KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 37


__ADS_3

Mata Tari mulai terpejam ketika tuan Anton mendekatinya. Merasakan hembusan napas wangi sang papi. Dan ....


Tubuh Tari meremang ketika ia merasakan bibir nya tersentuh sesuatu. Tuan Anton sedang menciumnya. Mentransfer sebuah energi yang entah kenapa membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Sensasi baru yang bahkan bersama Yoga, dia tidak merasakannya. Pria itu membawa Tari ke dalam pelukannya. Menahan tengkuk gadis itu agar tidak lepas dari ciu*mannya.


Perlahan, tuan Anton mulai melu*mat bibir Tari. Kecu*pan demi kecu*pan ia berikan. Pria itu juga menggigit pelan bibir bawah Tari agar dapat terbuka, memberikan jalan untuknya menjelajahi area terdalam di rongga mulut gadisnya. Tari yang mulai terhanyut akan sentuhan lembut sang papi hanya pasrah ketika lidah sang papi mulai mengabsen setiap sudut rongga mulutnya. Gelenyar aneh mulai menjalar disetiap sendi. Tanpa disadari Tari membalas pagutan tuan Anton secara perlahan meski masih terlalu kaku. Mendapat kode hijau, tuan Anton tak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu semakin memperdalam ciu*mannya.


Gadis itu mulai terlena dengan sensasi yang baru ia rasakan. Seluruh tubuhnya meremang menerima ciu*man pertama antara dirinya juga tuan Anton. Pria itu juga menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan bersama gadisnya. Bibir lembut milik Tari membuatnya tak mau berhenti menyentuhnya.


Pria itu membelai lembut kepala gadisnya. Rasa yang sudah bertahun-tahun ia redam tiba-tiba ingin keluar bebas menggelora. Dia ingin lebih dari sekedar berciu*man. Sang papi membawa Tari masuk ke dalam kamar dengan tidak melepaskan pagutan mereka. Tari hanya bisa pasrah ketika sang papi menggiringnya masuk ke dalam kamar. Hasrat dalam dirinya sudah menguasai otak dan hatinya. Ah, gadis polos itu, hanya diberi perlakuan lembut dan ciu*man penuh perasaan saja sudah terlena dan tidak sadar dengan apa yang ia perbuat.


Tangan pria tua itu mulai berani bergerilya menyusuri tubuh bagian belakang sang gadis. Mengabsen setiap inchi punggung Tari dengan lembut. Jemari tuan Anton berhenti di kedua pundak Tari dan meremasnya dengan pelan. Ah bibir manis itu, tuan Anton tak mau melepaskannya. Tuan Anton kembali menyentuh leher Tari. Sangat lembut hingga gadis itu merasa merinding.


"Aku sangat mencintaimu Tari!" Tuan Anton melepaskan pagutannya.


Netra mereka saling bersitatap. Entah apa yang kini Tari rasakan. Hangat sikap tuan Anton sejenak menghapus nama Yoga di hatinya. Tuan Anton kembali mengecup bibir Tari. Gadis itu pun kembali terpejam menikmati setiap kecupan yang tuan Anton berikan di wajahnya.


Kening, pipi, bibir, kecupan pria itu semakin turun ke ceruk leher Tari. Tari mendongak, sensasi yang semakin berkobar berhasil menguasai akal sehatnya. Jemari tuan Anton pun tak tinggal diam. Sentuhannya semakin turun kebawah hingga tepat berada di atas dada Tari.


"Ah ...." Tari terlonjak. Gadis itu langsung mendorong papinya menjauh.

__ADS_1


Jantungnya berdegub kencang dan napasnya tak beraturan. Tari mulai tersadar. Sentuhan yang baru ia rasakan di area sensitifnya berhasil mengembalikan akal sehatnya.


"Ah, maafkan papi sayang!" Tuan Anton mendekat dan mencoba memeluknya.


Pria itu pun rupanya juga tersadar akan hal yang dilakukannya pada gadis itu. Hasrat yang muncul hampir saja membuatnya memetik buah yang masih setengah matang itu. Tari memundurkan tubuhnya menolak pelukan sang papi. Wajah cantik Tari kini dihiasi oleh ra takut yang datang tiba-tiba.


"Maaf sayang, papi ngga bermaksud untuk menyakitimu." Tuan Anton menyesal. Ia tidak lagi mendekati gadisnya, takut hasratnya kembali muncul jika menyentuh gadis itu.


Tuan Anton milirik jam dinding di kamar itu. Ternyata sudah pukul 3 dini hari. Pria itu segera meminta Tari untuk tidur dan beristirahat karna besok mereka akan berkeliling desa. Tuan Anton melangkah pergi keluar kamar meninggalkan Tari di tempat itu sendirian.


Sedangkan Tari, gadis itu merasa bingung kenapa dia bisa tiba-tiba terlena dengan sentuhan sang papi. Dua tahun bersama, dia tetap membuat batasan dengan pria itu. Namun sedetik yang lalu, bahkan dia menikmati pagutan lembut menuntut dari sang papi. Membayangkannya saja membuat pipinya merona dan tubuhnya kembali meremang. Tari menggelengkan kepalanya pelan mencoba mengusir bayangan adegan yang baru saja ia lakukan. Segera dia menaiki ranjang dan menarik selimut. Semoga dengan tidur, bayangan kejadian barusan tidak kembali hinggap di kepalanya.


"Selamat pagi sayang!" sapa tuan Anton saat melihat gadisnya menghampirinya.


Saat ini tuan Anton sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang tamu. Gadis itu hanya diam. Ia masih merasa canggung dengan kejadian semalam, dimana dirinya dengan terang-terangan mengikuti permainan lidah sang papi. Namun semakin dipikir, memang itu yang seharusnya ia lakukan sebagai gadis kekasih sang papi. Bahkan seperti Hanie, harusnya Tari juga melakukan hal yang sama sebagai timbal balik dari kebaikan tuan Anton.


Ah tidak, tidak! Dia bukan gadis yang seperti itu. Biarlah semua orang memberi cap padanya sebagai sugar baby milik tuan Anton yang jelas dia tidak pernah melakukan hal diluar batas.


"Kamu kenapa? Sini!" Pria itu menepuk tempat kosong di sebelahnya.

__ADS_1


"Kenapa diam saja sayang?" tanya nya lagi sembari mengelus rambut panjang Tari.


Tari menggeleng pelan. "Ngga papa Pih. Maaf semalem ...."


"Sstttss!" Tuan Anton memotong ucapan Tari.


"Ngga usah minta maaf. Justru papi yang harus minta maaf sama kamu karna semalem papi tidak bisa mengendalikan diri."


Tari menunduk. Entahlah, dia tidak punya kalimat apapun untuk mengekspresikan suasana hatinya saat ini. Seperti sebuah Banda yang mengambang di atas air, terombang-ambing tak tahu harus bagaimana.


"Sekarang mandi gih! Kalau sudah selesai kita sarapan terus Papi mau ajak kamu jalan-jalan."


Tari tersenyum kemudian mengangguk. Segera ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Mengingat kembali ucapan sang papi tentang keselamatan Yoga, Tari harus menuruti semua perintah dan keinginan tuan Anton.


"Gimana? Kamu suka pemandangannya?"


Tari mengangguk girang. Papinya membawanya ke puncak bukit yang tidak begitu tinggi. Dari puncak itu mereka bisa melihat hamparan sawah hijau yang luas dan beberapa rumah warga yang terbuat dari kayu. Suasana di tempat itu masih asri dan sepertinya belum tersentuh oleh peradaban kota. Bahkan masih banyak anak-anak desa yang bermain di pinggiran sawah.


Tari memejamkan mata sembari tersenyum dan menghirup udara dalam-dalam. Menikmati udara yang masih segar tanpa polusi. Tuan Anton mengamatinya dari samping dan tersenyum. Cantik. Baginya, tak ada yang lebih indah dari sang gadis. Suasana desa yang masih asri dan udara yang segar, tidak lebih indah dari seorang yang sudah memenuhi hatinya itu, Tari.

__ADS_1


__ADS_2