
"Siapa dia?"
Semua terdiam. Tari dan Yoga yang langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu membawa seorang wanita pulang? Siapa dia, Yoga?" hardiknya.
"Pa, ini Tari! Kirana Dwi Lestari," jelas Yoga.
"Semalaman tidak pulang, anak ditinggal sendirian. Kalian ini benar-benar tidak becus mengurus anak!"
Mendengar papanya yang marah, Yoga segera meminta pengasuh untuk membawa Raka masuk ke dalam. Ia tidak mau anak kecil itu melihat kemarahan kakeknya kemudian menirunya.
"Apa kamu sedang berselingkuh? Kamu tidak pulang dan bersenang-senang dengan wanita ja*lang ini, bukan?"
Tari terkejut. Tidak menyangka jika Tuan Anton akan berkata demikian. Apa yang terjadi? Kenapa pria itu tidak mengenalinya? Tari diam tak bersuara. Entah mengapa berada diantara kedua pria itu membuat sifat pendiamnya muncul kembali.
"Kamu!" hardik Tuan Anton. Matanya lekat menatap tari. Gadis itu memberanikan diri untuk mendongak.
"Pergi Kamu dari sini! Wanita ja*lang sepertimu tidak pantas berada di sini. Jangan pernah berharap Yoga akan jatuh dalam pelukanmu! Silahkan nikmati uang yang diberikan anakku selama ini. Aku tidak akan memintanya kembali, tapi pergi dari kehidupan Yoga dan keluarganya mulai sekarang!"
Hancur sudah. Hatinya hancur tak berbentuk. Kerinduannya menghilang, terganti dengan kekecewaan. Maniknya mulai mengalirkan segala kesedihan. Menyesal sudah mengikuti kata hati. Harusnya ia tidak perlu datang untuk menyambut luka yang kembali bersarang.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Tari berbalik dan mengambil tas ransel di mobil Yoga. Bo*doh! Harusnya tak usah mengingat pria tua itu.
"Tari!" Yoga mencoba mengejar Tari yang sudah berlari pergi.
Tari terus berlari. Sesekali ia mengusap pipinya yang basah. Ia tak menghiraukan pria yang kini mengejarnya. Astaga, seakan langit mengerti kesedihannya saat ini. Hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Tubuhnya mulai basah kuyup, tapi kakinya tak mau berhenti. Ia ingin segera pergi dan tak ingin kembali lagi.
"Tari!" Yoga masih terus mengejarnya.
Karena tak ingin Yoga menangkapnya, gadis itu terus berlari tanpa memperhatikan langkahnya. Hingga ia tergelincir karena jalanan yang licin. Melihat Tari yang sudah tersungkur, Yoga mempercepat langkahnya.
"Tari, bangun, Tar!"
Gadis itu pingsan. Yoga segera mengangkatnya dan mencari tempat berteduh. Untung saja ada sebuah bangunan kecil seperti saung di halaman rumah seseorang. Yoga menggendong Tari dan berteduh di sana. Ia membaringkan Tari dan mencoba membangunkannya.
__ADS_1
"Tari, bangun!" ucapnya lirih. Pria itu menepuk pelan pipi Tari berharap bisa segera sadar.
***
Hawa dingin merasuk tubuh hingga terasa sampai tulang. Tari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh meninggalkan kepala yang masih terlihat.
"Seperti ini terasa hangat," ucapnya lirih, tapi masih terpejam.
Kasur yang empuk dan selimut tebal membuatnya tidur dengan nyaman. Untung saja ia sudah sampai di rumah dan tidak akan pernah bertemu dengan dua pria itu lagi. Tunggu! Pulang?
Gadis itu membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang tampak asing. Kamar mewah dengan berbagai fasilitas elektronik modern. Bahkan jam di dinding berbentuk digital. Tari segera bangun dari tidurnya. Ada selang infus yang mengalirkan cairan di tangan kanannya. Ia juga mulai merasa perih di pipi kirinya. Pipinya sudah berbalut perban saat ia menyentuhnya. Di mana ia sekarang?
"Kamu udah bangun?" Seseorang masuk membawa nampan berisi sebuah mangkuk dan segelas air mineral.
"Aku di mana?"
"Di apartemenku. Makan dulu, kamu pasti laper," katanya sambil mendudukkan diri di samping Tari sambil memangku nampan tersebut.
"Aku nggak laper, Ga. Aku mau pulang aja." Tari menolak.
"Iya, nanti aku antar kamu pulang. Sekarang makan dulu! Aku udah buatin sup jagung spesial buat kamu." Yoga lalu tersenyum. Pria itu mengambil satu suapan untuk Tari.
"Kamu harus makan. Tubuhmu lemas. Kata dokter, kamu harus segera makan dan minum vitamin setelah sadar." Tari menggeleng.
"Oke kalau kamu nggak mau makan. Aku buang aja, nanti kalau kamu mau makan bilang ya! Aku buatin lagi." Yoga hendak membawa keluar makanan yang ia buat.
"Tunggu!"
"Iya, aku makan. Mubazir kalau dibuang," ucap Tari pelan. Yoga tersenyum kemudian berbalik.
"Gitu dong."
Saat akan menyuapi, tangan Yoga ditahan. "Aku makan sendiri!"
"Aku suapi, kamu masih sakit." Kemudian Yoga mulai menyuapi Tari yang kini menurut.
__ADS_1
"Aku dan papa sempat hancur setelah kepergianmu." Tiba-tiba Yoga mulai bercerita.
Wajah Tari biasa saja. Tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali. Wajar, bukan? Seseorang akan terpuruk setelah ditinggal orang yang dicintai.
"Aku masih lanjut sekolah, tapi aku terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Karena papa selalu menyalahkanku atas hilangnya kamu." Tari mulai antusias. Ia makan disuapi Yoga sambil mendengarkan cerita pria yang ada di hadapannya itu.
"Papa menuduhku menyembunyikanmu saat itu. Kamu tau kan dari kecil aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari papa?"
Tari tak menjawab. Ia hanya berhenti mengunyah dan membalas tatapan Yoga. Iya, Tari tahu itu semua. Masa kecil Yoga yang bergelimang harta, tapi miskin kasih sayang dari orang tua. Apalagi ia tidak mendapatkannya dari sosok ibu.
"Aku tinggal bersama opa dan oma. Untung aku bisa dapat sayang mereka walaupun sedikit, karena mereka juga sama gila kerja."
Tari hanya mendengarkan tanpa merespon. Ia tahu saat di mana harus berkomentar atau hanya sekedar menjadi pendengar yang baik. Mungkin saat ini Yoga sedang ingin Tari menjadi pendengarnya.
"Aku pikir, mungkin mengikuti perkembangan jaman akan menyenangkan. Main dengan teman-teman sampai lupa waktu. Merokok, minum alkohol, itu menyenangkan. Aku bisa lupa sejenak dengan kebencian papa. Ia terus mencarimu tanpa memperdulikan aku. Papa juga tidak pernah pulang. Perusahaannya tak pernah diurus. Kerjaannya hanya mencarimu dan mabuk-mabukkan. Untung ada Om Beni yang menangani, tapi sekarang ia sudah meninggal."
Yoga berhenti menyuapi Tari kemudian menunduk. Sedih, itulah yang terlihat di wajah Yoga saat ini. Berbeda dengan Yoga, Tari malah terkejut tidak percaya.
"Tuan Beni meninggal?" tanyanya.
Yoga mengangguk lalu kembali menyuapi Tari. Namun suapannya tak disambut, Tari malah menunduk dan menangis.
"Hei, kenapa menangis? Jangan menangis!" pelan Yoga menghapus air mata di pipi Tari setelah mengangkat wajahnya.
"Aku berhutang budi banyak pada Tuan Beni." Katanya sambil sesenggukan.
"Hutang budi?" Tari mengangguk.
"Ia yang membantuku lari dari genggaman papih."
Kini yoga yang dibuat terkejut. "Jadi ia yang membawamu pergi?"
"Malam itu, Tuan Beni memintaku untuk segera pergi dari rumah itu. Awalnya aku takut, tapi ia meyakinkanku bahwa setelah ini aku akan hidup bahagia. Dan benar, aku hidup bahagia bersama keluarga kecilku tanpa bayang-bayang kalian. Ia menjamin di manapun aku berada, tidak akan ada yang bisa menemukanku."
"Benar, aku dan papa memang tidak pernah bisa menemukanmu. Bahkan orang-orang kami semua payah."
__ADS_1
"Terus, apa lagi yang terjadi?" Gadis itu sepertinya penasaran dengan kejadian beberapa tahun silam saat tidak ada dirinya.
"Aku menikah."