
"Kamu itu, sebenarnya dapet uang dari mana, Je?"
Tari dan Gajendra sedang duduk di taman rumah sakit. Farhan dan Bilal pamit pulang karena hari sudah menjelang sore dan Adnan pasti di rumah sendirian. Dan setelah makan, Bu Mae langsung beristirahat. Gajendra dan Tari keluar kamar karena tak mau mengganggu waktu istirahat Bu Mae.
"Kamu kok nggak jawab sih, Gaje!"
"Mm?" Gajendra menoleh. "Kamu tanya apa, Tar?"
"Kamu dapet uang dari mana?" tanya Tari jengah.
"Oh, uang simpanan ku. Mm ... beberapa tahun ini," jawab Gajendra.
"Jadi kenapa kamu korbanin uang tabunganmu buat bantu keluargaku?" tanya Tari lagi.
"Soalnya aku sayang sama keluargamu, lebih-lebih sayang kamu!"
"Ish, mulai kan nggak jelas banget." Tari memukul pelan bahu Gajendra.
Gajendra mengeluh sakit. Namun, ia tersenyum. Ia hanya berpura-pura sakit agar gadis itu puas karena merasa telah menyakitinya.
"Kan aku udah jelas, Kirana Dwi Lestari! Jelas sayang dan cinta sama kamu, tapi kamu aja yang nggak pernah mau bikin semuanya jadi jelas."
"Ish, nggak ada ya ceritanya sahabat jadi cinta. Kamu nggak usah mengada-ada!"
"Ada ceritanya. Ntar kita yang bikin," kata Gajendra sambil mencubit gemas hidung Tari.
"Aduh, sakit!" pekik Tari.
"Kalau nggak mau yang sakit, berarti mau yang enak dong."
"Maksudnya apaan?"
"Sini aku cium, kalau dicium kan nggak sakit," jelas pria itu yang kemudian mendekatkan wajahnya pada Tari.
"Bo*do amat sama kamu, Je!" Tari berhasil menghindar dan pergi meninggalkan Gajendra yang masih tertawa karena berhasil mengerjainya.
__ADS_1
***
"Yang menjual rumah itu bukan orang yang kita cari, Tuan," jelas seseorang yang ditugaskan mencari informasi.
"Lalu siapa?"
"Saya sudah menghubungi orang tersebut dan yang menjawab adalah seorang laki-laki dewasa," jelasnya lagi.
Pria yang sering disebut 'Tuan' tersebut nampak berpikir. Setau nya, tidak ada laki-laki dewasa yang menjadi bagian dari keluarga yang sedang ia cari. Siapa laki-laki itu? Ah, ia lupa. Ini sudah enam tahun berlalu. Bisa saja anak-anak itu sudah beranjak dewasa.
"Katakan kita akan membeli rumah itu. Minta agar dia bertemu dengan kita."
"Baik, Tuan."
***
Hari berlalu. Waktu yang ditunggu telah tiba. Saat di mana Bu Mae akan menjalani operasi pengangkatan sel kanker di lambungnya. Beberapa menit yang lalu Bu Mae dan para petugas medis sudah masuk ke dalam ruang operasi. Setelah pintu tertutup, lampu berwarna merah di atas pintu ruang operasi pun langsung menyala. Menandakan bahwa tindakan operasi sedang berjalan di dalam sana. Farhan, Bilal, Tari dan Gajendra menunggu dengan tegang di luar ruangan.
Tari sedari tadi mondar-mandir tidak jelas di hadapan adik-adiknya, membuat Farhan jengah.
"Kakak nggak keluar suara dari tadi. Kenapa kamu suruh kakak diem?" Tari berkilah.
"Haeh." Bilal menghela napas kasar. Ia tidak mau ambil pusing dengan tingkah kakak perempuannya itu. Biarlah Farhan dan Tari berdebat semau mereka.
Farhan juga kembali diam. Ia memilih duduk bersebelahan dengan Bilal dan Gajendra. Meski sering berdebat, rasa cemas terlihat jelas di wajah mereka. Terkadang, doa-doa mereka panjatkan untuk kelancaran proses operasi di dalam sana. Semoga saja Tuhan mengabulkan doa mereka.
"Tar, duduk sini!" Gajendra menepuk bangku sebelahnya. "Tenangin diri kamu! Ibu akan baik-baik saja setelah ini."
Gadis itu menurut. Ia segera duduk di samping Gajendra, tapi ketenangannya hanya sebentar. Kini Tari menggerakkan salah satu kakinya ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk mengekspresikan rasa cemasnya. Gajendra yang melihat keadaan Tari pun segera menarik tangan Tari dan menggenggamnya. Menyalurkan energi positif agar gadis itu menjadi tenang.
Berhasil! Meski sempat ditarik, Gajendra tetap menggenggam jemari Tari hingga gadis itu menjadi tenang. Pria itu menepuk pelan tangan yang digenggamnya sambi tersenyum. Sedangkan Tari, awalnya ia tak mau Gajendra melakukan hal demikian apalagi di depan adik-adiknya. Namun, entah bagaimana caranya, genggaman tangan Gajendra membuatnya sedikit tenang dan berangsur menghilangkan rasa khawatir hingga akhirnya ia membiarkan jemarinya tetap digenggaman sahabatnya.
Sekitar satu setengah jam lamanya mereka masih setia menunggu di depan ruang operasi. Meski terlihat tenang, Bilal lebih sering melihat lampu berwarna merah yang menyala di atas pintu. Ia berharap lampu tersebut akan segera mati atau berganti warna. Itu tandanya operasi telah usai.
Tiba-tiba Bilal berdiri. Matanya terus menatap lampu di atas pintu. Orang di sekelilingnya pun terkejut dengan apa yang dilakukan Bilal. Mereka ikut mengarahkan pandangan ke atas pintu ruang operasi. Lampu merah itu sudah mati. Semuanya pun langsung tersenyum penuh syukur.
__ADS_1
"Akhirnya ...." Tari tak kuasa menahan rasa bahagianya hingga tanpa sadar memeluk Gajendra.
Yang dipeluk pun hanya tersenyum dan membalas pelukan Tari. Aji mumpung kalau orang bilang. Mumpung Tari tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Memanfaatkan kesempatan sedikit, tidak apa kan?
Pintu pun terbuka. Salah seorang dokter yang menangani Bu Mae keluar.
"Bagaimana, Dok?" tanya Bilal sambil mendekati dokter tersebut.
"Operasinya berjalan lancar," jawab dokter dengan singkat.
Seketika semua orang yang ada di sana mengucapkan rasa syukur. Bahagia tak terbendung dirasakan oleh Tari dan adik-adiknya. Sesaat kemudian, sebuah brankar sedang di dorong keluar dari dalam ruang operasi. Bu Mae berbaring di atasnya dengan berselimut sampai ujung leher dan masih tidak sadarkan diri.
Setelah mengucapkan banyak terimakasih, Tari dan keluarga segera mengikuti ke mana brankar tersebut didorong. Bukan ruangan yang dari kemarin Bu Mae tempati, tapi ruangan lain yang berfungsi sebagai ruang rawat pasien kanker pascaoperasi. Asal ibu sembuh, mereka akan menurut saja apa yang dilakukan oleh pihak rumah sakit.
"Syukurlah, kami sudah mengangkat sel kanker di perut pasien. Setelah ini saya menganjurkan pasien untuk menjalani kemoterapi agar sel kanker di dalam tubuh pasien benar-benar menghilang," ucap dokter saat mereka sudah berada di ruang rawat Bu Mae.
Tari mengangguk mendengarkan penjelasan dari dokter tersebut. Kali ini ia sangat percaya ibunya akan cepat pulih kembali. Apapun akan ia lakukan agar Bu Mae mendapatkan kembali kesehatannya. Ya, walaupun ia sangat tahu biaya pengobatan di kemudian hari pasti jauh lebih mahal.
****
Beberapa hari pascaoperasi, keadaan Bu Mae semakin membaik. Ia juga mau menjalani kemoterapi agar penyakit di dalam tubuhnya menghilang. Semangat untuk kembali sembuh selalu berkobar dalam hatinya. Ada anak-anak yang disayangi dan tidak akan pernah ia tinggalkan.
Hari ini, Tari menemui paklik di rumahnya. Beberapa menit yang lalu paklik memberi kabar bahwa ada orang yang ingin membeli rumah dan tanah yang ia jual. Tari tidak menyangka akan secepat ini mendapatkan pembeli. Pasalnya, kata paklik kemarin, jual tanah tidak seperti menjual beras.
"Beruntung kita bisa dapet pembeli yang nggak neko-neko, Tar. Ia langsung menyetujui harga yang kita berikan, tapi ...." Paklik diam sejenak.
"Tapi apa, Paklik?" tanya Tari penasaran.
"Ia minta ketemu sama paklik untuk melihat lokasi dan sekalian untuk mengurus balik nama," jelas paklik.
"Masalahnya lokasinya yang jauh di luar kota, Tar. Paklik juga nggak ada waktu. Kamu tau sendiri kan, paklik kerja ikut orang!"
Tari diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Benar kata paklik, paman dari Gajendra itu tidak mungkin bisa menemui pembeli. Mengingat lokasinya yang sangat jauh dari kotanya yang sekarang. Butuh waktu paling tidak sepuluh hingga dua belas jam perjalanan dengan bus umum. Itu berarti kemungkinan akan menginap di sana karena pasti sangat melelahkan.
Setelah memutuskan, akhirnya Tari yang akan pergi menemui pembeli. Itu pun dengan berbagai pertimbangan, mengingat masa lalu kelam yang sampai kini pun tidak bisa ia lupakan. Namun, demi Bu Mae, ia harus kembali ke sana. Tidak lama juga kan, mungkin hanya dua paling lama.
__ADS_1