KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 47


__ADS_3

"Ah, iya. Aku ingat sekarang. Kamu yang bawa Ana pergi dan aku kena amukan tuanku." Tiba-tiba Mami Mira menjadi kesal.


"Maksudnya?" tanya Yoga kebingungan.


"Iya. Gara-gara kamu bawa pergi Ana, aku jadi sasaran kemarahan Tuan Anton." Mami Mira mendengus kesal.


"Tuan Anton?"


"Iya, Tuan Anton pemilik klub malam ini. Ana adalah gadis tuanku dan tidak boleh ada yang menyentuhnya." jelas Mami Mira.


Yoga terdiam. Lubuk hatinya mulai sakit seperti tercubit. Pria muda itu menunduk lesu mendengar kenyataan yang baru saja ia dengar. Ana, gadis itu ternyata adalah simpanan sang papa.


"Kamu jadi mau gimana? Jadi menyewa gadis untuk menyanyi bersamamu? Aku beri kamu paket VIP dengan diskon karena kamu sangat tampan. Aku juga akan akan memilihkan yang tercantik di sini selain Ana."


"Tidak, terimakasih. Saya harus pergi sekarang." Tanpa berbasa-basi, Yoga langsung bangkit dan pergi dari ruangan itu.


Yoga berjalan membelah kerumunan yang sedang menari lepas menuju pintu keluar. Tak ada semangat seperti saat ia memasuki klub itu tadi. Benar, Ana adalah gadis yang bekerja di klub malam dan sudah sewajarnya dia menjadi teman malam para lelaki kesepian seperti papa nya. Tapi kenapa harus sang papa?


Yoga masuk ke dalam mobil dan langsung menjatuhkan punggung nya ke senderan kursi. Dia patah sebelum tinggi menjulang. Hatinya layu sebelum mekar. Tak masalah jika Ana adalah gadis simpanan, dia sudah berjanji dalam benaknya akan mementaskan Ana dari jurang kemaksiatan itu. Tapi kenapa harus papa nya?


"Aaggrh ...." Yoga memukul keras.


Yoga tidak menyangka hati nya akan sesakit ini. Harus bagaimana dia sekarang? Yoga tidak tau harus melakukan apa saat ini. Pikirannya benar-benar kalut. Haruskah dia meminta papa nya untuk melepaskan Ana? Atau meminta Ana untuk lepas dari sisi papa nya? Ah, keberadaan gadis itu saja dia tidak tahu.


Yoga kembali memukul setir mobilnya berkali-kali untuk melampiaskan kekesalannya. Air matanya mulai menggenang dan menetes. Kenyataan bahwa Ana memiliki hubungan dengan orangtua nya membuat hatinya tersayat. Haruskah dirinya menyerah dan mengubur dalam rasa cintanya pada Ana yang baru saja bertunas itu?


****


Pagi hari, Yoga berjalan di koridor sekolah dengan gontai. Kenyataan bahwa Ana gadis yang disukai nya memiliki hubungan spesial dengan papa nya membuatnya tak bersemangat. Tari, dia berjalan tepat di belakang Yoga. Dia mengikuti langkah Yoga yang berjalan dengan pelan. Tari ingin menyapa, namun ia urung kan karena sepertinya sahabatnya itu sedang murung.


Ada apa dengan Yoga dua hari ini? Sikapnya sungguh sulit ditebak. Sudah seperti papa nya saja. Ah, kenapa Tari jadi selalu mengingat pria mesum itu? Bahkan saat melihat Yoga pun ia langsung ingat pria itu.

__ADS_1


"Aduh!" pekik Tari.


"Kamu ngapain?" tanya Yoga pada Tari yang tengah mengusap dahinya yang terasa sakit.


"Kamu ngapain berhenti nggak bilang-bilang?" balas Tari kesal.


"Aku nggak tahu kalau kamu di belakangku,"


"Lagian aku juga mau belok, Tar. Sudah sampai depan kelas ini." imbuh Yoga sembari menunjuk ke dalam kelas.


Benar, mereka berdua memang sudah berada di depan kelas. Tari memang melamun sambil berjalan hingga tidak sadar jika Yoga membelokkan langkah nya untuk masuk ke kelas dan dia menabrak tubuh Yoga. Tari langsung masuk melewati Yoga tanpa mengucapkan apapun.


Yoga pun mengikuti Tari masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. Keduanya saling diam. Tari yang sibuk menyiapkan buku pelajaran dan Yoga yang hanya melihat beberapa siswa yang asyik bersenda gurau. Entahlah, dia sedang tidak ingin mengganggu Tari saat ini. Jika melihat Tari, dia akan kembali mengingat Ana yang seperti bulan. Dapat dilihat namun tak terjangkau.


"Huft," Yoga menghela napas lelah.


'Tari-Ana-Tari-Ana ....' Dua nama itu terus berputar dalam pikirannya.


Pandangan Yoga beralih ke depan kelas yang memperlihatkan para siswa dari kelas lain sedang merayu Sarah. Pemandangan yang setiap hari selalu menjadi tontonan umum. Sungguh tidak menarik. Yoga menoleh sekilas ke arah Tari kemudian dia merogoh ponselnya.


Hatinya kembali tercubit kala melihat layar ponselnya yang memperlihatkan foto gadis yang ia cintai. Ana. Yoga mengelus pelan layar ponselnya seakan ia sedang menyentuh wajah Ana. Sungguh miris, pertama kali mencinta dan harus kandas sebelum mengungkapkan rasa. Tunggu! Ada yang janggal.


Laki-laki itu segera membuka galeri fotonya. Ia mencari foto Ana yang sama dengan foto yang dijadikan wallpaper ponselnya. Setelah menemukannya, Yoga segera memperbesar foto itu. Ia memfokuskan pada jemari Ana kemudian ia melihat kembali jari Tari yang berada di atas meja.


Cincin itu, cincin yang dipakai Tari dan Ana juga sama. Yoga kembali memperjelas penglihatan nya di foto Ana dan juga jari Tari. Tidak ada yang salah dengan matanya. Cincin mereka memang sama. Atau, jangan-jangan ....


****


"Hari ini papih nggak pulang ke sini lagi. Atau papi memang benar-benar tidak akan tinggal di sini lagi? Apa aku sudah keterlaluan ya?" Tari berbicara pada dirinya sendiri.


Gadis itu mulai gelisah. Sudah beberapa hari Tuan Anton tidak datang ke rumah itu. Tari merasa aman namun ia juga takut jika papi nya benar-benar pergi. Gadis itu tidak tahu jika Tuan Anton sedang pergi ke luar kota untuk keperluan bisnis. Tari sadar, sehari saja tidak melihat pria itu membuat hati nya tidak tenang. Terlepas dengan kejadian waktu itu, Tari tetap mengkhawatirkan sang papi.

__ADS_1


Tari yang saat ini sedang berbaring di kamar segera bangun dan meraih ponselnya di nakas. Dia mencari nama sang papi kemudian menelponnya. Beberapa kali ditekan, tidak ada respon sama sekali dari sang papi. Membuat gadis itu semakin khawatir jika Tuan Anton benar-benar tidak akan menemuinya.


"Halo?"


"Ha-halo, Pih." Tari terkejut saat Tuan Anton mengangkat telponnya.


"Ya, sayang. Ada apa?"


Tari malah terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Dirinya malu untuk memulai percakapan antara mereka. Pasalnya, dia lah yang takut dan menghindari Tuan Anton.


"Sayang?"


"I-iya, Pih. A-apa Papih tidak pulang hari ini?" tanya Tari gugup.


"Papi boleh pulang?"


Tari mengangguk sebagai jawaban. Biar bagaimanapun, Tuan Anton orang penting dalam hidupnya. Anggap saja perbuatan sang papi di waktu yang lalu adalah khilaf semata. Dan dia yakin bahwa Tuan Anton tidak akan mengulanginya lagi.


"Halo, sayang?"


"Iya?"


"Papi sudah boleh pulang ke rumah?"


"Kan, Tari sudah mengangguk." jelas Tari.


"Astaga, sayang! Apa Papi bisa lihat anggukan kamu?" Tuan Anton tergelak.


Tari juga ikut tertawa merasa lucu dengan tingkahnya sendiri.


"Dengar kamu tertawa gitu saja Papi sudah sangat bahagia, sayang. Papi sangat merindukanmu."

__ADS_1


__ADS_2