KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 81


__ADS_3

"Dok, kenapa ibu saya makin hari malah makin drop?" tanya Tari pada seorang dokter yang menangani Bu Mae.


Saat ini ia sedang menemui dokter di ruangannya. Ia mengeluhkan jika tubuh ibunya melemah setelah proses kemoterapi yang pertama. Nafsu makan Bu Mae berkurang, berat badan yang menurun drastis, hingga mengeluh mudah lelah dan tidak bisa tidur.


"Itu karena efek samping dari proses kemoterapi tersebut. Meski mampu menghancurkan sel kanker, kemoterapi juga dapat menghancurkan sel sehat yang berada di sekitarnya." Jelas sang dokter.


"Tidak perlu khawatir. Kesehatan Bu Mae akan kembali pulih setelah kemoterapi selesai," lanjutnya lagi.


Beberapa menit setelah bertemu sang dokter, Tari kembali lagi ke ruangan Bu Mae. Ruangan yang cukup luas dan hanya Bu Mae sendiri yang menempati. Siapa lagi kalau bukan Yoga yang memindahkannya? Entah bagaimana caranya, para perawat mengatakan bahwa Yoga meminta Bu Mae dipindahkan ke ruang khusus setelah kemoterapi yang luas.


Ponsel Tari tiba-tiba berdering. Wajah pria tampan yang baru beberapa bulan yang lalu ia temui memenuhi layar ponselnya. Yoga, kini ia lebih sering berkomunikasi dengan Tari melalui ponsel karena sibuk dan belum bisa bertemu.


"Hai," sapa pria tersebut dari balik layar.


"Hai." Tari balik menyapa.


"Lagi di rumah sakit?"


Tari mengangguk, sedetik kemudian wajahnya tampak lesu.


"Kenapa?" Yoga tampak berpindah tempat. Awalnya ia duduk di sebuah sofa, kini ia berbaring di atas tempat tidur.


"Ibu, keadaannya membuatku khawatir." Jawab Tari lesu.


"Efek dari kemo?" Yoga bertanya.


Tari mengangguk. Langkahnya berhenti di taman rumah sakit. Duduk di kursi yang sudah tersedia, sambil menikmati sejuknya udara pagi.


"Itu hanya sementara, pasti nanti keadaan ibu akan membaik." Ucap Yoga menenangkan.


Tari mendesah pelan kemudian kembali mengangguk. Benar, tidak apa-apa. Dokter juga mengatakan hal yang sama dengan Yoga. Bu Mae hanya terkena efek samping dari kemoterapi, tapi .... Gadis itu tidak bisa untuk tidak berpikir berlebihan. Ia sangat takut kehilangan sosok Bu Mae.


"Papa!" Suara riang anak kecil terdengar dari ponsel Tari. Raka, itu pasti Raka.


"Ya, Raka?" Yoga menyambut bocah itu dengan memeluknya. Semua itu jelas terlihat oleh Tari. Membuatnya berpikir apa benar Raka adalah adiknya? Kalau memang demikian, mengapa sikap Yoga pada Raka seperti anak kandungnya sendiri?


"Raka!" Kini terdengar suara seorang wanita memanggil Raka.

__ADS_1


Tari tahu, itu pasti Sarah. Ibu dari bocah laki-laki itu dan istri Yoga. Tiba-tiba hati Tari memanas. Rasa sesak menyeruak dan ingin berteriak. Namun, gadis itu hanya diam mengamati interaksi orang-orang yang terlihat di layar ponselnya.


"Udah dulu, ya. Nanti aku telpon lagi," pamit Yoga pada Tari yang dibalas anggukan oleh gadis itu.


Yoga memutus panggilannya karena Sarah sudah datang. Mereka pasti akan bercengkerama layaknya keluarga kecil yang bahagia. Ya Tuhan, kenapa sakit sekali rasanya membayangkan kebahagiaan orang lain? Tari, jangan biarkan kedengkian menguasai hatimu.


Setelah menyimpan ponselnya dalam saku, Tari bangkit dan berjalan menuju ruangan Bu Mae. Wajahnya datar. Hatinya bahagia kala orang yang mulai bersarang di hatinya kembali, meneleponnya. Namun, hatinya menjadi sakit kala mendapati orang tersebut tengah bersama wanita lain dan hidup dalam satu atap bersama.


"Dor ...."


"Astaga!" pekik Tari ketika seseorang mengejutkannya dari belakang.


"Gaje, apaan sih kamu?" cibir Tari. Gajendra tergelak.


"Jalan itu pake mata, lihat itu di depan ada belokan!"


"Jalan itu pake kaki, bukan pake mata!" Tari membalas.


"Dih, pinter ya sekarang." Gajendra mencubit hidung Tari dengan gemas.


"Auh ..., sakit tau!" keluh Tari. Tidak sakit, gadis itu hanya berpura-pura merasakan sakit.


"Kamu kenapa ngalamun, Tar?" tanya Gajendra.


"Kamu mikirin apa?" tanyanya lagi.


"Mm, enggak .... Aku nggak mikirin apa-apa."


"Bohongnya!"


"Beneran,"


"Orang hidup nggak mungkin nggak berpikir." Gajendra tertawa.


Tari melirik Gajendra kesal. Ada saja bahan guyonan garing di kepalanya. Atau mungkin sebenarnya candaan Gajendra itu lucu, tapi terdengar biasa saja di telinga gadis itu? Apa yang salah?


"Gimana keadaan Bu Mae?" tanya Gajendra lagi setelah menghentikan tawanya.

__ADS_1


Tari mendesah pelan. Pertanyaan Gajendra membuatnya ingat dengan wanita paruh baya tersebut. Pagi ini ia belum makan sama sekali. Perutnya pasti kosong tak terisi.


"Kenapa?" Suara Gajendra melembut.


"Ibu nggak mau makan," jawab Tari lirih.


"Kenapa kok nggak mau makan?"


"Kata dokter, itu efek setelah kemo. Kehilangan nafsu makan dan mudah lelah." Jalas gadis itu.


Gajendra mengangguk. "Nggak apa-apa, nanti pasti sembuh."


Lantas pria itu mengelus kepala Tari dan tersenyum.


"Makasih," ucap Tari.


"Untuk?"


"Kamu udah bikin aku tenang," jawab Tari yang juga tersenyum.


"Itu gunanya pasangan. Memberi kenyamanan, menenangkan dan juga ..." Gajendra tak meneruskan ucapannya.


"Juga apa?"


"Juga menghanyutkan," bisik Gajendra tepat di telinga Tari.


Plak,


Tamparan kecil berhasil mendarat di wajah tampan Gajendra, membuatnya meringis.


"Kok ditampol sih, Tar?" Gajendra tampak mengelus pipinya.


"Habisnya kamu nggak jelas!" ucap Tari kemudian berjalan cepat meninggalkan Gajendra. Entah apa yang dimaksud pria itu, ia pun tidak tahu. Namun, hembusan napas Gajendra di telinganya berhasil membuat bulu kuduknya meremang tak jelas.


Menghanyutkan? Pasangan yang menghanyutkan bukannya malah pasangan yang kejam? Dasar nggak jelas.


Tari menggerutu sambil membuka pintu kamar Bu Mae. Memasuki ruangan yang luas, tapi sepi. Tidak ada yang menjaga selain dirinya. Adik-adiknya sedang sekolah. Wanita yang berbaring di atas brankar itu terlihat lemah. Matanya terpejam, mungkin Bu Mae sedang tidur. Sungguh, Tari tidak tega melihatnya. Didekatinya tempat Bu Mae berada kemudian menggenggam tangannya. Ia menarik kursi kemudian mendudukinya. Dipeluknya erat jemari yang terlihat kurus itu.

__ADS_1


Gajendra, ia masuk dan melihat pemandangan yang mengharukan. Namun, ia mencoba biasa saja dan melangkah mendekat. Bukan ia tak tahu bagaimana perasaan Tari saat ini. Gajendra juga seorang yatim piatu. Ia tahu bagaimana sakitnya ketika ditinggalkan. Gajendra hanya diam dan berdiri di belakang Tari. Tak mau mengusik kesedihan gadis itu.


Semoga Bu Mae lekas sembuh dan kembali tersenyum seperti sedia kala.


__ADS_2