KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 74


__ADS_3

"Kamu beli makanan sendiri?"


"Aku udah terlanjur pesan sebelum tau kamu udah beli makanan."


Yoga mendesah kecewa. Ia mengamati Tari yang membuka bungkusan makanannya. Cap cay kuah yang masih mengepulkan asap. Masih panas dan tentunya sangat menggugah selera.


"Terus, gimana ini semua makanannya, Tar?"


"Kamu makan aja sendiri."


"Jahat banget kamu! Mana bisa aku habisin ini semua sendirian?"


"Lagian siapa suruh beli banyak!" kata Tari sambil meniup kuah cap cay yang disendoknya.


Yoga hanya mengamati apa yang dilakukan Tari. Matanya tertuju pada satu titik, yaitu benda tipis merah muda yang tengah mengeluarkan udara untuk mendinginkan kuah cap cay. Astaga, ia jadi gemas melihat bibir Tari. Teringat kembali saat ciuman pertama mereka. Iya, saat itu juga ciuman pertama Yoga. Ah ... ingin sekali pria itu mengulang saat itu.


"Kamu ngapain liatin aku kayak gitu?" tanya Tari saat mengetahui Yoga menatapnya dengan tatapan aneh.


"Ah, enggak." Yoga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya udah, makan gih! Aku mau makan ini aja." Yoga mengambil nasi goreng.


"Terus yang lain?" tanya Tari.


"Buang aja." Jawab Yoga enteng.


"Mubazir tau!"


"Terus gimana? Kamu mau makan ini? Nggak kan? Perutmu aja kecil gitu, mana muat Tar."


"Kecil-kecil gini dalamnya isi karung yang bisa nampung banyak makanan."


Yoga tertawa lepas. "Kamu bisa aja, Tar. Kalau gitu habis makan cap cay, ini semua habisin ya!"


"Ya deh, dari pada menyia-nyiakan makanan yang udah dibeli. Di luaran sana masih banyak orang-orang yang nggak bisa makan." Tari kembali menyuap cap cay kuah di mulutnya.


Yoga tersenyum. Satu hal yang tidak berubah dari gadis itu, ia masih tetap baik sampai sekarang.


****

__ADS_1


"Kenyang banget nggak sih?"


Yoga dan Tari masih setia duduk di ruang tamu. Makanan yang begitu banyak, nyatanya tak muat di perut Tari. Akhirnya, Yoga membantu Tari untuk menghabiskan makanan yang ia beli. Kini, mereka yang sedang kekenyangan tak mampu lagi bergerak dan memilih tetap di tempatnya.


"Banget," jawab Tari singkat.


"Kenapa nggak disimpan di kulkas aja?" Tambah gadis itu.


"Loh, iya. Kenapa kita habisin itu semua makanan? Maruk banget, hahaha ...."


Keduanya tertawa bersama. Menertawakan kebo*dohan mereka yang tidak bisa berpikir jernih saat perut sedang lapar.


"Apa kesibukanmu sekarang, Tar?" tanya Yoga.


"Nggak ada. Aku cuma bantu ibu jaga warung dan sekarang jagain ibu karena sakit." Jawab Tari.


"Tenang! Kalau peralatan di rumah sakit itu tidak memadai, aku akan bawa Bu Mae ke rumah sakit ibukota atau ke luar negeri sekalian biar cepet sembuh."


"Nggak perlu ke manapun ibu pasti sembuh." Raut wajah Tari berubah. Ia begitu sedih jika mengingat keadaan Bu Mae.


"Iya kamu benar, Bu Mae pasti sembuh."


Tiba-tiba ponsel Tari berdering. Nama dan foto Gajendra terpampang di layar. Tari segera mengangkatnya, takut-takut kalau ada informasi penting. Takut kalau tidak mendengar suara Gajendra, Tari mengeraskan suara panggilannya.


"Halo!"


"Halo, Tar! Kapan pulang?"


"Besok, ada apa?"


"Ada hal penting yang kamu harus tau."


"Ada apa?" Wajah Tari menegang. Ucapan Gajendra membuatnya sangat penasaran. Ia takut ada hal buruk yang terjadi. Yoga pun terlihat menegakkan duduknya dan ikut mendengar.


"Cepetan ngomongnya, Gaje!" Gadis itu tidak sabaran karena Gajendra malah diam.


"Cepet pulang! Aku udah kangen banget sama kamu, Tar. Nggak liat kamu sehari aja rasanya udah seabad."


"Dih, kamu nggak jelas. Nggak ketemu nggak ditelpon selalu nggak jelas!" Tari mendengus kesal. Kenapa ia lupa bahwa pria yang menelponnya itu adalah orang yang menyebalkan?

__ADS_1


"Jelas-jelas aku kangen kamu, Tar. Hati-hati ya besok pulangnya! Kalau udah sampai terminal kota, langsung kabari aku biar langsung aku jemput."


Yoga, ia diam melihat gadis di hadapannya. Ia pikir, gadis itu pasti sudah memiliki kekasih. Ya, benar! Mana mungkin gadis secantik Tari tidak memiliki kekasih. Bahkan ia pun mampu membuat seorang bapak dan anaknya bertekuk lutut padanya. Sungguh, meski rasa itu masih ada, ia bahagia jika gadis itu bahagia walaupun tidak dengannya.


****


Tengah malam, Tari terbangun karena perutnya mulas. Terlalu banyak makan pedas membuat pencernaannya bereaksi. Perutnya tiba-tiba mulas dan ingin segera ke kamar mandi. Gadis itu keluar kamar dan langsung ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Tari keluar dengan kelegaan di wajahnya. Seperti sebuah beban berat baru saja terhempas lepas. Saat hendak kembali masuk kamar, Tari melihat Yoga yang tidur di atas kursi tanpa bantal dan juga selimut. Satu tangan ia gunakan sebagai bantalan dan satu lagi berada di atas perutnya. Tari mendekat, melihat lebih jelas wajah tampan Yoga saat sedang tidur. Ah, bahkan saat terpejam pun pria itu masih tetap tampan. Dengan bulu-bulu tipis yang rapi di wajahnya, pria itu membuat siapa saja yang melihatnya langsung terpana.


Dingin mulai menyeruak, Tari membangunkan Yoga untuk pindah tidur di kamar. Ada tiga kamar di rumah itu. Dan semuanya masih bisa ditempati.


"Ga, bangun! Ayo pindah ke dalam, di sini dingin." Kata Tari sambil menggoyang pelan bahu Yoga. Pria itu bergeming. Hanya dengkuran halus yang terdengar.


"Ga ...." Panggil Tari lagi. Mungkin karena lelah, Yoga benar-benar tidur pulas.


Akhirnya Tari berinisiatif mengambil bantal dan selimut dari kamarnya. Ia mencoba mengangkat kepala Yoga perlahan untuk menaruh bantal di bawahnya. Setelah bantal itu memerankan tugasnya, kini Tari melebarkan selimut dan menyelimuti Yoga.


Tari kembali memandangi wajah Yoga. Rasa enam tahun yang lalu nyatanya masih ada. Gadis itu memang mencoba melupakannya, tapi nyatanya setitik cinta kembali mencuat dalam dada. Andai, ia tidak takut masa lalunya terulang kembali ....


****


Yoga, pagi itu ia bangun lebih awal. Tidur di kursi membuat punggungnya terasa sakit saat bangun tidur. Ia langsung membersihkan diri di kamar mandi. Hanya cuci muka, kaki dan tangan karena tidak membawa pakaian ganti. Sebenarnya bisa saja ia meminta seseorang untuk membawakannya, tapi entahlah kenapa ia tidak berpikiran seperti itu.


Setelah selesai, Yoga membangunkan Tari. Pagi ini ia akan mengajaknya mencari sarapan di luar. Sekalian membawanya pulang ke rumah. Ada seseorang yang harus Tari temui sebelum kembali.


Tok tok ....


"Tar, kamu udah bangun?" Yoga mengetuk pintu kamar Tari.


Sekali lagi, Yoga mengetuk pintu. Tak ada jawaban, Yoga mencoba menarik handle dan terbuka.


"Ceroboh banget, anak gadis tidur nggak dikunci kamarnya."


"Astaga, jam segini masih pulas. Anak gadis jaman sekarang emang ya ...." Mulutnya sudah seperti ibu-ibu yang mengomel di pagi hari.


Yoga melihat Tari yang masih tidur pulas dibalik selimut. Hanya sebatas leher ke atas yang tidak tertutup selimut. Cantik. Gadis itu memang cantik natural. Siapa yang tak akan terpesona dengan wajah cantik alami seorang Tari?


Cup

__ADS_1


Sebuah kecupan hangat di pagi hari berhasil mendarat di kening Tari. Yoga benar-benar tidak bisa menahannya. Setelah beberapa menit memandangi gadis itu ia langsung mendekat dan mengecup kening Tari.


__ADS_2