
"Apa Dok? Ibu saya kena kanker?"
Tari sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Setelah hasil sampel darah keluar, Tari diminta menemui dokter yang menangani Bu Mae di ruangnya. Dada Tari bergemuruh. Sakit yang diderita ibunya tidak main-main. Kanker, penyakit mematikan yang persentase sembuhnya sangat rendah. Ia tidak bisa membayangkan jika nanti terjadi sesuatu pada ibunya.
"Gejala yang dialami Bu Mae mengarah ke sana. Setelah ini Bu Mae akan diperiksa lebih lanjut."
"Dari semalam, kenapa diperiksa lebih lanjut terus, Dok? Kenapa nggak sekalian aja periksa nya? Biar nggak makan waktu banyak." Tari mulai kesal. Penanganan di rumah sakit ini dirasanya sangat lamban. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia ingin segera tahu sakit apa yang diderita ibunya. Kenapa bertele-tele seperti ini? Apa semua rumah sakit memang seperti ini?
"Tenang, Mbak. Kita akan berusaha untuk secepat mungkin menangani Bu Mae," ucap dokter tersebut yang terdengar santai.
Tidak ingin menambah kesal lagi, Tari pamit untuk pergi dari ruangan itu. Ini rumah sakit paling besar di kota itu. Semoga setelah ini para dokter bisa bertindak lebih cepat lagi.
Tari tidak langsung masuk ke dalam ruangan ibunya. Ia malah duduk di kursi taman. Melihat beberapa pasien dan orang-orang yang sedang berjemur atau sedang jalan-jalan. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Jika benar ibunya sakit parah, ia harus bagaimana?
"Kak,"
Tari yang mendengar ada yang memanggil, langsung menoleh ke sumber suara. Farhan, sudah ada persis di belakangnya.
"Ibu mau dibawa dokter buat pemeriksaan lanjutan," ucap Farhan. Tari mengangguk. Ia kemudian berdiri dan berjalan bersama Farhan kembali ke ruangan ibunya.
****
Farhan dan Tari duduk di kursi tunggu sebuah ruangan. Beberapa macam pemeriksaan telah dilakukan. Namun, tidak semua tes dapat dilakukan hari ini. Mengingat keadaan Bu Mae yang harus lebih banyak beristirahat. Farhan dan Tari sedang menunggu ibunya yang sedang menjalani tes di dalam.
Diam. Tak ada yang saling bicara. Farhan dan Tari mungkin sedang terhanyut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba ponsel Tari berdering. Ia segera merogoh sakunya dan mengangkat telepon.
"Ya, Je. Ada apa?"
"Ini lagi diperiksa."
__ADS_1
"Iya, kesini aja. Nanti aku chat nomor ruangannya." Tari menutup teleponnya. Gajendra menelepon untuk bertanya keadaan Bu Mae padanya. Ia juga akan datang menjenguk.
***
Sore menjelang, Tari terlihat sangat lesu setelah keluar dari sebuah ruangan. Gajendra yang sedari tadi menunggu di luar, langsung berdiri menyambutnya.
"Gimana, Tar?" tanya Gajendra.
"Dokter bilang ada sel kanker di lambung ibu."
"Apa? Kanker?" Gajendra terkejut.
"Besok ibu akan diperiksa lagi biar tau langkah selanjutnya," jelas Tari lagi.
Gajendra menghela napas pelan. Ia merasa simpati dengan apa yang menimpa keluarga Tari. Semoga saja Bu Mae segera pulih kembali.
"Hei," pekik Tari pelan. Ia langsung melepaskan pelukan sahabatnya
"Kenapa sih? Aku cuma mau buat kamu tenang." Pria itu kembali memeluk Tari.
Tari kembali mendorongnya. "Modus kamu!" Gadis itu langsung pergi dari tempat itu.
"Hei, kebiasaan ninggalin gitu aja. Nanti kalau kamu yang aku tinggalin baru nyesel kamu."
"Enggak akan!" Tari kesal. Bisa-bisanya disaat seperti ini pria muda itu bercanda demikian. Benar-benar pria konyol.
Tari membuka pintu ruangan Bu Mae dan berjalan masuk dengan pelan. Ia harus melewati seorang pasien dan keluarganya yang juga menghuni ruangan tersebut. Tari dan Gajendra berjalan sedikit membungkuk sambil meluruskan tangan ke bawah agak ke depan dan mengatakan permisi saat melewati mereka. Sebuah etika berjalan oleh masyarakat sekitar. Bertujuan untuk menghormati orang yang baru saja kita lewati.
"Gimana, Kak?" pertanyaan pertama yang Farhan lontarkan pada kakaknya.
__ADS_1
Tari diam. Farhan bisa melihat kesedihan di wajah kakaknya. Ia yakin Tari membawa berita bahwa wanita yang berbaring di tempat tidur sambil mengamati mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Han, kita keluar bentar, yuk!" Gajendra angkat suara. Dengan isyarat, sahabat Tari tersebut meminta Farhan untuk mengikutinya.
Awalnya Farhan enggan, karena dia ingin mendengar jawaban Tari atas pertanyaannya. Namun, sekali lagi Gajendra memberi isyarat untuk mengikutinya. Akhirnya Farhan dan Gajendra keluar meninggalkan Tari dan Bu Mae.
"Kenapa, Bang?" tanya Farhan setelah mereka berada di luar.
"Ibu menderita kanker lambung. Aku belum tau pasti stadium berapa, yang jelas ibu harus cepat mendapatkan penanganan." jelas Gajendra.
Napasnya berat saat mengatakannya pada Farhan. Mungkin ini yang dirasakan Tari barusan. Gadis itu tak kuasa memberitahu adik dan ibunya tentang kondisi sang ibu saat ini.
Farhan mulai lemas, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang samping pintu. Penyakit kanker itu sangat mematikan. Kepalanya mulai pusing. Dipijatnya pangkal hidung, berharap pusingnya mereda. Namun, entahlah. Pijatannya tak mampu meredakan pusing yang tiba-tiba menyerang. Memikirkan nasib ibunya yang entah bagaimana nanti jadinya.
"Aku harus gimana, Bang?"
Gajendra berdecak. "Ya diobati lah! Masak iya kamu diemin ibu seperti itu."
"Masalahnya kita nggak ada banyak uang, Bang. Pengobatan kanker itu pasti mahal."
"Pasti ada jalan. Kamu yang sabar aja, aku yakin kakakmu juga akan memikirkannya. Yang penting ibu bisa sembuh. Kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama."
Farhan mengangguk. Bukan hanya keadaan ibu yang ia khawatirkan, tapi biaya rumah sakit yang pastinya tidak sedikit. Ia tahu keadaan keluarganya. Meski selama ini tidak pernah kekurangan, ia yakin kakaknya juga tidak menyimpan banyak tabungan.
"Jangan khawatir, ibu pasti segera pulang." Gajendra menepuk pelan bahu Farhan kemudian masuk kembali ke dalam ruangan.
***
"Bagaimana? Apa masih belum dapat informasi lagi?"
__ADS_1