
"Yoga!" Tari terkejut ketika wajah Yoga tepat berada di depannya saat ia membuka mata.
Tari langsung mendorong tubuh Yoga agar menjauh darinya. Yoga yang belum siap menahan dorongan dari Tari akhirnya terjengkang.
"Apa yang kamu lakukan, Yo?" dengan takut ia langsung duduk dan menggenggam erat ujung selimut yang masih membalut tubuhnya.
"A-aku ... nggak ngapa-ngapain." Yoga berkilah.
"Bohong! Ngapain kamu masuk kamarku?"
"Aku cuma mau bangunin kamu, aku nggak ngapa-ngapain." Yoga berdiri. Tari menatap Yoga sinis.
"Mandi gih! Kita cari sarapan," ucap Yoga kemudian keluar kamar. Ia menghindari Tari agar tidak dituduh macam-macam.
****
"Gimana? Enak nggak?"
Saat ini Yoga dan Tari sedang sarapan di sebuah warung tenda pinggir jalan dekat kampung Tari. Berbagai menu terhidang dan tinggal pilih. Tari memilih menu bubur putih dengan sayur opor sedangkan Yoga makan nasi uduk dengan ayam goreng dan abon.
"Ya ... kamu taukan rasa bubur kayak gimana?"
"Judes amat."
Diam. Tari lebih menikmati sarapannya daripada meladeni percakapan Yoga. Buburnya enak. Ayam opornya juga empuk dan bumbunya meresap. Warung tenda ini dulu belum ada. Ia masih ingat dulu tempat ini hanya sebuah lahan kosong. Sekarang sudah rame dan banyak berjejer ruko di sepanjang jalan.
Setelah selesai sarapan, Tari dan Yoga segera pergi dari warung tenda itu. Tujuan mereka adalah bertemu dengan Tuan Anton. Sebenarnya, ada rasa takut pada diri Tari karena ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Tiba-tiba kejadian saat pria itu menamparnya dengan keras terlintas di kepala. Ah ... haruskah ia mengurungkan niatnya untuk menemui Tuan Anton sekarang? Mungkin akan lebih baik ia tidak bertemu sama sekali.
"Ga!" Panggil Tari.
__ADS_1
"Mm?" Yoga tanpa menoleh.
"Antar aku langsung ke terminal aja!" Yoga melirik Tari kemudian kembali ke jalan.
"Kenapa? Bukankah kamu merindukan papa? Ia pasti juga senang bertemu lagi sama kamu."
Tari menggeleng. "Nggak, Ga. Antar aku ke terminal aja."
"Kamu kenapa tiba-tiba berubah pikiran gitu? Ada apa? Kemarin yang kamu tanyakan adalah papa, bukan aku. Jadi aku akan bawa kamu bertemu papa sekarang."
Tari diam. Percuma. Berdebat dengan Yoga tidak akan ada habisnya. Lebih baik diam menurut agar bisa cepat pulang. Iya kalau bisa pulang. Ya Tuhan, tidak ada jaminan apapun kalau ia bisa cepat-cepat pulang dan bertemu dengan keluarganya.
Mobil Yoga memasuki sebuah perumahan elit. Jalan ini tidak asing bagi Tari. Ya, ini jalan menuju rumah barunya yang dulu. Tidak ada yang berubah. Apa Yoga dan papanya sekarang tinggal di rumah baru? Kenapa?
Semakin dekat, tiba-tiba Tari merasa gugup. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Bagaimana reaksi Tuan Anton saat bertemu dengannya nanti?
Dari dalam mobil Tari mengamati anak itu yang tertawa bersama dua wanita yang menjaganya.
"Yuk turun!" Yoga mengejutkannya.
Tari menoleh dan segera melepas sabuk pengaman. Ia dan Yoga sama-sama keluar dari mobil.
"Papa!" Anak kecil itu berlari riang menghampiri Yoga.
Yoga berjongkok untuk menyambut anak itu. Umurnya sekitar empat tahun, anak laki-laki itu terlihat sangat bahagian saat bertemu Yoga. Ah, tadi anak itu memanggil Yoga dengan sebutan papa. Berarti Yoga ....
Tari mematung melihat Yoga dan anak itu berpelukan seperti sedang melepas rindu karena lama tak bertemu. Ya, pasti Yoga sudah menikah dan punya anak. Enam tahun berlalu. Yoga pasti sudah menikah. Kata-kata itu berputar di kepala Tari. Ada rasa tak menentu di hatinya.
"Papa, ini siapa?" tanya anak itu setelah melepas pelukannya. Ia melihat Tari seperti sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
"Ini, Tante Tari. Teman papa," jawab Yoga sambil tersenyum. Entah kenapa saat Yoga mengatakan bahwa mereka hanya berteman membuat hati Tari semakin tak menentu.
"Hai ...." Tari tersenyum lalu melambaikan tangan. Namun, anak itu malah menatap sinis pada Tari.
Wajahnya sangat mirip dengan Yoga. Apa benar anak itu memang anak Yoga? Rasanya Tari tidak mempercayainya.
"Raka, mama di mana? Kok cuma main sama mbak?" tanya Yoga.
Oh jadi anak itu bernama Raka.
"Mama belum pulang, Pa." jawab Raka dengan jelas. Yoga mengangguk. Kemudian ia juga menanyakan kakek pada Raka. Kakek?
Belum sempat menjawab, seseorang datang penuh amarah menghampiri Tari dan Yoga.
"Yoga!" pekik orang itu. Seorang pria dengan banyak uban di jenggot. Wajahnya memerah menahan emosi. Matanya memancarkan kemarahan menatap Yoga.
Semua orang yang berada di tempat itu sontak menoleh. Perubahan jelas terlihat pada Tari. Seperti melihat sosok hantu di siang bolong, tubuh Tari bergetar. Beberapa detik ia mematung tak mampu bergerak.
"Papih," lirihnya.
Ya, pria itu lah yang ditunggu kehadirannya beberapa episode terakhir, Tuan Anton. Rindu .... Kerinduan itu tiba-tiba menggebu dalam kalbu. Pria itu sama sekali tidak berubah. Bahkan uban di jenggotnya membuatnya terlihat semakin matang. Tari hampir saja berlari ingin memeluknya sebelum Tuan Anton mengeluarkan amarahnya.
"Dari mana kamu, Yoga?"
Yoga tersenyum. "Pa, lihat siapa yang datang bersamaku!"
Dengan bahagia Yoga menggenggam tangan Tari kemudian membawanya mendekat. Tuan Anton yang melihat jemari mereka saling menyatu semakin tersulut emosi.
"Siapa dia?"
__ADS_1