KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 25


__ADS_3

"Yoga, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu." ucap tuan Anton tiba-tiba saat pria itu dan anaknya sedang menikmati makan malam bersama.


"Hmm?" Yoga mendongak melihat ke arah Papa nya.


"Selesaikan dulu makanmu!" kemudian mereka berdua menyelesaikan makan malamnya. Setelah itu, Yoga dan tuan Anton duduk di sofa ruang keluarga.


"Papa mau ngomong apa?" Yoga mengawali pembicaraan.


"Mm, Papa sebenarnya ingin menikah lagi." Tuan Anton terlihat begitu ragu. Belum pernah ia membicarakan masalah ini pada keluarganya, termasuk dengan Yoga. Pria itu takut jika anak semata wayangnya tidak merestui keinginannya untuk menikah lagi. Apalagi, jika Yoga mengetahui bahwa calon ibu tirinya masih sebaya dengannya.


"Menikah lagi?" tanya Yoga datar.


Tuan Anton hanya mengangguk. Ia tahu Yoga pasti tidak akan menyetujuinya.


Yoga terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Siapa Pa?" tanya Yoga tiba-tiba.


"Seseorang, sudah lama Papa kenal dia. Dia sangat baik dan juga penyayang."


"Kok Papa ngga pernah bilang kalau sudah punya pacar? Opa sama oma sudah tahu? Terus kapan kalian akan menikah?" tiba-tiba Yoga menjadi antusias dengan percakapan ini.


"Kamu setuju Papa nikah lagi?"


"Iya lah Pa. Yoga tahu Papa sangat kesepian selama ini. Jadi Yoga sangat merestui keinginan Papa buat nikah lagi."


Tuan Anton menoreh senyum di wajahnya, tidak menyangka Yoga menyetujui keinginannya untuk menikah lagi. Mungkin juga karna Yoga tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu karna selama ini ia hanya di asuh oleh pengasuh dan neneknya saja.


"Kapan Papa mau kenalin calon istri Papa ke Yoga?"


"Nanti, belum saatnya. Kalau sudah waktunya, Papa akan suruh oma dan opa mu pulang ke Indonesia dan Papa akan mempertemukan kalian dengan dia."


"Oke lah kalau begitu. Yoga cuma bisa do'ain Papa biar bisa bahagia." Keduanya saling melempar senyuman.


Hubungan Yoga dan papa nya memang sangat baik. Meski mereka jarang mengobrol seperti ini, tidak pernah ada perselisihan di antara mereka berdua. Tuan Anton juga orangtua yang baik, ia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah meski Yoga tidak tinggal bersamanya.


"Oh iya, besok ada pertemuan dengan tuan Vincent. Kamu yang temui dia ya! Papa mau melihat pembangunan villa di Jogja." Yoga menjawabnya dengan anggukan karna ia sudah mulai fokus dengan layar di ponselnya.


"Dan juga kamu harus lebih giat lagi belajar mengelola perusahaan kita. Kamu sudah tahu kan waktumu hanya setahun lagi untuk belajar? Setelah kamu lulus, Papa akan segera pensiun dan semua hal tentang perusahaan menjadi tanggung jawab kamu."


"Iya, iya Pa." jawab Yoga tanpa mengalihkan perhatiannya pada benda yang ada di tangannya itu.

__ADS_1


***


Tari menoleh ke samping kanan tempat duduknya. Bangku di sebelahnya itu hari ini kosong tak berpenghuni. Kemana gerangan sang pemilik tempat itu? Apa dia sedang sakit?


Berbagai pertanyaan hinggap di kepalanya. Tiba-tiba perasaan cemas juga meliputi dirinya. Dari kemarin Yoga pun tak mengirimnya pesan. Dia juga tidak menghubungi Yoga.


Jam pulang sekolah tiba, saat ini Tari sedang duduk di halte depan sekolah. Ia bingung harus melakukan apa, gadis itu begitu khawatir dengan keadaan Yoga saat ini. Ingin menelepon, Tari terlalu gengsi karna sebelumnya ia sudah menjaga jarak dengan Yoga.


Saat ini tari hanya bisa mengelus layar ponselnya yang menyala dan tertera nama Yoga disana.


"Haeh ...." Tari menghela napasnya kasar. Dinding penghalang yang mulai ia bangun nyatanya malah membuatnya 'Gegana' gelisah, galau, dan merana.


Baru dua hari, namun rasa itu malah semakin menguat dan mengakar dalam hatinya. Tari tidak bisa menjauhi Yoga seperti ini. Tak apalah hanya di anggap sebagai sahabat yang penting dia bisa dekat dengan orang yang ia sayangi.


"Halo!"


"Halo! Tar?"


Tari terkejut ketika ponselnya mengeluarkan suara sendiri. Ia melihat benda pipih itu. Gadis itu tak sengaja menekan tombol panggilan di nomor Yoga.


"Halo!"


"Ha-halo," Tari menjawabnya dengan gugup. Volume panggilan di ponsel Tari ternyata terlalu keras hingga tanpa menekan pengeras suara pun suara Yoga bisa terdengar dengan jelas.


"Mm, anu, itu ... Eh,"


"Maksud kamu Tar?" Yoga bertanya sekali lagi dengan kebingungan.


"Kamu, kamu baik-baik aja kan? Engga lagi sakit kan?" tanya Tari.


"Iya, aku baik. Ada apa emangnya Tar?"


"Kenapa kamu ngga masuk sekolah?"


"Oh, papa nyuruh aku gantiin dia buat pertemuan sama klien Tar. Makannya aku ngga masuk." jelas Yoga.


"Kenapa? Kamu kangen ya?" tanya Yoga sembari terdengar suara tawa di seberang sana.


"Dih, engga! Aku cuma khawatir sama kamu. Kirain ada apa-apa sampai kamu ngga masuk sekolah." Gadis itu sedikit berbohong. Nyatanya ada juga rindu terselip di hatinya karna seharian tidak bertemu.


"Ciee, khawatir sama aku." ejek Yoga.

__ADS_1


"I-iya udah, syukur deh kalau ngga ada apa-apa. Aku tutup telponnya." Tari buru-buru mematikan telponnya. Jantungnya serasa mau lepas. Tari memukul pelan kepalanya sendiri, merutuki apa yang baru saja terjadi. Bo*doh, bisa-bisanya ia tidak sengaja menelepon Yoga. Ah tapi tidak apa lah, dengan begitu Tari bisa tahu keadaan Yoga yang baik-baik saja.


***


Tari sudah sampai di rumah. Seperti biasa, ia langsung menjatuhkan diri di atas kursi ruang tamu dan segera membersihkan wajahnya. Tari merasa ada yang aneh, sembari mengelap wajahnya dengan tisu basah, Tari berjalan masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamar.


Sepi, tidak ada orang. Kemana adik-adiknya? Ah mungkin di rumah bu Mae. Setelah beres membersihkan mukanya ia akan menyusul mereka ke rumah bu Mae.


"Bu, adik-adik di sini kah?" tanya Tari pada bu Mae yang sedang merapikan tanaman hiasnya di depan rumah.


"Eh Tari, kamu sudah pulang?" tanya bu Mae sembari tersenyum pada Tari.


Gadis itu mengangguk dan segera masuk ke rumah bu Mae untuk mencari adik-adiknya. Bukan tidak sopan masuk begitu saja di rumah orang, namun rumah bu Mae sudah menjadi rumah kedua bagi Tari dan adik-adiknya. Tidak lupa kan bahwa Tari dan adik-adiknya sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh bu Mae?


Hal yang sama seperti di rumah dirasakan oleh Tari. Sepi. Tidak ada anak-anak, lalu kemana Farhan, Bilal, dan Adnan? Karna bingung dan sedikit panik, ia segera keluar lagi untuk bertanya pada bu Mae.


"Bu, anak-anak kemana?"


"Mereka tidak disini Tar," jawab bu Mae dengan tenang.


"Terus, kemana mereka Bu?" Tari mulai panik.


Bu Mae tersenyum, "Tadi tuan Anton datang dan membawa mereka."


"Apa?"


"Iya, adik-adikmu sedang di ajak jalan-jalan sama tuan Anton Tar. Ngga perlu panik gitu."


Tari menghela napas lega. Tidak biasanya papi nya itu membawa adiknya jalan-jalan tanpa dirinya. Kenapa ia tidak di ajak? Tidak, kenapa papi tidak memberitahunya?


Tari segera merogoh saku baju nya untuk mengambil ponsel. Ia berniat menghubungi papinya. Segera ia mencari nomor tuan Anton dan menelponnya.


"Halo pih,"


"Halo?" Suara dari seberang sana.


Tari tercekat mendengar suara dari ponselnya.


"Halo?" Suara itu terdengar lagi.


Gadis itu langsung terdiam, dan langsung mematikan telponnya.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2