KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 84


__ADS_3

"Udah siap?" tanya Yoga setelah melepas pelukannya. Kedua insan dimabuk asmara itu saling memandang dan melempar senyuman.


"Nggak perlu bawa apapun. Cukup bawa hatimu untukku."


"Ih, nggak jelas." Tari menepuk pelan bahu Yoga kemudian tertawa bersama.


"Yang lain ke mana? Kita harus pamitan sama ibu dan adik-adikmu."


"Pamit ke mana, Tar?"


Pertanyaan itu keluar dari mulut seorang pria yang sudah berdiri tegak di belakang Tari dan Yoga. Keduanya sontak menoleh. Gajendra, ia berdiri mematung dengan beberapa paper bag di tangannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Gajendra kemudian perlahan mendekat.


Ditatapnya kedua orang yang kini juga sedang menatapnya. Yoga yang melihatnya dengan rasa tidak suka, dan Tari yang hanya melihatnya karena tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Gajendra. Menjadi orang yang tidak enak hati memang serba salah. Bukan karena ingin memberi harapan, tapi karena tidak tahu cara mengungkapkan.


"Aku ...."


"Dia akan kembali ke tempat yang semestinya," sela Yoga.


"Tari?" Gajendra tak menanggapi jawaban dari Yoga. Ia hanya ingin mendengar langsung jawaban dari mulut Tari.


"A-aku... Yoga menjemputku untuk ikut bersamanya." Jawab Tari lirih.


"Kamu mau balik kayak dulu lagi?"


Gajendra memang tahu masa lalu Tari. Dari mulai menjalani hidup membingungkan hingga Tari dan keluarganya memulai hidup baru kembali. Gajendra tahu semuanya.


"Tar, kamu pikirin lagi. Hidupmu udah tenang di sini." Gajendra menggenggam tangan Tari. Berharap gadis itu mau berubah pikiran.


Tari menggelengkan kepalanya. "Aku mau bicara sama kamu."


Gadis itu menarik tangan Gajendra sedikit menjauh dari Yoga.


"Tar, tolong pikirin lagi!" Wajah Gajendra memelas. Sungguh, ia tidak ingin kehilangan Tari. Jika Tari kembali pada Yoga, pupus sudah angan-angannya untuk bersama Tari.


"Mungkin ini satu-satunya cara membalas budi mereka, Gaje. Yoga udah bantu biaya pengobatan ibu sampai sembuh. Dan keluarganya hancur juga karena aku," jelas Tari pada sahabatnya itu.


"Bukan karena kamu masih mencintainya?"


Tari terkesiap. Bagaimana bisa Gajendra tahu jika dia masih memiliki perasaan pada Yoga?

__ADS_1


"Dengar! Dia nggak pantas buat kamu, Tar. Aku yakin kamu akan kecewa nanti kalau masih ngotot sama dia."


"Ini udah pilihanku, Gajendra."


Gajendra menghela napas kasar. "Oke, pergilah! Dan ingat satu hal, di sini masih ada aku. Aku akan selalu menunggumu sampai kamu kembali."


Tari mengangguk. "Aku titip ibu dan adik-adikku."


"Kamu tenang aja, aku akan jagain mereka. Karena mereka juga keluargaku."


****


"Ibu sebenarnya nggak mau Tari kembali ke sana," ucap Bu Mae lirih.


Setelah kepergian Tari dan Yoga, Gajendra tak lantas pergi dan memilih untuk menemani Bu Mae di ruang tamu.


"Terus kenapa Ibu biarin Tari pergi?"


"Tari anak yang keras kepala. Dia tetap mengikuti keinginannya meski orang-orang di sekitarnya sudah memberi saran terbaik. Adik-adiknya juga sudah mencoba melarangnya. Namun dia berkilah untuk membalas budi pada keluarga itu." Jelas Bu Mae panjang lebar.


"Ibu tenang aja. Aku akan tetap jagain dia dari sini. Kalau ada apa-apa, aku akan ke sana dan membawanya pulang. Ibu jangan terlalu banyak pikiran. Kesehatan Ibu belum sehat betul. Pastikan Ibu banyak istirahat. Aku yakin Tari akan baik-baik saja."


"Makasih ya, Gajendra. Ibu tau kamu anak baik. Kamu yang sabar, ya. Ibu yakin suatu saat kamu dan Tari akan bersatu." Ucap wanita itu kemudian tersenyum.


****


Yoga meliriknya sekilas. Bayangan di masa lalu teringat kembali. Saat dimana Tari yang masih menjadi Ana sedang terlelap dalam pelukannya. Malam saat gadis itu mabuk dan ia membawanya ke apartemen. Bagaimana manisnya bibir tipis gadis itu masih sangat terasa.


"Ah ... Yoga, kamu masih nyetir. Jangan bayangin macam-macam," ucapnya pada dirinya sendiri. Yoga pria dewasa. Duduk dekat gadis cinta pertamanya membuatnya berpikir yang tidak-tidak.


Yoga melepas genggamannya pada Tari dan memilih fokus menyetir. Ingin rasanya segera tercapai keinginannya dan menikahi Tari. Tujuannya hanya satu sekarang, hidup bersama Tari selamanya.


****


Sampai di kotanya, Yoga tak membawa Tari ke rumah. Ia membawa gadis itu untuk tinggal di apartemennya. Sampai di basement gedung apartemen, Yoga membangunkan Tari pelan.


"Sayang, kita udah sampai." Ucapnya sambil mengelus pucuk kepala Tari. Tak ada pergerakan. Tari tidur sangat pulas.


Merasa gemas, Yoga mendekat dan mencium seluruh wajah Tari hingga gadis itu menggeliat. Tari yang merasa tidurnya terganggu, membuka matanya. Ia terkejut mendapati wajah Yoga tepat di hadapannya.


"Yoga?" Gadis itu langsung mendorong Yoga agar menjauh.

__ADS_1


"Kamu ngapain?"


"Bangunin kamu," jawab Yoga.


"Kenapa deket-deket?"


"Tadi aku bangunin kamu pake cara biasa, kamu nggak bangun."


"Terus kamu banguninnya gimana?"


"Ciumin wajah kamu," jawab pria itu sambil tersenyum menampakkan gigi rapinya.


"Dan ternyata ampuh. Besok kalau kamu susah bangun lagi, aku pake cara itu aja." Lanjutnya.


"Dih, nggak jelas," cibir Tari.


"Siapa bilang? Aku jelas kok. Jangan samain aku sama temenmu itu. Cukup dia aja yang nggak jelas."


Tari diam. Ia lebih memilih membuka sabuk pengamannya dan keluar. Yoga bukan Gajendra yang saat sedang berdebat dengannya kemudian berakhir dengan tawa.


"Yuk!" ajak Yoga sambil meraih tangan Tari.


Hening, tak ada perbincangan diantara keduanya. Tari sedang asyik melihat sekeliling sambil mengingat-ingat tempat ini. Tari dan Yoga masuk ke sebuah lift menuju tempat Yoga.


"Kita di mana, Ga?" tanya Tari setelah keluar dari lift.


"Kita di apartemenku," jelas Yoga singkat.


"Apartemen? Kenapa nggak langsung ke rumah kamu aja?"


Yoga hanya menjawab pertanyaan Tari dengan senyuman. Setelah menekan beberapa tombol sandi, pintu apartemen milik Yoga terbuka.


"Semalat datang kembali," ucap pria itu setelah keduanya berada di dalam.


"Selamat datang kembali?" Tari terlihat bingung.


"Iya." Yoga mempersilahkan Tari duduk dan menaruh koper di samping sofa.


"Kamu lupa? Kita pernah bermalam di sini." Ucap Yoga mengingatkan.


Gadis itu tampak berpikir dan melihat sekeliling. Namun, ia tidak mengingat apapun dari setiap sudut tempat ini.

__ADS_1


"Perlu aku ingetin lagi?"


Yoga menjatuhkan bo*kongnya di samping Tari. Diraihnya wajah Tari dengan kedua tangannya, membawa gadis itu untuk melihat ke arahnya. Tatapan mereka saling beradu. Bohong jika tidak ada yang mereka rasakan saat ini. Jantung Tari berdegup kencang meski wajahnya terlihat biasa saja.


__ADS_2