
"Mau makan apa Tar?"
"Ikut kamu aja Ga."
"Anak pinter." Yoga mengacak rambut Tari pelan. Seperti sedang mengelus seekor kucing peliharaan.
Yoga segera memesan makanan pada ibu kantin. Seperti biasa, Yoga mengajak Tari untuk makan siang di kantin sekolah saat istirahat. Saat Yoga pergi memesan makanan, tak sengaja pandangan Sarah dan Tari saling bertemu. Sarah menatap gadis itu dengan sinis seperti seekor ular yang ingin menelan mangsanya bulat-bulat.
Tari segera menunduk, bukan takut, tapi karna ia tidak mau berurusan dengan Sarah. Kedekatannya dengan yoga kembali saja sudah membuat Sarah geram.
"Nih, bakso tanpa mie sama kayak punya ku." Yoga menaruh mangkuk bakso tepat di hadapan Tari. Kemudian Yoga duduk di depan Tari.
"Huuh," Tari menghela napas lega. Dengan Yoga duduk di depannya membuat ia tidak lagi melihat tatapan menyeramkan dari Sarah.
Yoga segera menuangkan saos, kecap dan sambal di mangkuk baksonya. Begitu juga dengan Tari, ia juga melakukan hal yang sama dan segera memakan makan siang mereka. Riuh suara para siswa memenuhi area kantin itu. Tidak sedikit juga yang menggunjing sepasang muda-mudi yang sedang menikmati bakso itu.
Ada yang menertawakan juga mencemooh seorang Tari yang tidak bisa berkaca siapa dirinya. Bisa-bisanya si cupu duduk dengan si pangeran tampan itu. Ada pula yang mengatakan Yoga buta karna tidak melihat Tari yang jelek dan cupu.
Tuhan, sekolah di tempat ini memang selalu membuatnya tertekan. Jika bukan karna tuan Anton, gadis itu tidak akan mau sekolah di sini. Tari segera menghabiskan makanannya dan masuk ke kelas kembali.
"Ga, aku masuk dulu!" Ucapnya sembari menaruh garpu ke dalam mangkuk.
"Cepet banget kamu makannya, aku masih belum habis Tar."
"Ya udah kamu habisin dulu, aku masuk duluan." Tari segera membayar bakso miliknya dan masuk ke kelas. Ia tidak suka keramaian di kantin, lebih tepatnya suara orang-orang yang tidak menyukainya. Berbeda dengan keramaian di klub malam, di sana ramai tapi tidak ada yang mencemoohnya.
****
"Sayang, kamu kemana aja?" tanya bu Mira, ibu kedua bagi para wanita penghibur di klub malam milik tuan Anton.
Ia begitu bahagia ketika Ana mengunjungi klub malam itu. Sudah hampir sebulan Ana tidak pernah muncul disana. Bu Mira segera memeluk salah satu anaknya itu penuh kerinduan.
__ADS_1
"Ana ngga kemana-mana Mi," Gadis muda itu juga membalas pelukan sang mami.
"Iya nih, mentang-mentang ada si papi, kita nya dilupain. Ya kan Mi?" Hanie juga ikut memeluk keduanya.
Mereka saling memeluk dan tersenyum. Seakan sudah lama tak pernah berjumpa. Malam ini, Ana memang sengaja mendatangi klub itu lagi. Ia rindu suasana disana, rindu dengan orang-orang yang tidak pernah memandangnya dengan buruk.
"Aku cuma mau main kesini Hanie, aku kangen sama kalian."
"Trus si papi kemana An?" tanya Hanie.
"Ngga tahu, aku ngga bilang kalau mau kesini." jawab Ana cengar-cengir. Kalau tuan Anton tahu Ana akan pergi ke klub malam ini, pasti ia akan membuntuti gadis itu dan membuat Ana selalu berada di sampingnya. Ana tidak akan leluasa menemui teman-temannya disana.
"Ya sudah, mumpung Ana lagi disini, gimana kalau kita sewa room dan bernyanyi sepuasnya?"
"Wah bagus itu Mi, yuk kita have fun malam ini." Hanie segera menggiring sang mami dan Ana masuk ke dalam satu ruang karaoke. Ia juga membawa beberapa gadis lain yang tidak ada job untuk bergabung, tak lupa Hanie meminta pelayan untuk membawakan beberapa minuman beralkohol juga camilan.
Malam ini, mereka bersenang-senang sepuasnya. Para gadis itu bernyanyi dan menari di bawah gemerlap lampu ruangan itu. Hanya Ana dan mami yang duduk di sofa sembari melihat para gadis bernyanyi. Semakin malam mereka semakin menjadi karna efek alkohol yang mereka minum. Hanie juga memanggil pelayan lagi untuk menambah beberapa botol minuman.
"Ana, malah diem aja Loe! Sini ikut kita." Hanie yang terlihat sudah mabuk itu ingin menarik Ana ikut menari bersamanya. Namun karna tubuhnya tidak seimbang akhirnya Hanie terjatuh di depan Ana dan menumpahkan minuman Ana.
"Astaga Hanie," Ana terkejut, ia segera membantu Hanie duduk di sofa.
"Hahaha," Hanie malah tertawa. Gadis yang sudah tidak gadis itu mabuk.
Hanie mencoba bangun lagi dan mulai menari. Ana hanya menggeleng dan tersenyum. Ia sudah biasa melihat sahabatnya hilang kesadaran seperti itu.
"Haeh, pesan minuman lagi deh." Ana berdiri dan ingin melangkah keluar.
"Ana, mau kemana?" tanya salah seorang temannya dengan nada sedikit tinggi. Suara alunan musik membuat mereka harus berbicara dengan nada yang tinggi.
"Ambil minum." jawab Ana dengan nada yang sama.
__ADS_1
"Gue aja yang ambilin, Loe duduk aja An. Gue juga mau keluar bentar soalnya."
"Oke deh." Ana mengangguk dan segera duduk kembali.
****
"Hai Bro," Sapa mas Jho bartender di klub malam itu pada seorang pelanggan.
"Hai, bikinin minuman spesial dong satu!" perintah Yoga.
Malam ini, Yoga sengaja datang ke klub untuk menemui Ana. Hampir setiap malam ia selalu mendatangi klub malam milik papa nya itu hanya untuk mencari kabar Ana, gadis yang hanya tersenyum pun sudah membuat jantungnya bergemuruh. Sedikit banyak Yoga mengantongi informasi tentang Ana. Gadis manis itu ternyata adalah simpanan seorang om-om dan ketiadaannya di klub itu tak lain karna Ana lebih sering berada diluar bersama om-om itu. Hanya saja, tak ada yang memberitahunya jika om yang dimaksud adalah papa nya sendiri.
Yoga duduk di depan meja bar sembari melihat sekeliling. Harap-harap ada seorang yang ia cari diantara kerumunan para pelanggan disana.
"Loe cari Ana lagi Bro?" Mas Jho bertanya sambil menaruh pesanan Yoga di meja.
"Iya, dia ngga kesini lagi?"
"Dia tadi datang,"
"Serius?" Yoga antusias. Wajahnya berubah sumringah ketika mas Jho memberitahu bahwa Ana ada di klub itu malam ini.
"He'em," Mas Jho mengangguk. "Tapi ngga tau ada dimana, soalnya tadi gue liat dia langsung ditarik pergi sama mami Mira dan si Hanie."
"Kira-kira kemana ya mereka?" tanya Yoga.
"Kan gue udah bilang ngga tau Bro." Mas Jho kembali kepekerjaannya lagi.
Yoga kembali lesu, ia hanya menatap ke sekeliling. Semoga ia melihat Ana.
"Loe tunggu aja. Jalan keluar masuk disini cuma satu, kalau mau balik dia pasti lewat sini." Mas Jho menenangkan Yoga yang dibalas dengan anggukan. Sembari meminum minumannya, Yoga masih setia menunggu Ana lewat disana. Hingga beberapa menit kemudian ....
__ADS_1
"Ana!"