tidak, bahkan tidak pernah. Waktu mereka hanya dihabiskan untuk sekolah, bermain game online dan keluar bersama teman-temannya. Sangat berbeda saat mereka masih kecil. Tanpa diminta pun mereka selalu membantu pekerjaan rumah. Sepertinya, semakin bertambah usia maka sikap dan pola pikiran seseorang juga akan berubah.
Gajendra yang merasa diabaikan langsung mengikuti Tari masuk ke dalam kamarnya yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tari dibuat kaget saat Gajendra juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Tari.
"Kamu ngapain?" Gadis itu memelototi Gajendra yang terlihat nyaman berbaring di sampingnya.
"Ikut tidur sama kamu," jawab Gajendra dengan santai.
"Nggak, keluar sana dan tidur di rumahmu sendiri!" usir Tari.
"Aku mau rasain tidur di ranjang calon istriku."
"Dasar mesum gak jelas!" teriak gadis itu kemudian mendorong Gajendra agar turun dari kasurnya.
Gajendra bergeming. Dia masih santai berbaring dengan kedua lengannya sebagai bantalan sambil memejamkan mata. Tari kembali mendorong pria itu lebih kuat lagi. Karena hampir terjatuh, Gajendra menarik tangan Tari dan keduanya terjatuh ke lantai bersamaan.
Hening, mata Tari terbelalak ketika wajah Gajendra berada tepat di hadapannya. Pandangan mereka saling bertemu. Gadis itu jatuh tepat di atas tubuh Gajendra.
"Cantik," ucap Gajendra membuat gadis itu tersadar.
Secepat mungkin Tari bangun dan merapikan bajunya. Dia merasa gugup dan salah tingkah. Jantungnya pun berdegup kencang.
Gajendra ikut bangun dan duduk dengan Tari di ujung tempat tidur. Rasa canggung menyelimuti keduanya.
"Aku pamit pulang dulu, ya!" ucap Gajendra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tari mengangguk pelan kemudian mengantar gajendra sampai ke depan rumah. Sedangkan Gajendra, pria itu berjalan menuju rumahnya. Jaraknya hanya berjarak beberapa meter dari rumah Tari.
__ADS_1
Sampai di rumahnya, Gajendra segera membuka dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Mengingat wajah Tari yang begitu dekat dengannya tadi membuatnya tersenyum sendiri. Kejadian tak sengaja itu membuatnya bahagia. Pasalnya, pria itu sudah sejak lama menaruh rasa pada Tari. Sudah berulangkali ia mengungkapkan perasaannya, tapi gadis itu hanya menganggap semua yang ia katakan hanya gurauan yang tidak jelas.
"Tari, semoga kamu bisa benar-benar melihat hatiku nanti."