
Di klub malam,
Malam ini papi belum datang, atau mungkin malah tidak datang, mami juga sedang ada urusan pribadi jadi ia datang terlambat. Hanya si peracik minuman yang menemani Tari di bar. Malam ini Tari nampak anggun dengan gaun malam tanpa lengan yang melekat di tubuhnya. Banyak pria melirik, namun tak ada yang berani mendekat. Seakan ada stempel di tubuh Tari yang men-cap 'Milik Tuan Anton'.
Haeh, kamu ngga pas kalau menyandang gelar Pemandu Karaoke Tari. 🤦
Tari sedang asyik bergurau dengan mas Jho. Sesekali mas Jho sibuk dengan pesanan para pelanggan.
"Ana ...." Seseorang memanggil gadis itu dengan berteriak.
Tari menoleh ke sumber suara, ah ternyata Hanie teman nya. Si wanita malam di klub itu.
"Mas Jho koktail satu!" pinta Hanie pada si peracik minuman itu.
"Dari tadi Loe An?"
Tari mengangguk. "Kamu kemana aja? Kok baru kelihatan?" tanya Tari.
"Ah, biasa ... Udah mulai bosen gue di sini. Jadi gue lebih suka di rumah daddy gue." jawabnya dengan cengar cengir.
"Maksudmu daddy itu tuan yang sering ke sini?"
"Iya lah! Daddy Baskoro. Hahaha ...."
Ya, Hanie ini adalah wanita malam didikan mami Mira. Kehidupannya kini terbilang sukses. Sukses memikat seorang pria tua kaya raya. Usianya baru 19 tahun, dua tahun lebih tua dari Tari. Hanie pernah bercerita pada Tari, awal mula ia bisa masuk di dunia malam karna ia adalah tulang punggung keluarga. Ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan keluarga. Sedangkan ibunya sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja. Akhirnya ia bertemu dengan mami Mira dan menjadi wanita malam sama seperti sekarang ini.
"Papi Loe ngga dateng?" tanya Hanie.
"Engga." jawab Tari dengan wajah lesu.
"Ish, santai lagi ... Kan banyak om-om di sini, cari aja yang lain."
"Bisa di gorok aku sama papi kalau tahu." Hanie tergelak, benar juga ucapan Tari. Tak ada yang berani menyentuhnya.
"Ahaha, bener juga Loe An. Eh ...." Tiba-tiba Hanie seperti terpana dengan seseorang. Ia terus saja melihat ke belakang Tari.
Tari yang penasaran pun juga menoleh ke belakang. Segera Tari terkejut dan bangkit dari duduknya. Ia menatap lekat pada orang itu.
__ADS_1
Yoga, dialah yang membuat Hanie terpaku. Mungkin karna ketampanannya. Segera Tari tersadar dan menunduk, takut Yoga tahu siapa dirinya.
Tari mencoba menyenggol lengan Hanie agar tersadar. "Ish, apaan sih Loe An?"
"Makannya jangan melamun..."
Yoga memesan minuman pada mas Jho. Kemudian laki-laki itu menoleh ke arah Tari dan Hanie lalu ia tersenyum lalu melihat ke arah lain.
"Astaga ... Manis banget ...." Hanie terpesona.
Yoga memang tampan dan manis. Apalagi malam ini, dengan memakai celana jeans dan hoodie warna biru. Ah ... Simple namun terlihat keren.
Tari diam saja. Tidak berani berbuat apapun, ia nampak sedikit gugup. apalagi saat ini yoga sedang memperhatikan dirinya.
Pandangan Yoga tak teralihkan. Sepertinya pernah melihat, dimana ya? Itu lah yang dipikirkan Yoga saat ini.
Ah, Yoga ingat. Gadis itu yang ada di dekat rumah Tari. Yang dua kali bertemu dengannya dan selalu ketakutan. Sama seperti sekarang ini, gadis itu terlihat takut untuk melihatnya.
"Hei ...." sapa Yoga pada Tari. Gadis itu diam saja, tak berani menoleh.
Yoga mencoba mendekatinya dan mensejajarkan kepalanya agar bisa melihat wajah Tari. "Kamu kan yang pernah aku tanyain rumah Tari itu kan?"
"Ana, gue ke dalam dulu ya! Kamu lanjutin aja sama nih cowo," pamit Hanie yang segera pergi entah kemana, ke dalam yang ia maksud bisa berarti dua hal. Ke ruangan ganti atau masuk ke dalam room untuk menemani pelanggan.
Kini tinggal Yoga dan Tari. Yoga masih menatap gerak gerik Tari yang terlihat bingung sekaligus takut.
"Hei, tenang saja! Aku ngga akan apa-apain kamu kok. Nama kamu ... Siapa tadi? Ana ya? Kenalin, aku Yoga." laki-laki itu mengulas senyum sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Tari dengan takut meraih tangan Yoga untuk bersalaman. Ia sedikit lega karna ternyata Yoga tidak mengenalinya sebagai Tari tapi Ana.
"Kamu disini main atau kerja?" tanya Yoga.
"Emb, aku kerja." jawab Tari.
"Owh, oke! Kalau gitu, malam ini kamu temenin aku ya."
Tari terkejut lalu menatap Yoga. Apa? Menemani? Ah, bisa babak belur Yoga dihajar oleh papi. Tari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf, aku ngga bisa."
"Ah, ayolah! Hanya menemaniku jalan-jalan." Tari tetap menolak, ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Yoga bila ketahuan oleh sang papi.
"Ck ...." Yoga berdecak kesal.
"Baiklah kalau kamu ngga mau. Tapi lain kali, kamu harus mau ya. Aku sudah anggap kamu sebagai teman dan sekarang kita berteman." imbuhnya dengan tersenyum.
Senyuman itu, yang selama ini sudah mengisi hari-hari Tari. Sungguh, ia sangat terpesona dengan laki-laki yang kini sedang duduk menghadapnya ini.
Heleh, namanya aja jatuh cinta Tar. 🤣
Beberapa hari berlalu. Papi ternyata sedang ada urusan di luar kota dan membuatnya tidak pulang selama beberapa hari. Setiap malam, kerjaan Tari hanya berdandan dan datang ke klub. Meski ia tahu tak akan bertemu dengan sang papi, tapi ia tetap datang ke tempat itu.
Dan mulai dari beberapa malam yang lalu, Yoga selalu datang ke klub hanya untuk bertemu dengan Tari, atau ... Ana. Laki-laki itu selalu saja meminta Tari untuk menemaninya namun Tari terus menolak. Kini dari pagi hingga malam, ia selalu bertemu dengan Yoga. Membuat Tari merasa tidak enak hati. Pasalnya, Tari sudah menaruh hati pada laki-laki itu dari beberapa bulan yang lalu.
Jika bertemu terus seperti ini, maka semakin besarlah rasa yang ada di dalam hatinya untuk Yoga. Meski bahagia bisa selalu bersama, tapi tetap saja Tari takut jika Yoga mengenali dirinya. Ia belum sanggup untuk kehilangan sahabat barunya itu.
Malam ini, Yoga berhasil membuat Tari menemaninya. Dengan sedikit paksaan tentunya. Yoga membawa Tari ke suatu tempat. Bukan di area klub itu. Namun Yoga membawa Tari ke sebuah taman di pusat kota. Suasana di taman itu sangat ramai pengunjung. Yoga bilang akan ada pertunjukan kembang api tengah malam nanti. Karna Tari belum pernah melihat pertunjukan kembang api, akhirnya ia mau pergi bersama Yoga.
Tari dan Yoga berjalan menuju sebuah bangku yang bisa melihat kembang api dengan jelas nantinya.
"Kamu disini dulu ya, aku beli camilan dulu." pamit Yoga. Tari mengangguk sebagai jawaban. Sejujurnya, Tari sangat bahagia saat ini. Bisa pergi dengan laki-laki yang disukanya. Melihat kembang api berdua, ah ... Terkesan seperti sedang melakukan kencan. Memikirkan hal itu membuat Tari senyum-senyum sendiri.
"Hei, kenapa tersenyum sendirian?" Yoga datang dengan membawa dua cup minuman dan beberapa makanan camilan. Pertanyaan Yoga membuat Tari terkejut. Gadis itu menatap Yoga dan kemudian kembali tersenyum.
"Engga, seneng aja bisa liat kembang api."
Yoga tersenyum, "Makannya aku ajak kamu kesini, aku tahu kamu pasti suka."
Lama mereka berbincang, tak ada kecanggungan lagi antara keduanya. Yoga tipe laki-laki yang asyik diajak bicara, begitu juga dengan Tari. Jika sudah kenal, maka ia akan menjadi banyak bicara.
DUAAARRR ... DUAAARRR ....
Keduanya terkejut dan menatap ke arah langit, ternyata sudah waktu tengah malam. Kembang api berwarna warni meledak menghiasi langit malam itu. Tari begitu sangat antusias menyaksikannya. Rona bahagia terpancar jelas di wajah manisnya. Sedangkan Yoga, ia hanya menatap Tari dari samping. Menyaksikan sesuatu yang lebih indah dari kembang api menurutnya. Entahlah, perasaan apa yang hingga pada diri laki-laki itu. Ia hanya merasa sangat senang melihat gadis yang baru dikenalnya ini tersenyum bahagia.
Apakah kamu jatuh cinta pada gadis itu Yoga?
__ADS_1
To Be Continue ....