KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 33


__ADS_3

"Aku pulang dulu ya Tar!" pamit Yoga.


"Bu, saya pamit pulang dulu ya." Yoga juga berpamitan pada bu Mae yang masih di teras depan.


"Iya Nak, hati-hati!"


Yoga melempar senyum pada penghuni rumah itu. Kemudian Yoga masuk ke mobil dan melajukannya pulang ke rumah.


"Haeh," Tari menghela napas, ia membuka maskernya dan duduk di kursi dengan lunglai.


"Kamu, ada apa Tari?" Bu Mae merasa ada yang aneh pada gadis itu. Tidak seperti biasanya meskipun harus susah-susah berdandan jelek terlebih dahulu, ia selalu bahagia setelah bertemu dengan Yoga maupun tuan Anton.


"Engga Bu, Tari cuma capek." jawabnya lirih.


Benar, gadis itu lelah. Alur cerita yang bagaimana yang sedang ia jalani saat ini? Takdir Tuhan yang seperti apa yang akan ia hadapi nanti? Haruskah ia menjalani hidup dalam kebingungan seperti ini? Tidak bisakah ia hidup dengan tenang tanpa harus menjadi Ana atau Tari? Sungguh, ia menyesal memilih jalan seperti ini.


Tari melihat ke arah bu Mae yang ternyata sedang menatapnya dengan sayu. Tari segera berhambur memeluk orang yang selama ini menggantikan ibu nya itu.


"Hiks," Gadis itu mulai menangis.


"Tari capek Bu harus kayak gini terus, Tari pengen lepas dari tuan Anton. Tari ngga mau jadi Ana lagi, tapi juga ngga mau jadi Tari lagi di depan Yoga. Tari pengen kayak dulu lagi sebelum ketemu mereka, hidup jadi Kirana Dwi Lestari yang biasa. Hiks ...." Gadis itu meluapkan segala isi hatinya pada bu Mae.


"Kalau capek, ya kamu jangan jalani lagi Tar! Ibu masih sanggup menyekolahkanmu dan adik-adikmu. Kamu itu sekarang anak Ibu, dan sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab Ibu." Bu Mae membelai lembut rambut Tari.


"Harus gimana Bu? Tari merasa hutang budi sama tuan Anton. Sedangkan Yoga, Tari ... Suka sama dia."


Bu Mae melepaskan pelukannya. Ia menyeka pipi Tari yang basah karna penuh air mata. Bu Mae tersenyum dan mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Pelan-pelan, membalas budi ngga harus dengan perasaan kan! Sekarang yang harus kamu pikirin, sekolah yang rajin. Setelah lulus baru kamu membalas budi tuan Anton yang sudah banyak bantu kita selama ini. Ibu akan bantu kamu mengembalikan apa yang tuan Anton berikan ke kita."


Tari mengangguk, benar kata bu Mae. Membalas budi tuan Anton tidak harus dengan membalas perasaannya. Toh pria itu juga tidak memaksa dirinya juga harus mencintainya.


"Sekarang masuk yuk, waktunya makan siang. Adnan pasti juga sudah laper kan?"


"Iya, atu yapel Ibutu yayang. (Iya, aku laper Ibuku sayang.)" Bocah kecil itu berhambur memeluk bu Mae minta digendong.


****


"Ah, aku kepikiran Ana terus." Yoga tengah gusar dengan perasaannya. Semakin lama dirasakan, ia semakin yakin dirinya menaruh rasa pada gadis itu.


Gadis yang malam tadi ia peluk dan cium seperti seorang kekasih. Ingin dia segera bertemu dengan gadis itu lagi. Tapi bagaimana caranya? Apa ia harus ke klub malam milik papanya lagi malam ini dan berharap Ana datang? Tidak, Yoga tidak bisa seperti ini trus. Hanya menanti keajaiban dapat bertemu pujaan hati lagi. Atau mungkin meminta bantuan papa saja? Pasti dia bisa membantu. Tidak, pasti pria dewasa itu menolak keras hubungan mereka. Ana adalah gadis malam di klubnya.


"Tari," Yoga tiba-tiba mengingat sahabatnya. Hanya Tari harapan satu-satunya. Orang-orang di klub itu tidak banyak membantunya.


"Tari." Yoga mengirim pesan pada sahabatnya.


Tungkling ....


Ponsel Yoga berdering sekali. Tanda sebuah pesan masuk di ponselnya. Yoga segera menggeser layar pipih itu dan membuka pesan.


"Ya, Yoga?" balasan pesan dari Tari.


"Ya ampun Tari, lama banget balesnya!"


"Maaf habis tidur siang sama Adnan."

__ADS_1


"Owh, bisa bantu ngga?"


"Apa?"


"Bantuin temuin Ana, kalau jam segini pasti dia masih di rumah soalnya kerjanya malem. Ya, please!"


Yoga kembali gusar karna Tari tak kunjung membalas pesannya padahal Tari sudah terlihat membukanya. Terbukti sudah ada dua garis biru di pojok layar ponselnya.


Sedangkan di dalam kamar, Tari nampak bingung harus bagaimana. Ia hanya memandangi layar ponselnya sembari memikirkan jawaban yang tepat untuk Yoga. Sahabatnya itu meminta bantuannya kembali untuk menemukan Ana. Padahal sudah jelas dia pasti menemukan orang yang Yoga cari karna Ana adalah dirinya sendiri. Tapi sebenarnya Tari tidak mau membantu Yoga, ia takut Yoga tahu bahwa Ana adalah dirinya.


"Tari, kamu mau kan bantuin aku?" Yoga kembali mengirim pesan padanya.


"Maaf Ga, aku ngga bisa." balas Tari.


"Kenapa? Ayolah Tar, aku kan sahabatmu masak ngga mau bantuin sahabat sendiri. Cuma kamu yang bisa bantuin aku, ayolah bantuin sahabatmu yang lagi jatuh cinta ini!" Yoga memohon.


"Baiklah!" Akhirnya Tari mengalah. Ia tidak bisa menolak permintaan Yoga, sahabatnya. Ah, orang yang dicintainya.


"Yess! Nah gitu dong, makin sayang sama sahabatku ini. Sekarang aku ke rumahmu lagi ya, kita cari rumah Ana sama-sama."


Tari langsung terduduk, dalam pikirannya Yoga tidak boleh datang. Dicari sampai ke lubang semutpun pasti dia tidak akan menemukan Ana.


"Ngga usah, aku aja yang cari dia. Kampung sini luas Ga, kamu pasti capek kalau ikutan nyari. Kamu tunggu aja kabar dariku." Tari segera membalas pesan Yoga. Mewanti-wanti agar dia tidak perlu datang ke rumah.


"Okelah kalau begitu Tar, makasih ya udah mau bantuin aku." balasan terakhir dari Yoga.


Tari menghela napas lega, drama barusan berhasil membuatnya senam jantung. Untung saja ini hanya lewat aplikasi percakapan di ponsel, kalau langsung bertatap muka, sudah mandi keringat dingin dia.

__ADS_1


Tari segera memutar otak bagaimana cara dia bisa membantu Yoga, atau tinggal bilang saja kalau dia itu Ana? Bo*doh, itu sama saja dia membunuh dirinya sendiri. Tari memainkan jemarinya sembari berpikir menemukan jalan keluarnya. Atau sewa saja rumah seseorang disekitar kampung dan dijadikan sebagai rumah Ana. Ah, prosesnya rumit.


Tiba-tiba kecemasan di wajah Tari menghilang dan berganti dengan senyuman, sepertinya gadis itu sudah menemukan ide cemerlang. Ia segera mengambil dompet dalam laci dan pergi entah kemana. Sebelum pergi, Tari berpamitan pada bu Mae dan menitipkan Adnan padanya.


__ADS_2