
Beberapa hari berlalu. Hari ini Yoga kembali berangkat ke sekolah seperti biasa. Yoga keluar dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Seperti biasanya, pria muda itu selalu menarik perhatian para gadis yang ia lewati. Seperti sekarang ini, banyak gadis di sekolah tersebut yang terpana dengan penampilan Yoga.
Meski penampilannya tidak seperti seorang fakboy, namun segala yang ada pada dirinya mampu mengalahkan para pemain hati di sekolah tersebut.
Sampai di depan kelasnya, Yoga segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Pandangan matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang dibencinya. Tari. Gadis itu ternyata juga sudah masuk ke sekolah. Yoga tersenyum sinis. Berani juga gadis itu masuk lagi ke sekolah ini. Ia pikir Tari akan keluar dan mencari sekolah baru. Besar juga nyali nya.
Ah, Yoga lupa. Gadis itu pasti bersembunyi di balik ketiak sang papa. Yoga Segera memalingkan muka ketika Tari juga tiba-tiba melihat ke arahnya. Laki-laki itu mulai mencari tempat duduk baru yang jauh dari Tari. Bangku nomor tiga dari pintu menjadi pilihan Yoga. Dirinya benar-benar ingin menjauhi gadis itu dan tidak mau melihatnya. Andai saja sekolah tidak berakhir beberapa bulan lagi, pasti dia yang akan mencari sekolah yang baru. Jika ia bersikeras pindah sekarang, maka ia harus mengulang kembali tahun ajaran baru di kelas XII.
Tari, gadis itu menghela napas pelan. Tari kembali menunduk melihat tulisan-tulisan yang ada di bukunya. Apa yang ia takutkan selama ini nyatanya terjadi juga. Hubungannya dengan Yoga sudah pasti akan terputus setelah Yoga mengetahui semuanya. Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Haruskah ia menjelaskan semua nya pada Yoga? Apa yang harus ia jelaskan? Bahwa dirinya bukan pela*cur dan dia masih memiliki mahkota nya? Atau dia harus menjelaskan bahwa yang dicintai adalah laki-laki itu dan bukan Tuan Anton?
Tari tersenyum getir. Apa yang akan ia lakukan sudah pasti sia-sia. Begini kah rasanya mencintai seseorang namun nyaman dengan yang lain? Dia ingin egois sekali saja untuk memiliki keduanya. Ah, hal yang konyol.
Pukul tujuh, kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Seorang guru wanita memasuki ruangan tersebut. Para siswa pun mulai terfokus dengan materi yang guru mereka berikan.
****
"Ahahaha ...."
Gelak tawa seorang bocah kecil memenuhi ruang keluarga kediaman Tuan Anton. Adnan, bocah kecil itu, kedua kakaknya dan Bu Mae sedang berada di rumah utama Tuan Anton. Mereka sengaja dijemput oleh sopir Tuan Anton untuk bertemu tamu spesial di rumah itu.
Terlihat Adnan yang tengah asyik bermain bersama seorang wanita paruh baya yang usianya mungkin lebih tua dari Bu Mae. Sedangkan Farhan dan Bilal duduk di atas sofa sembari memperhatikan adik kecilnya bermain. Bu Mae juga tengah berbincang dengan seorang pria di ruangan itu. Sungguh terlihat seperti keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan.
Yoga, laki-laki itu memarkirkan mobilnya berjajar dengan beberapa mobil koleksi sang papa. Sudah pukul 15.00 WIB, itu artinya Yoga sudah pulang dari sekolah. Yoga segera keluar dari mobil setelah mematikan mesin dan melepas sabuk pengaman di tubuhnya. Laki-laki itu berjalan memasuki rumah besar itu. Sampai di depan pintu utama, dirinya terheran karena pintu tersebut terbuka sangat lebar. Tidak biasanya pintu di rumah itu dibiarkan terbuka seperti sekarang ini. Rumah itu selalu tertutup karena tidak pernah ada orang ataupun tamu yang bertamu. Ah, mungkin papa nya sedang pulang. Pikir Yoga.
Yoga pun semakin dibuat penasaran dengan suara gelak tawa khas anak kecil. Dia segera mencari sumber suara tersebut. Yoga berjalan masuk menuju ruang keluarga dimana suara bocah itu semakin terdengar keras.
"Opa, Oma?"
Semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh ke arah Yoga. Begitu juga dengan Adnan yang langsung berlari menghampiri Yoga.
__ADS_1
"Tatak!" (Kakak!) pekik Adnan dengan gembira.
Bocah itu berlari dengan langkah kecilnya sembari merentangkan tangannya ingin segera memeluk sahabat dari kakaknya tersebut. Dengan gemasnya Adnan memeluk kaki kiri Yoga.
"Tatak Yoga, peyuk!" (Kakak Yoga, peluk!) pinta bocah yang tingginya hampir sepinggang orang dewasa tersebut.
Yoga terdiam. Tubuh mungil itu menatapnya dengan wajah yang menggemaskan. Namun, wajahnya sangat mirip dengan kakak pertamanya membuat rasa benci nya mulai menguasai diri.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" tanya wanita paruh baya yang ternyata adalah nenek Yoga.
Ya, kakek dan nenek Yoga datang berkunjung ke Indonesia tanpa sepengetahuan Yoga.
"Opa sama Oma, kapan dateng?"
"Baru tadi pagi, Yog. Papa mu bilang kamu sakit jadi kami datang ke sini." jawab Opa.
"Tatak!" (Kakak!) Adnan mulai merengek kesal karena diabaikan.
"Adnan, bisa lepas nggak? Kakak nggak bisa jalan ini." Yoga berusaha melepaskan pelukan Adnan pada dirinya dengan pelan.
"Huuuaaaaa ...." Adnan mulai menangis dan berlari memeluk Bu Mae.
"Yoga, kamu jangan kasar gitu dong sama anak kecil!" tegur Oma.
Lalu wanita paruh baya tersebut berdiri dan berjalan menghampiri Adnan yang semakin menangis. Ia mencoba menenangkan bocah itu dengan beberapa rayuan.
"Kalian kenapa datang ke rumah ini?" Pertanyaan itu Yoga tujukan pada Bu Mae dan adik-adik Tari.
"Maaf, Nak Yoga. Kami datang kemari karena perintah Nak Anton." jelas Bu Mae.
__ADS_1
"Apa rumah yang diberikan papa ku pada kalian belum cukup sampai kalian juga mengincar rumah ini?" tuduh Yoga. Anak Tuan Anton tersebut mulai tersulut emosi.
"Yoga!" bentak Opa.
"Apa maksudmu? Tolong jaga bicaramu pada orang yang lebih tua darimu." imbuh pria tersebut.
"Aku sedang bicara kenyataan, Opa!" elak Yoga.
"Aku tidak suka kalian ada di sini. Sebaiknya Bu Mae ajak anak-anak itu pergi dari sini."
"Yoga!" bentak Opa sekali lagi.
"Apa seperti itu cara mendidik papa mu selama kamu di sini? Apa papa mu mengajarkanmu untuk berbuat tidak sopan pada tamu di rumah ini?"
"Opa, mereka bukan tamu. Mereka adalah benalu di keluarga kita." Yoga tidak mau kalah.
"Cukup, Yoga!" Oma ikut bersuara.
Bu Mae menahan Oma yang ingin menghampiri cucu nya. "Sudah, Bu. Tidak apa-apa."
"Nak Yoga, maaf kalau saya dan anak-anak sudah lancang datang ke rumah Nak Yoga. Kami dijemput oleh sopir Nak Anton dan dibawa kemari untuk bertemu Pak Widodo dan Bu Ratih." jelas Bu Mae.
"Pak, Bu, kami pamit pulang dulu. Ini juga sudah sore dan Tari juga tidak tahu kalau kami di sini. Pasti Tari juga sudah pulang dan sedang kebingungan mencari kami." imbuhnya.
"Ya sudah, kalau begitu. Maaf atas perlakuan Yoga ya, Bu. Sampaikan salam kami untuk Tari." ucap Oma sembari memeluk Bu Mae.
Keduanya sama-sama melempar senyum. Bu Mae segera meminta Farhan dan Bilal untuk berpamitan kepada kedua orang tua tersebut. Begitu juga dengan Yoga, kedua adik Tari itu juga menyalami Yoga namun ditepis oleh Yoga. Sebegitu benci nya kah Yoga dengan Tari hingga ia juga harus membenci keluarga Tari?
Sepertinya anak muda tersebut mulai keterlaluan.
__ADS_1