KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 51


__ADS_3

"Jaga bicaramu, Yoga!" bentak sang papa.


"Kenapa, Pa? Benar kan yang Yoga bilang kalau Tari adalah pe*lacur simpanan Papa!" Yoga tak mau kalah.


Plak,


Anak muda itu berhasil mendapatkan tamparan dari Tuan Anton. Pria itu tak terima jika Yoga menyebut gadisnya sebagai pe*lacur. Tari bukan gadis seperti itu. Dia juga bukan gadis simpanan, Tari adalah satu-satunya pemilik hati pria itu.


Yoga tertawa sembari mengusap pipinya yang memanas akibat tamparan sang papa. Baru kali ini Tuan Anton berlaku kasar padanya hanya karena seorang ... Ah, rasa kebenciannya semakin dalam kala ia mengucapkan julukan itu.


"Sekali lagi kamu menyebutnya seperti itu, Papa akan robek mulut kamu!" ancam sang papa. Matanya menatap lekat pada anak semata wayangnya itu.


"Lalu Yoga harus menyebutnya apa lagi, Pa? Memang benar, bukan? Dia gadis seperti itu. Papa bilang mau menikah tapi Papa malah menjadikan la*cur itu sebagai simpanan."


"Cukup, Yoga! Asal kamu tahu, gadis yang kamu sebut sebagai pe*lacur itu adalah calon ibu sambung kamu. Calon istri Papa yang kamu pun tidak sabar ingin bertemu dengannya." jelas Tuan Anton.


Yoga kembali dibuat tercengang. Kebenaran apa lagi ini? Matanya membulat tidak percaya. Lebih tepatnya tidak ingin mempercayai. Dia sudah tidak sanggup lagi. Sakit di hatinya semakin menjadi. Tiba-tiba penglihatan nya berkunang dan seisi ruangan menjadi berputar di depan matanya.


"Yoga!"


****

__ADS_1


Sepeninggalan sang guru, Tari masih terus tertunduk sembari terisak. Masih tak menyangka bahwa Yoga dengan lantang mempermalukan dirinya di hadapan khalayak ramai.


Apalagi kini, mata-mata itu seakan menelannya hidup-hidup. Ya, para siswa dan siswi yang satu kelas dengan gadis itu langsung mencibir dan men-cap dirinya sebagai gadis murahan. Tari tidak tahan lagi. Dia meraih tas nya dan berlari pergi keluar kelas. Gadis itu terus berlari melewati para murid yang selalu setia menatap dirinya penuh rasa benci dan ji*jik. Sesekali ia mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir. Sakit rasanya ketika orang yang kita cintai berbalik membenci kita. Itulah yang Tari rasakan saat ini. Yoga yang dikenal sebagai lelaki lemah lembut, bahkan dengan tegas menyebut dirinya sebagai pe*lacur.


Gadis itu pergi ke suatu tempat. Dia menghentikan sebuah taksi di depan sekolah menuju makam kedua orang tua nya. Sampai di sebuah pemakaman umum di desa tempat dulu ia tinggal, Tari turun dari taksi itu dan berjalan memasuki area pemakaman itu.


"Hiks ... Hiks ...." Gadis itu kembali menangis di hadapan nisan bapak dan ibu nya.


"Bapak, Ibu, Tari rindu kalian. Hiks,"


Tari yang duduk dengan menekuk kedua lututnya pun langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. Sebenarnya, ia merasa malu pada kedua orang tua nya. Dia jarang sekali datang berkunjung, sekali nya berkunjung hanya untuk berkeluh kesah tentang permasalahan hidupnya.


"Hidup di dunia ini tanpa kalian ternyata sangat mengerikan, Pak, Bu. Tari sudah nggak kuat lagi, rasa nya Tari ingin segera menyusul kalian sekarang juga. Hiks ...." Sesekali gadis itu mengusap kedua matanya yang sudah sembab.


Memang tiada obat mujabar selain ketengan yang diberikan oleh kedua orang tua kita. Beruntunglah kalian yang masih bisa melihat dua pahlawan tersebut dan merasakan hangatnya kasih sayang mereka hingga kini. Sayangilah mereka dan cobalah untuk membahagiakan mereka meskipun itu suatu hal yang sederhana. Jangan menyesal di kemudian hari nantinya.


"Bapak, Ibu, Tari pamit pulang dulu. Maaf Tari selalu datang hanya untuk merepotkan. Tenang lah di sana, jangan kasihani Tari walaupun sering mengeluh. Tari janji akan jaga adik-adik dengan baik. Tari pamit pulang dulu, ya." Gadis itu berbicara seakan ada kedua orang tua nya di hadapannya.


Setelah berpamitan, Tari langsung bangkit dan pergi dari area pemakaman tersebut. Dia berjalan menuju pangkalan ojek dan menyewa sebuah jasa ojek untuk pulang ke rumah baru.


****

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Tuan Anton pada seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa Yoga.


"Nak Yoga baik-baik saja. Dia hanya pingsan karena syok. Otaknya tidak mendapatkan asupan darah dan oksigen yang cukup karena detak jantungnya melambat dan pembuluh darah di kaki nya melebar. Itulah yang membuat tekanan darah Nak Yoga menurun secara mendadak dan akhirnya kehilangan kesadarannya." jelas dokter tersebut sembari melepas stetoskop dari telinga nya.


"Tapi kenapa dia belum sadar juga, Dok?" Pria itu khawatir.


"Itu karena peredaran darahnya belum normal. Jika sudah berjalan lancar kembali, Nak Yoga akan sadar dengan sendirinya."


"Tuan tenang saja. Nak Yoga tidak apa-apa." Sang dokter tahu kekhawatiran pria itu.


Tuan Anton menghela napas pelan. Ia takut terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu, Tuan. Nanti kalau perlu sesuatu silahkan tekan tombol di sana." pamit sang dokter sembari menunjukkan sebuah tombol untuk memanggil perawat jaga.


Tuan Anton mengangguk. "Baik, Dok. Terimakasih."


Sepeninggalan sang dokter dari ruangan tempat Yoga dirawat, Tuan Anton menarik sebuah kursi dan duduk di samping brankar tempat Yoga berbaring. Ia memandangi wajah Yoga yang terlihat pucat pasi. Yoga yang terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur itu membuat Tuan Anton bersedih. Anak laki-laki nya yang terkenal kuat, kini terbaring tak sadarkan diri. Anda saja Yoga tidak mengikuti rasa amarahnya, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Pria itu juga menyesali perbuatannya pada Yoga. Dia menyesal telah menyakiti Yoga dengan tangannya.


Sebegitu keterlaluan kah dirinya hingga membuat Yoga seperti ini? Dia hanya ingin membangun keluarga yang utuh untuk Yoga dan hidup bahagia bersama. Apa itu sebuah kesalahan? Apa cinta Yoga pada gadis itu sama besarnya seperti cintanya sampai Yoga tidak menerima jika Tari adalah calon ibu sambungnya? Pasti tidak.


Tidak. Belasan tahun ia sendirian, kini dia sudah menemukan tambatan hati yang layak disebutnya tempat pulang. Tuan Anton adalah pria normal. Dia butuh seseorang untuk mengisi kekosongan hatinya. Pria itu tidak mau kehilangan lagi sosok wanita yang ia cintai. Dia akan berusaha untuk mempertahankan Tari dan Yoga. Dua orang yang begitu penting dalam hidupnya.

__ADS_1


Tuan Anton menggengam tangan lemas milik Yoga. Haruskah ia mengalah?


__ADS_2