
"Kamu hati-hati ya, Tar!"
Tari mengangguk kemudian meraih tangan Bu Mae dan menyalaminya. Hari ini, ia memutuskan berangkat ke kota B untuk menemui pembeli. Ia sudah menyiapkan semuanya, termasuk mental. Ya, kota B, tempat di mana banyak sekali kenangan yang ia tinggalkan. Bahagia dan duka ia lalui di tempat itu. Sungguh, sebenarnya ia tidak sanggup jika harus kembali ke sana. Namun, jika tak ada uang, maka Bu Mae tidak bisa menjalani pengobatan.
Tari pergi ke terminal diantar oleh Gajendra. Entah mengapa, pria itu merasa takut kehilangan gadis itu. Sebenarnya ia ingin menemani Tari sampai ke tujuan, tapi Tari menolaknya. Gadis itu bilang, jika ingin membantu, lebih baik bantu Tari untuk menjaga keluarganya selama ia pergi. Mau tidak mau Gajendra menurut.
"Kamu hati-hati ya, Tar," kata Gajendra. Guratan kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Seakan ia akan ditinggalkan Tari untuk selamanya.
"Iya, nggak usah sedih gitu. Kan cuma dua hari, kalau urusanku udah selesai ya pasti aku langsung pulang," ucap Tari.
"Peluk bentar boleh?" Sungguh, pria itu berat melepas Tari yang ingin pergi sendirian.
"Please!" Katanya lagi.
Awalnya Tari enggan, tapi kemudian ia tersenyum dan merenggangkan kedua tangannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Gajendra langsung masuk ke dalam pelukan Tari. Pria itu memeluk erat sahabatnya. Sungguh, rasa sayangnya begitu dalam. Pelukan Tari lah yang paling nyaman, meskipun baru beberapa kali ia rasakan.
"Hati-hati ya," ucap Gajendra sekali lagi setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
Tari tersenyum dan mengangguk. Kali ini, tak ada drama lagi. Gajendra benar-benar melepas Tari yang mulai berjalan menaiki bus arah kota B.
Tari melihat ke luar jendela, pemandangan di luar sana kebanyakan persawahan atau pinggiran hutan yang memanjang. Terkadang juga melewati pemukiman padat penduduk di samping jalan yang letaknya berada di bawah jalan Tol. Ia duduk sendiri di deretan kedua dari belakang karena memang suasana di bus tidak banyak penumpang. Bus yang ia tumpangi melewati jalan Tol (Tax on location) atau pajak di tempat. Lebih sering disebut jalan bebas hambatan. Jalan ini adalah jalur khusus kendaraan roda empat untuk mempercepat laju mobilitas tanpa hambatan antar wilayah. Sesuai namanya, penggunaan jalan tol harus membayar secara langsung dengan tarif tertentu saat akan menggunakan jalur ini.
Baru beberapa jam perjalanan, jalan yang ditempuh masih sangat jauh. Sesekali Tari memainkan ponselnya saat sudah bosan melihat ke luar jendela.
****
Tari sampai di terminal kota B saat malam menjelang. Tak mau mengulur waktu, ia langsung mencari tukang ojek untuk mengantarnya sampai ke tujuan. Tiga puluh menit waktu yang ditempuhnya. Sampailah kini Tari di depan gang kampungnya dulu.
Enam tahun berlalu, tempat itu sudah banyak berubah. Bahkan gapura masuk yang dulunya hanya terbuat dari bambu kini sudah berubah menjadi gapura kokoh berbahan dasar semen dan pasir. Tari berjalan sambil melihat ke sekeliling, ia tersenyum. Kampung itu memang sudah banyak berubah.
Tunggu, rumah Bu Mae juga sama. Terawat seperti ada yang menghuni. Siapa gerangan orang yang menempati kedua rumah itu?
Tari berjalan menuju rumahnya. Ia mencoba mengetuk pintu. Namun, tak ada yang membuka atau menyahutinya. Tari mencoba mengintip disela jendela yang tidak tertutup gorden. Tidak ada orang sama sekali. Kemudian, gadis itu berbalik dan berjalan ke arah pot bunga di depan rumahnya. Pot bunga anthurium berukuran sedang yang masih terlihat segar sama seperti enam tahun yang lalu. Seperti memang ada yang sengaja merawatnya. Diangkatnya pot bunga itu dan benar dugaannya. Sebuah kunci berbandul alat pemotong kuku kecil.
Kunci itu adalah kunci rumah Tari. Ia memang selalu menyimpan kunci rumahnya di bawah pot bunga tersebut. Diambilnya kunci itu setelah menaruh pot bunga di sembarang tempat. Tari mencoba membuka pintu rumahnya. Dua kali putaran, pintu sudah terbuka. Tari segera masuk untuk melihat keadaan di dalam. Ditaruhnya tas yang ia bawa di kursi kemudian ia melangkah lebih masuk ke dalam.
__ADS_1
Gadis itu melihat ke sekeliling, masih sama tidak ada yang berubah dan bersih. Seketika tubuhnya melemas. Bayangan di masa lalu tiba-tiba datang. Saat di mana ia bercengkerama dengan kedua orang tuanya bersama adik-adiknya, kemudian waktu di mana Tuan Anton dan Adnan yang berlarian saling mengejar. Juga saat di mana ia harus benar-benar meninggalkan tempat ini dan pergi menghilang bersama keluarganya.
Entahlah, terkadang rasa sedih dan bahagia bercampur menjadi satu kemudian menjadi rasa yang tak menentu. Tak mau berlarut dengan kenangan, Tari mencoba sadar dan duduk di kursi ruang tamu. Ia teringat tujuannya datang ke sini. Diambilnya ponsel di dalam tas kemudian mencari nomor seseorang.
Nomor seseorang tersebut ia beri nama 'Pembeli'. Sebelum berangkat, paklik memberi nomor ponsel si calon pembeli agar mudah saat membuat janji temu nantinya.
Tari mencoba mengirim pesan bahwa dirinya sudah datang dan besok meminta bertemu di lokasi rumah yang dijual. Pesan terkirim, tapi belum terbaca. Karena lelah duduk berjam-jam di dalam bus, Tari berpikir untuk istirahat di dalam kamar lamanya. Mungkin tidur lebih baik daripada harus teringat masa yang lalu.
****
Pagi menjelang, Tari terbangun. Bukan karena cahaya mentari yang mencoba menyapa. Namun, perut yang terasa melilit di ulu hati. Baru ingat, sejak kemarin pagi perutnya belum terisi. Tari memegang perutnya yang terasa perih. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar menuju dapur. Gadis itu membuka kulkas dan berdecak.
"Nggak ada isinya," keluh Tari. Wajahnya kesal. Ia benar-benar sangat lapar.
"Astaga!" Tari menepuk jidatnya sendiri.
"Bo*dohnya aku," gerutunya.
__ADS_1
Gadis itu lupa kalau ia sedang tidak berada di rumah. Ah, maksudnya di rumahnya yang sekarang ia tinggali. Tari berbalik dan berjalan ke luar rumah. Berharap sudah ada tukang sayur yang lewat. Biasanya tukang sayur juga menjual beberapa jajanan siap makan seperti kue basah dan gorengan. Namun, nihil. Jalanan terlihat sepi, jauh berbeda dengan enam tahun yang lalu. Akhirnya, Tari kembali masuk dan mengambil ponselnya. Ia mencoba memesan makanan lewat aplikasi online dan semoga saja pagi-pagi begini sudah ada tempat makan yang sudah membuka layanan pesan onlinenya.