KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 80


__ADS_3

Perbincangan antara Yoga dan Gajendra masih menjadi misteri. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau memberitahu Tari. Namun, sepertinya apa yang Tari sangka tidak menjadi kenyataan. Mereka tidak beradu mulut atau fisik. Keduanya terlihat menyikapi secara dewasa. Sekali lagi, tidak ada yang tahu apa yang mereka perbincangkan.


Setelah dari halte tadi, Gajendra pamit untuk pulang. Kini hanya Yoga dan Tari yang menunggu di depan ruangan Bu Mae. Tari senang, karena keadaan Bu Mae berangsur membaik padahal jadwal untuk memulai kemoterapi masih beberapa hari lagi. Semoga Bu Mae segera sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarganya.


"Yoga," panggil Tari pelan.


"Hmm?" gumam Yoga lalu menoleh.


"Kenapa, Tar?"


"Mm ... tadi kalian bicarain apa?" tanya Tari penasaran.


"Dari tadi kamu tanya itu terus," keluh yoga.


"Ya ... kan pengen tau."


"Aku minta orang nggak jelas itu buat jauhin kamu," jelas Yoga.


"Kok tau kalau gaje itu orang nggak jelas?"


"Berarti benar kan, dia orang nggak jelas dan bukan kekasihmu? Kamu cuma berkilah biar bisa lepas dariku? Kamu nggak akan bisa, Tar. Aku nggak mau lepasin kamu!"


Tari diam. Ia memijat pangkal hidungnya. Pening sekali kepalanya. Astaga ... kenapa jadi seperti ini? Hidupnya layaknya sinetron yang hanya berputar-putar pada satu persoalan saja. Tidak pernah ada ujungnya. Andai saja ia tak kembali ke kotanya dulu, andai saja ia tak bertemu kembali dengan Yoga, andai saja Bu Mae tidak ....


Ya Tuhan, kenapa dirinya malah mengeluh seperti ini? Mungkin sudah jalannya seperti ini. Tidak akan pernah terlepas dari seorang Yoga dan Tuan Anton. Haruskah ia mengikuti alur yang sudah digariskan?


"Setelah Bu Mae sembuh, aku mau ajak kamu kembali. Bantu aku menyembuhkan papa dan jadilah milikku!" pinta Yoga sambil menggenggam tangan Tari.


"Hahaha ...." Tari tertawa membuat Yoga mengerutkan dahinya. Bingung.


"Kamu nggak mikir kalau Tuan Anton sembuh nggak menutup kemungkinan ia akan mengurungku lagi? Kamu nggak mikir anak dan istrimu? Apa kamu nggak mikir kebahagiaanku, Yoga?" Gadis itu mulai berani.


"Sarah dan anaknya adalah tanggung jawab papa, Tar. Setelah ingatan papa kembali, aku akan menceraikannya dan menikahimu ...."


"Aku tau kamu juga mencintaiku, Tar." Lanjutnya.


Tari kembali diam. Benar, Yoga benar. Ia memang masih mencintainya. Meskipun ia menunjukkan rasa tidak suka, sebenarnya Tari bahagia bisa berdekatan dengan Yoga seperti ini. Duduk berdampingan dan saling berbincang. Sungguh membahagiakan.


"Tujuanku mengembalikan ingatan papa, hanya untuk membuatnya mengambil tanggung jawab yang selama ini aku pikul. Aku hanya ingin ia mengakui Raka sebagai anaknya, bukan cucunya. Jadi tolong jangan lagi berpikir untuk pergi dariku, Tari! Aku mencintaimu," jelas Yoga pelan.

__ADS_1


"Kak," sapa seseorang pada Tari.


Melihat siapa yang datang, Tari segera melepas genggaman Yoga dan berdiri. Seperti orang yang baru saja ketahuan melakukan hal yang tidak diperbolehkan.


"Bilal," balas Tari.


"Kakak baru pulang?" tanya Bilal pada Tari kemudian melihat Yoga.


Tari mengangguk lalu tersenyum.


"Siapa?" tanya Bilal pada Tari, tapi tidak mengalihkan pandangannya dari Yoga.


"Kamu lupa?" Tari bertanya balik.


"Emang aku kenal?"


Tari mengangguk. "Kak Yoga. Kamu inget kan?"


"Inget, yang dulu pernah mengusir kami dari rumahnya dan menuduh Kakak wanita mu*rahan yang menghabiskan uang Papih Anton." Tatapan sengit Bilal layangkan pada Yoga.


Tari dan Yoga terkesiap. Jawaban yang Bilal lontarkan berhasil membuat mereka terkejut. Bilal, adik kedua Tari itu awalnya terkejut melihat seseorang yang sedang duduk bersama dengan kakaknya. Orang yang sangat ia kenal. Seseorang yang dulu pernah menjadi teman bermain dan sangat menyayanginya. Namun, kejadian tidak mengenakkan itu berhasil membuatnya sangat membenci Yoga.


"Ka-kamu dateng sendirian? Kakakmu mana?" tanya Tari mencoba mengalihkan.


"Aku mau masuk dulu. Di sini lama-lama jadi gerah." Ucap Bilal ketus kemudian ia melangkah masuk untuk menemui Bu Mae.


Tari kembali duduk di samping Yoga yang tertunduk. Pria itu mungkin sedang memikirkan ucapan yang dilontarkan Bilal. Anak remaja adik Tari itu terlihat sangat membencinya.


"Maaf," ucap Yoga lirih.


"Maaf untuk apa, Ga?"


"Aku pernah menyakiti keluargamu." Jawab Yoga penuh penyesalan.


Tari tersenyum lalu menggenggam tangan Yoga. "Kenangan manis memang membahagiakan saat diingat. Namun, kenangan pahit begitu sulit dilupakan. Kamu tau kenapa aku tidak ingin membantumu memulihkan Tuan Anton?"


Yoga mendongak dan menatap manik Tari.


"Itu karena aku nggak mau mengulang kembali masa laluku, Ga."

__ADS_1


"Aku janji semua kenangan pahitmu nggak akan terulang lagi, Tari. Kita hanya akan mengulang perasaan kita dan memupuknya kembali."


"Aku janji!" Yoga meyakinkan Tari kembali.


****


Tari mengantar Yoga menuju parkiran rumah sakit. Yoga hendak pulang untuk mengurus beberapa kepentingan. Ia berjanji untuk menjemput Tari kembali.


Bersamaan dengan perginya Yoga, Gajendra datang dengan sebuah mobil berwarna hitam. Awalnya Tari tidak tahu jika itu Gajendra. Namun setelah pria itu keluar dari mobil, Tari pun terkejut akan perubahan Gajendra seharian ini.


"Hai, Tar!" sapa Gajendra sambil berjalan mendekati gadis itu.


"Gaje, itu mobil siapa?" tanya Tari heran.


"Mobil aku lah, Tar."


"Sejak kapan kamu punya mobil? Bukannya setiap hari kamu naiknya motor matic kesayanganmu itu?"


"Ck ...." Gajendra berdecak kesal.


"Kamu udah kayak paklik aja. Selalu nggak percaya sama aku dan meremehkanku."


"Ish, bukannya gitu. Aneh aja tiba-tiba kamu datang bawa mobil gitu. Kamu nggak habis nyuri kan?" tuduh Tari.


Gajendra tergelak. "Ya enggak lah, Tar. Kalau aku mau nyuri, bukan nyuri mobil atau uang. Lebih baik aku nyuri hatimu itu!"


"Kan ... mulai lagi penyakitnya." Kesal Tari.


"Penyakit apa? Aku sehat-sehat aja, Tar."


"Penyakit nggak jelas!"


Tari yang mulai kesal memilih untuk kembali ke ruangan Bu Mae meninggalkan Gajendra di tempat itu.


"Nah, kan mulai lagi penyakitnya!" seru Gajendra, membuat Tari berhenti lalu menoleh.


"Penyakit apa?" Tari balik bertanya.


"Penyakit suka ninggalin aku sendirian," jawab Gajendra sembari berjalan mendekat.

__ADS_1


"Ih ... males ah. Kamu nggak jelas." Tari semakin kesal dan kembali melangkah.


Tingkah gadis itu saat sedang kesal memang sangat menggemaskan di mata Gajendra. Pria itu segera mensejajarkan langkahnya dengan Tari sambil masih tertawa.


__ADS_2