KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 43


__ADS_3

"Siang, Pa." sapa Yoga pada orang tua tunggalnya. Ia langsung duduk di samping sang papa.


"Baru pulang?" tanya sang papa sembari menyesap secangkir teh manis yang masih panas.


"Iya, Papa sekarang jarang pulang. Tidur dimana?" tanya Yoga tiba-tiba.


"Hmm, papa kan juga ada apartemen." kilahnya.


"Haeh ... Apartemen Papa kan lebih jauh jarak ke kantornya."


"Papa juga lebih sering keluar kota sekarang. Makannya kamu cepat lulus sekolah biar papa bisa istirahat, nggak perlu urus usaha papa lagi."


"Mau cepat-cepat gimana Pa? Nanti juga lulus."


"Kalau gini, nggak ada bedanya tinggal sama opa dan oma. Yoga tetap saja tinggal di rumah sendirian." keluhnya.


Pria muda itu mengutarakan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Yoga tak pernah merasakan lagi perhatian dari seorang ibu sejak berumur 3 tahun. Tinggal bersama kakek dan neneknya, mereka juga lebih sering mengurus usaha yang mereka jalani. Di Indonesia, sang papa juga demikian. Sebenarnya hatinya terasa kosong tanpa perhatian dari keluarga.


"Papa kapan nikah?"


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"Yoga pengen Papa segera pensiun dan tinggal di rumah bersama mama baru. Yoga pengen rasain perhatian seorang ibu." Yoga tertunduk.


Hatinya begitu sedih. Hampir 15 tahun hidup tanpa sang bunda. Pria muda itu benar-benar haus akan belai kasih sayang seorang ibu. Air matanya mulai menggenang. Wajah tampannya memerah karena menahan tangis. Begitu sulit hidup yang dia jalani. Terkadang, orang yang terlihat hidup berkecukupan dan begelimang harta, pada dasarnya mereka juga memiliki permasalahan hidup yang harus dilalui.


Tuan Anton menyadari kesedihan Yoga. Dia segera menarik Yoga ke dalam pelukannya. Isak tangis Yoga tak tertahan lagi. Dirinya menangis dalam dekapan sang papa. Tuan Anton merasa bo*doh. Keegoisan dirinya akan kebahagiaan dunia membuatnya melupakan Yoga, anak kandungnya. Pria itu merasa bersalah pada mendiang istrinya karena tidak bisa membahagiakan anak mereka.


"Maafkan papa yang tidak bisa membuatmu bahagia." lirih tuan Anton. Pria itu memeluk erat tubuh Yoga yang masih bergetar karena menangis.


****

__ADS_1


"Tatak, papih te mana?" (Kakak, papih ke mana?) tanya bocah kecil yang menggemaskan itu.


Adnan yang sedang bermain dengan kereta mainannya tiba-tiba menanyakan keberadaan Tuan Anton. Beberapa hari tinggal bersama membuat mereka semakin akrab dan terbiasa. Apa lagi Tuan Anton adalah pribadi yang menyenangkan dan penyayang. Tidak hanya dengan Tari, dia juga sangat menyayangi adik-adik dari gadis itu seperti anaknya sendiri.


Tari pun juga bertanya-tanya dalam benaknya. Sudah hampir malam tapi Tuan Anton belum pulang. Tari lupa bahwa rumah sang papi itu banyak. Dia bisa pulang ke


mana saja semua nya.


"Tatak!" (Kakak!) seru Adnan membuat Tari tersadar.


"Eh, mungkin masih kerja sayang." jawabnya sekena nya.


Adnan mengangguk kemudian kembali bermain. Bocah pintar itu lebih suka berlarut dalam hayalannya sendiri. Tari meraih ponsel di samping tempatnya duduk. Mencari nama Tuan Anton kemudian mengirim pesan padanya. Namun, ditunggu beberapa menit Tuannya itu tidak membalas pesannya.


Sudahlah. Mungkin sang papi memang benar-benar sibuk hari ini sampai lupa memberi kabar.


****


Tiba-tiba Yoga mendapatkan ide bagus. Dia menyerah dan akhirnya segera pergi mengambil mobilnya. Sedangkan Tari, dia bergegas keluar area sekolah dan masuk mobil yang sudah menunggunya.


"Huft," Tari menghela napas. Sebenarnya dia lelah karena hampir setiap hari Yoga memaksanya untuk mengantarnya pulang.


Mobil yang Tari naiki segera melaju memecah keramaian kota siang ini. Hari ini panas terik namun tetap saja jalanan masih ramai padat.


"Pesan online tapi mewah gitu?" Yoga berbicara sendiri dibalik kemudinya.


Yoga tengah membuntuti sahabatnya itu dari belakang. Inilah ide yang baru terpikirkan. Dia diam-diam mengikuti mobil mewah yang dinaiki oleh Tari. Dengan begini, Yoga pasti akan mengetahui dimana rumah baru Tari.


Dua mobil itu memasuki area perumahan mewah. Yoga berdecak kagum. Sahabatnya itu rupanya menempati salah satu unit elite di perumahan itu. Dengan perlahan mobil Yoga mengikuti ke mana saja jalannya mobil yang di depannya. Hingga mobil Tari memasuki sebuah pekarangan rumah mewah dengan taman bermain di halamannya. Yoga menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan depan rumah Tari.


Dengan tidak membuka kaca mobilnya, ia melihat Tari yang keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"Siapa keluarga Tari sebenarnya? Kenapa tiba-tiba Tari bisa menempati rumah semewah ini?"


Dengan banyak pertanyaan di pikirannya, Yoga melajukan mobil nya dan pergi dari tempat itu. Yoga melihat jam di ponselnya. Sore ini dia ada janji temu dengan klien papa nya di kantor. Ia tidak boleh terlambat karena klien itu sangat penting. Sampai di depan gerbang masuk, Yoga tidak sengaja berpapasan dengan mobil yang tidak asing menurutnya. Namun, laki-laki itu tak menghiraukannya dan segera keluar dari area perumahan itu.


****


"Papih ...." Adnan berteriak gembira. Sang papi yang dicarinya beberapa hari yang lalu akhirnya datang juga.


Adnan segera berlari meninggalkan mainan nya yang berserak di lantai menghampiri Tuan Anton yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Astaga jagoan papi," Tuan Anton merenggangkan tangannya kemudian membopong bocah kecil itu.


"Papih, atu lindu." (Papih, aku rindu.) ucapnya dengan wajah yang begitu menggemaskan.


"Kamu rindu, papi?" Adnan mengangguk.


"Papi juga rindu kamu sayang." Tuan Anton mengecupi kedua pipi Adnan.


"Papih ... Hahaha ...." Adnan tertawa geli karena terkena rambut halus di wajah sang papi.


"Ke mana kakak-kakak kamu, sayang?" tanya Tuan Anton setelah menghentikan kecupannya.


"Tatak di tamar." (Kakak di kamar.) jawabnya.


"Kak Tari?"


Adnan mengangguk. "Ya sudah, Adnan main dulu ya sama Mbak." ucapnya kemudian menurunkan Adnan. Bocah kecil itu langsung berlari menghampiri mainannya dan sang pengasuh kembali.


Sedangkan Tuan Anton tersenyum dan pergi mencari gadis kesayangannya di kamar. Dia benar-benar merindukan gadisnya. Tuan Anton merasa bersalah pada sang gadis karena beberapa hari ini mengabaikannya. Bahkan pesan Tari pun tidak ia balas.


"Sayang!" Tuan Anton langsung membuka pintu kamar Tari yang ternyata tidak dikunci kemudian menutupnya kembali.

__ADS_1


"Ah, Papih!"


__ADS_2