KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 62


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?"


Suara Bariton terdengar keras dari arah pintu masuk. Yoga dan Tari pun langsung melepas tautan mereka dan menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat siapa pemilik suara tersebut. Seorang pria tampan berbadan tegap dan sedang berkacak pinggang memperhatikan mereka. Matanya memandang tajam dengan sinis Yoga dan Tari. Aura kemarahan begitu terasa di ruangan tersebut.


"Papa!" lirih Yoga. Matanya membulat karena terkejut.


"Papih!" Tari pun tak kalah terkejutnya.


Sang penguasa pertambangan batu bara tersebut tengah memergoki anaknya bercumbu mesra dengan gadis pujaannya. Apa lagi kalau tidak marah dan sakit hati yang ia rasakan? Tuan Anton langsung mendekat dengan langkah besarnya kemudian menarik Tari menjauh dari Yoga.


"Ah," pekik gadis tersebut kala tubuhnya terhempas dari duduknya.


Tuan Anton menarik paksa lengan sang gadis agar menjauh dari Yoga. Pria yang sedang di selimuti amarah itu pun langsung menampar Tari. Gadis itu kembali terhempas dan jatuh tersungkur ke lantai.


"Papa!" teriak Yoga tak percaya. Sang papa yang dikenalnya tak pernah menyakiti wanita, baru saja menampar gadis yang ia gadang sebagai cintanya.


Sedetik kemudian, Yoga langsung mendekati Tari dan membantunya berdiri. Dilihatnya Tari hanya terpejam sambil memegang bagian wajahnya yang baru saja ditampar oleh Tuan Anton. Tubuhnya bergetar dan bulir air di matanya mulai menggenang.


"Papa keterlaluan!" geram Yoga.


Yoga menatap tajam sang papa yang juga sedang menahan amarahnya.


"Lepaskan dia, Yoga!" titah sang papa.


"Tidak! Aku tidak akan melepasnya setelah apa yang aku lihat barusan, Pa."


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Yoga pada Tari dengan lembut. Ia mencoba menjauhkan tangan Tari yang digunakan untuk menutupi pipinya.


Mata Yoga membulat ketika melihat darah di ujung bibir Tari. Dia menoleh ke arah papanya yang juga terlihat syok saat melihat keadaan Tari. Baru kali ini dirinya menyakiti sang gadis hingga berdarah.


"Lihat apa yang Papa perbuat? Tadinya aku memang mau merestui hubungan kalian, tapi sepertinya aku nggak yakin Tari bisa aman bersama Papa,"


Tuan Anton tersenyum sinis. "Lihat apa yang kamu perbuat, Yoga!"


"Apa maksud Papa?"


"Ini akibat karena kamu menyentuhnya,"


"Sekali lagi kamu menyentuhnya, maka bukan kamu yang akan ku sakiti." tukas sang papa kemudian membawa Tari pergi dari tempat tersebut.


Yoga langsung terdiam, ia mengerti apa yang dikatakan oleh sang papa. Laki-laki itu hanya bisa melepas kepergian sang papa dan Tari. Yoga langsung jatuh lemas di sofanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


****

__ADS_1


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya Beni yang kini tengah duduk di balik kemudi.


"Terserah kamu, bawa kami jauh dari kota ini!" jawab tuan Anton yang terlihat sedang memijit kedua pelipisnya.


Emosi yang menguasai diri sepertinya membuat kepalanya terasa penuh. Bahkan pria itu pun mengabaikan Tari yang kini hanya diam ketakutan di sampingnya. Dia kira hubungan Yoga dan gadisnya hanya sebatas saling menyukai, tapi nyatanya mereka sudah melakukan hal lebih. Mengingat mereka yang terlihat saling menikmati saat berci*uman tadi membuatnya kembali geram. Tuan Anton sudah tidak sabar lagi. Ia harus segera memiliki Tari seutuhnya.


"Kau cepat sedikit, Ben!" Tuan Anton mulai kesal karena mobil yang ditumpanginya berjalan lambat.


"Baik, Tuan. Saya hanya bingung Anda mau dibawa ke mana?"


"Yang jauh! Tempat di mana kita tidak bisa ditemukan."


Meskipun bingung mau ke mana, Beni tetap mengangguk menuruti permintaan atasannya. Ia berpikir untuk membawa Tuan Anton dan gadisnya ke rumah baru di pedesaan waktu itu. Tempat yang nyaman dan asri. Mungkin saja tuannya itu bisa teredam amarahnya.


Beberapa jam kemudian, mereka sudah tiba di sebuah rumah dengan beberapa jenis bunga bermekaran di halamannya. Meski hari sudah menjelang sore, tapi tidak menghalangi keindahan bunga-bunga tersebut. Beni mematikan mesin mobilnya dan segera keluar dari mobil. Ia membukakan pintu untuk tuannya dan juga untuk gadis kesayangan Tuan Anton. Namun, Tari hanya diam menunduk dan tak mau keluar. Tidak menangis, hanya terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


"Biar aku saja, Ben!" Mendengar itu, Beni langsung bergeser memberi tempat untuk Tuan Anton.


Melihat gadisnya yang hanya diam tak mau bergerak membuat pria itu menghela napas.


"Keluarlah! Jangan sampai Papi berbuat yang tidak-tidak!"


Ada apa dengan Tuan Anton hari ini? Tak ada kelembutan sama sekali. Hawa dingin juga menyelimuti pria itu. Karena Tari tak juga beranjak dari duduknya, Tuan Anton terpaksa menarik Tari agar keluar dari mobil. Sedangkan Tari, gadis itu hanya menurut tanpa mengucap sepatah katapun. Darah di bibirnya terlihat sudah mengering dan kulitnya membiru di sekitarnya. Tamparan yang Tuan Anton layangkan membuat bekas di wajah ayu sang gadis bahkan mungkin juga membekas di hati gadis itu.


"Kenapa kamu diam saja?" Tari masih diam tak mau menjawab.


"Apa Papi keterlaluan? Lelaki mana yang tidak akan marah jika gadis yang dicintainya bermesraan dengan lelaki lain? Bahkan Yoga juga pernah melakukan itu." Seakan Tuan Anton berbicara sendiri. Tak ada tanggapan sama sekali dari lawan bicaranya.


"Malam ini, kamu tidur di sini bersama Papi. Kita pulang lusa!" Sekali lagi Tari masih membisu.


Kesal, Tuan Anton menarik wajah Tari agar melihatnya. Pria itu terkejut dengan hasil perbuatannya. Pipi yang terdapat bekas telapak tangan, ujung bibir yang berdarah dan membiru. Seberapa kuat dirinya melayangkan tangannya tadi? Dia pikir gadis itu hanya terluka kecil.


"Sayang, jawab Papi! Apakah sakit?" Tuan Anton melembutkan suaranya. Pria itu mencoba menyentuh ujung bibir Tari.


"Sshh," Gadis itu mendesis. Luka yang ada di ujung bibir terasa perih saat disentuh.


"Maaf," Sesalnya.


Tuan Anton tak menyangka akan separah itu. Kenapa sekarang ia tidak bisa mengontrol emosinya? Apalagi dirinya sampai menyakiti sang gadis. Pria itu sangat menyesal sekarang.


"Kita ke dokter sekarang," ucap pria itu lalu merogoh ponselnya. Tuan Anton mencoba menghubungi Beni agar segera menyiapkan mobilnya.


"Pih," tahan Tari.

__ADS_1


"Nggak usah, nggak perlu ke dokter. Tari baik-baik aja." imbuhnya.


"Ya udah, Papi bersihin luka kamu ya!"


Tanpa persetujuan Tari, Tuan Anton langsung keluar kamar untuk mencari alat P3K dan juga alat untuk mengompres luka gadisnya. Setelah mendapatkan semua yang ia butuhkan, Tuan Anton kembali lagi ke kamar tempat Tari berada. Pertama, Tuan Anton membersihkan ujung bibir Tari agar darahnya yang mengering hilang. Tari meringis ketika Tuan Anton menyentuhnya.


"Tahan sebentar ya, Sayang!" kata Tuan Anton sembari mengoleskan salep anti memar di area yang membiru.


Setelah selesai, Tuan Anton mengajak Tari untuk makan. Namun, gadis itu menolak. Dia bilang masih kenyang dan tidak ingin makan. Tuan Anton menurut, dia tidak memaksa kehendaknya. Pria itu meminta sang gadis untuk berganti pakaian dan beristirahat. Sedangkan Tuan Anton keluar kamar untuk menemui Beni.


****


Malam tiba, Tuan Anton kembali ke dalam kamar untuk melihat sang gadis. Didekatinya ranjang berisi seorang gadis yang dicintainya tersebut. Dipandangnya wajah Tari yang terpejam. Bekas memar di pipinya belum hilang, malah semakin terlihat. Matanya sayu menatap wajah ayu yang kini ada jejak tangannya. Sebo*doh itu dirinya hingga tega menyakiti gadis pujaannya. Penyesalan selalu datang di akhir cerita. Tuan Anton menyesal sudah menyakiti gadisnya, lagi.


Satu kecupan mendarat mulus di kening Tari. Sesaat mata pria itu terpejam. Menyalurkan penyesalan yang mendalam. Ia tidak bisa menepati janjinya untuk tidak menyakiti Tari lagi. Tuhan, semoga tidak terulang lagi. Setelah melepas kecupannya, Tuan Anton ikut berbaring di atas ranjang bersama gadisnya. Memeluknya dari belakang dan ikut terpejam.


Pagi menjelang, sinar mentari menembus gorden yang menutup jendela. Tuan Anton memicingkan matanya ketika cahaya tersebut mengganggu tidurnya. Pukul tujuh, angka yang ditunjukkan oleh jam dinding di kamar tersebut. Ah, terserah mau pukul berapapun. Pria itu hanya ingin tidur kembali bersama sang gadis pujaannya.


Saat hendak memeluk sang gadis, Tuan Anton terkejut karena gadisnya tidak berada di sampingnya. Tuan Anton terduduk dan melihat ke sekeliling, gadis itu tidak terlihat. Lantas ia bangun dan mengecek ke kamar mandi, tidak ada juga. Pria itu langsung mengambil ponsel di atas nakas untuk menelpon Beni. Namun, matanya tak sengaja melihat sesuatu di samping ponselnya. Secarik kertas dan sebuah cincin dengan berlian kecil di atasnya.


"Papih, maaf karena selama ini Tari selalu menyusahkan. Maaf karena selalu membuat marah dan maaf karena tidak bisa menjadi apa yang Papih inginkan. Terimakasih untuk kebaikan yang Papih berikan selama ini. Tari pamit, Tari nggak bisa nemenin Papih lagi. Jaga diri Papih baik-baik."


Untuk sesaat, Tuan Anton tidak bisa mencerna kalimat-kalimat yang tertulis di kertas tersebut. Pria itu kembali membacanya beberapa kali. Hingga kemudian, ia meremas kertas tersebut memandangi cincin yang ada di tangannya. Sebuah cincin yang pernah ia berikan pada Tari sebagai bentuk rasa cintanya pada gadis itu.


Merasa tidak percaya, Tuan Anton mencari Tari ke setiap sudut rumah. Membuka semua pintu agar gadis itu dapat terlihat. Amarah, khawatir, dan takut kini bercampur menjadi satu. Kepanikannya membuat pria itu tidak bisa berpikir jernih. Ia mengobrak-abrik segala isi di rumah tersebut untuk menyalurkan perasaannya. Hingga akhirnya ia merasa lelah dan duduk di sebuah sofa. Ia menyadarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Mencoba berpikir kembali.


"Kemana kamu Sayang?" Lirih pria tersebut.


Tuan Anton segera mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar dan menelpon Beni untuk mengecek keberadaan sang gadis. Bo*dohnya dia semalam menyuruh Beni untuk pulang dan tidak ada pengamanan di rumah ini.


"Periksa gadisku di rumahnya." ucap pria itu singkat kemudian menutup telponnya.


Beberapa menit kemudian, ponsel Tuan Anton bergetar. Segera diangkatnya telpon tersebut.


"Tidak ada semua? Bahkan Bu Mae dan adik-adiknya juga? Kamu cari di rumahnya yang lama!" Pria itu terlihat kesal.


Kemana gadisnya tersebut? Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia memberontak? Kenapa dia tega meninggalkannya? Apa yang terjadi? Ah, semua seperti mimpi.


"Aaggrh," Pria itu berteriak sekeras mungkin.


Dia kesal pada dirinya sendiri. Sepertinya ia membuat kesalahan yang begitu besar hingga Tari dengan tega meninggalkannya. Bagaimana nanti hari-hari selanjutnya? Bagaimanapun juga, Tari harus segera diketemukan. Ia tidak mau kehilangan gadis yang ia cintai lagi.


Tuan Anton beranjak pergi dari rumah tersebut. Ia harus segera menemukan sang gadis dan membawanya kembali.

__ADS_1


Kemana perginya gadis itu? Apakah Tari akan ditemukan kembali? Apa memang tidak ada yang disatukan diantara mereka? Yoga, Tuan Anton dan Tari adalah sedikit dari kisah cinta rumit dari segelintir orang-orang. Kisah tentang keegoisan dan hasrat ingin memiliki. Rasa ketergantungan hingga menjadi beban dan mengalah untuk kebahagiaan. Tari memilih pergi meninggalkan kehidupannya yang melelahkan. Meninggalkan Yoga dan Tuan Anton agar tidak lagi terjadi perseteruan. Gadis itu mengalah agar keluarga itu bisa kembali hidup bahagia. Namun, haruskah kisah mereka berakhir sampai di sini?


__ADS_2