KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 57


__ADS_3

Malam semakin sunyi. Angin malam seakan tak mau mengembara menjelajah dunia. Bahkan bintang pun tak mau menampakkan indah kelipnya. Langit terlihat mendung seperti suasana hati seorang gadis yang tengah merenungi jalan hidupnya. Tari, gadis berparas manis itu tengah duduk di kursi taman belakang. Tak ada yang ia lakukan. Hanya ingin duduk mencari ketenangan yang sempat menghilang.


Semua baik-baik saja sebelum seseorang datang dalam hidupnya. Dalam waktu yang singkat pria muda itu menggoyahkan perasaannya. Yoga, dia lah lelaki yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam hatinya. Apalah daya, Tari tak mampu menolak perasaannya meskipun sudah berulang kali ia lakukan. Walaupun gadis itu tahu, Yoga hanya mencintai sosok Ana bukan dirinya.


Gadis itu tengah berada dalam dilema, gelisah, galau dan merana. Ia tak mau mengeluarkan Yoga dari hati nya, juga tak sanggup meninggalkan Tuan Anton sang malaikat penolongnya. Dirinya sudah besar, harusnya bisa memilih siapa yang terbaik untuknya. Ya, benar. Tari harus memilih secepatnya. Namun, siapa yang terbaik? Yoga atau Tuan Anton?


Meskipun sudah disakiti tapi, cinta nya pada Yoga tidak mau pergi. Walaupun tidak dicintai tapi, Tuan Anton tetap setia menemani. Ah, andai saja ia tidak bermasalah dengan Yoga mungkin dirinya bisa memilih Yoga. Atau seandainya dia mencintai Tuan Anton mungkin dia sudah bahagia bersama nya. Tuan Anton lebih segalanya. Meski sering melakukan hal di luar batas, bukankah itu wajar? Dia seorang duda.


"Ayo lah Tari! Berpikir. Pilih salah satu diantara mereka dan yakinlah bahwa pilihanmu yang terbaik." ujarnya pada diri nya sendiri.


***


"Malam Papa, Mama!" sapa Tuan Anton pada kedua orang tua nya.


"Malam, Anton." balas kedua nya.


Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga. Tuan Anton yang baru saja datang langsung bergabung dengan kedua orang tuan nya.


"Maaf tidak menyambut kedatangan kalian."


"Papa tahu kamu sibuk." sahut Pak Widodo.


"Bagaimana kabarmu, Anton?" tanya sang mama.


"Aku baik, Ma." jawabnya.


"Papa yakin kamu sudah mengetahui kejadian tadi siang di rumah ini." ucap sang papa sembari meminum teh nya.


"Iya, aku sudah tahu."


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Yoga bisa bersikap seperti itu pada keluarga calon istrimu?" tanya Bu Ratih tak sabaran. Wanita itu ingin segera mengetahui apa yang terjadi.


"Haeh," desah Tuan Anton.


"Gadis ku juga gadis yang dicintai Yoga." jawabnya.

__ADS_1


Bu Ratih dan Pak Widodo saling menatap kebingungan.


"Coba jelaskan lebih rinci." pinta Pak Widodo.


"Kami sama-sama mencintai gadis yang sama. Aku sudah pernah bercerita, kan? Tari adalah gadis yang ku temui di klub dan ku jadikan sebagai kekasihku. Sayangnya, Yoga menemukan Tari yang sedang menjadi Ana. Lalu ia jatuh cinta pada gadis itu,"


"Tapi, Yoga tidak tahu bahwa Ana adalah Tari yang menjadi teman sekolahnya." lanjut Tuan Anton.


"Jadi mereka satu sekolah?" tanya Bu Ratih.


Tuan Anton mengangguk pelan.


"Kenapa kamu masukkan Yoga di sekolah yang sama dengan dia?" tanya sang mama lagi.


"Aku hanya bermaksud untuk mendekatkan mereka."


"Dan kamu berhasil." sela Pak Widodo.


"Yoga dan gadis itu semakin dekat dan menaruh rasa padanya. Benar, bukan?" imbuhnya.


"Siapa yang bisa memilih cinta untuk siapa, Ma?"


"Lantas, sekarang kamu mau bagaimana?" tanya sang papa.


"Aku tetap mencintai Tari apapun yang terjadi." tegas Tuan Anton.


"Apapun yang terbaik untukmu, Mama akan mendukungnya tapi, kamu jangan lupa Yoga itu anakmu!" pungkas sang mama kemudian ia pergi meninggalkan Tuan Anton dan papa nya.


Di balik dinding, Yoga tengah mendengar semua pembicaraan sang papa dengan kedua orang tuanya. Tiba-tiba hatinya gelisah. Seakan dirinya sedang bersaing memperebutkan sesuatu yang di impikan. Ia takut jika Tari dan papa nya benar-benar akan menikah.


Tunggu! Apa ini? Bukankan perasaan itu sudah dikuburnya dalam-dalam? Kenapa ia merasa resah jika kalah? Rasa nya tidak terima jika papa nya lah yang akan memenangkan hati gadis itu. Apa dia masih mencintainya?


Tak bisa dipungkiri, Ana ... Ah, tidak. Gadis itu masih menempati hati nya walaupun secuil. Hanya butuh satu menit untuk menumbuhkan benih cinta dalam hati. Namun, butuh waktu lama untuk melupakan rasa yang pernah ada.


"Aku tetap membenci nya." Yoga mendengus kesal. Kemudian ia pergi dari tempatnya menguping.

__ADS_1


***


"Yah, nggak bisa lihat cowok tampan lagi deh." keluh salah satu murid di kelas Tari.


"Iya, bener." sahut yang lain.


Tari yang pagi itu sudah duduk di bangkunya, sama sekali tak memperdulikan perbincangan para gadis di kelasnya. Seperti biasa, ia tak mau tahu dengan urusan orang lain di kelas itu.


"Yoga jadi pindah kelas?" teriak Sarah.


Gadis cantik itu tiba-tiba masuk ke kelas dengan histeris. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan yang sangat mendalam. Meskipun Yoga tak pernah meliriknya, Sarah masih terobsesi ingin memiliki pria tampan tersebut.


Tari yang mendengar teriakan Sarah langsung mendongak. Nama yang Sarah sebutkan menarik perhatiannya.


"Kenapa sih, harus pindah kelas? Jadi nggak punya vitamin mata lagi deh." tutur gadis lainnya dengan lesu.


Tari menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Gadis itu mulai membuka telinganya untuk mendengarkan percakapan Sarah dan teman-temannya. Dari mereka lah Tari jadi tahu bahwa Yoga mulai hari ini pindah ke kelas lain. Sebegitu bencinya kah Yoga pada dirinya? Hingga satu kelas dengannya pun Yoga sudah tidak sudi.


Tari tertunduk lesu. Ia semakin meyakinkan diri untuk mematahkan rasa yang tumbuh dalam dada. Ingin sekali ia bertemu dengan Yoga sekali saja. Hanya untuk mengucapkan kata maaf. Itu saja, tidak lebih. Namun, keberaniannya itu hanya seujung kuku. Nyalinya menciut terlalu siang tuk di ucapkan.


Andai saya Yoga mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu, mungkin yoga tak akan membencinya sedalam ini.


"Ini semua gara-gara Loe, dasar Cupu!" sergah Sarah.


Gadis cantik pujaan setiap murid laki-laki itu mengejutkan Tari yang sedang melamun. Tari yang terkejut langsung mendongak menatap Sarah dengan bingung.


"Kalau nggak karena Loe berbuat jahat sama yoga, dia nggak mungkin pindah dari kelas ini." Sarah menggebrak meja dengan murka.


"Dasar nggak tahu di untung. Di sekolah ini cuma dia yang mau temenan sama Loe, eh dengan gampangnya Loe malah nipu dia."


Tari yang mendapat amukan dari Sarah hanya diam menunduk. Tari tahu Sarah itu seperti apa. Jika ia melawan, Sarah pasti akan lebih banyak berbicara dan memaki nya.


"Lagian, kenapa masih Loe tutupi itu muka? Kebusukan Loe itu udah banyak yang tahu jadi percuma ditutupi."


"Udah, Sar. Kita mending pergi aja dan jangan ganggu dia! Loe nggak ingat kemarin apa kata Kepsek?" bisik salah seorang teman Sarah.

__ADS_1


Setelah itu, Sarah dan teman-temannya pergi meninggalkan Tari.


__ADS_2