KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 49


__ADS_3

"Astaga!" Tari terkejut saat membuka pintu kamar Tuan Anton.


Gadis itu sudah selesai menyiapkan air hangat dan juga pakaian ganti untuk sang papi. Saat hendak keluar dari kamar itu, ternyata sang papi juga akan masuk ke kamar. Tari mengeluh dada nya untuk menetralkan keterkejutannya.


"Kamu sudah selesai, Sayang?" tanya papi.


"I-iya, Pih." jawabnya sembari mengangguk.


"Ya sudah, Papi mandi dulu. Habis itu kita jalan-jalan ke mall. Sudah lama Papi tidak ajak kamu dan adik-adikmu jalan-jalan."


"Terserah Papih saja." ucap Tari lirih. Gadis itu segera berjalan menuruni tangga dan Tuan Anton juga segera membersihkan dirinya.


Beberapa saat kemudian papi dan keluarga kecil Tari sudah bersiap untuk pergi jalan-jalan sore ini. Tuan Anton juga tidak lupa untuk mengajak Bu Mae. Biar bagaimanapun Bu Mae yang sudah berjasa menolong keluarga kecil gadisnya. Wanita paruh baya tersebut kini juga tengah menikmati hasil yang ia tanam. Dia dengan ikhlas membantu Tari disaat susah, kini Tuhan membalasnya dengan memberikan kehidupan yang baik.


Keluarga yang terlihat harmonis itu segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggu mereka. Yoga, yang masih setia duduk di balik kemudinya itu mulai mengamati kembali gerak-gerik orang-orang itu. Yoga masih berada di depan rumah Tari. Entahlah apa yang ia tunggu, namun dengan dirinya masih berada di tempat itu kini ia bisa melihat kembali apa yang ingin ia yakini. Bahwa Tari adalah Ana dan gadis itu memiliki hubungan dengan sang papa.


Saat mobil papa nya sudah keluar gerbang, Yoga pun segera menghidupkan mesin mobilnya untuk mengikuti mereka dari belakang.


****


"Tari adalah Ana, dan Ana adalah gadis simpanan papa. Tari, bagaimana gadis polos itu bisa menjadi Ana yang cantik jelita? Bahkan dia juga bekerja di sebuah klub malam. Aaarg ..." Yoga merasa frustrasi.


Yoga baru saja pulang dari membuntuti sang papa. Sang papa dan gadis itu jalan-jalan di sebuah mall ternama di kota nya. Yoga juga bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu adalah Ana. Namun, ada adik-adik Tari dan juga Bu Mae di sana. Yoga semakin yakin bahwa Tari adalah Ana. Ah, membingungkan.


Yoga beberapa kali mencoba mengirim pesan pada Tari. Namun, pesannya itu terabaikan. Seperti perasaannya yang sedang terombang-ambing ingin percaya dan ingin menyangkal kebenaran. Rasa nya diabaikan oleh sang papa, Tari dan juga Ana. Hingga malam semakin larut, Yoga masih terjaga menyatukan kepingan-kepingan kejadian untuk membuktikan keyakinannya yang masih tetap ia sangkal. Hingga tanpa sadar yoga terlelap karena lelah berpikir.


****


Pagi hari nya, keadaan kembali normal. Tuan Anton sudah berbaikkan dengan Tari. Gadis itu pun juga sudah berangkat ke sekolah di antar oleh sang papi. Begitupun dengan Yoga. Dia juga sudah berada di parkiran sekolahnya. Yoga sengaja berangkat pagi agar tidak terus-terusan memikirkan Tari. Namun, bagaimana dia bisa mengusir pikirannya? Di sekolah pun dia akan bertemu dengan gadis itu.


Yoga melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Tak lupa ia mengalungkan tas di satu lengannya. Dia berjalan perlahan menuju kelasnya. Di koridor sekolah, Yoga berpapasan dengan Tari yang baru saja datang.


"Yoga," sapa Tari.

__ADS_1


Yoga diam sesaat, mengamati gadis itu dari bawah hingga ke atas. Jauh berbeda dengan penampilannya saat di rumah. Apakah itu hanya kamuflase untuk mengelabui dirinya?


"Hei,"


Yoga tersadar saat Tari melambaikan tangannya persis di depan wajahnya.


"Kamu kok malah melamun?" tanya Tari heran.


"Enggak apa-apa, yuk masuk kelas!" Yoga mencoba biasa saja meski hatinya menjerit ingin minta penjelasan dari gadis itu.


Kedua sahabat itu akhirnya berjalan beriringan menuju kelas mereka. Keduanya saling diam karena larut dalam pikiran masing-masing.


Pukul 07.00 WIB, seluruh kelas memulai kegiatan belajar dan mengajar. Beberapa dari para siswa terlihat fokus mengikuti pembelajaran, sedangkan sebagian lain terlihat tidak fokus dan asyik bermain ponsel dan lain sebagainya. Sampai pada jam istirahat tiba, terdengar sorak gembira para siswa yang senang karena pembelajaran dihentikan sejenak.


Yoga, sedari pagi tidak fokus mengikuti pembelajaran. Pikirannya selalu terngiang akan masalah yang sedang menerpa nya. Apa lagi yang dipikirkan tepat berada di sisinya. Semakin kacau lah isi kepalanya. Laki-laki itu tidak tahan lagi. Dia harus tahu kebenarannya.


"Tari," panggil Yoga.


"Ya?"


"Tanya apa, Ga?" Gadis itu balik bertanya.


"Aku sudah tahu rumahmu."


Tari terlihat terkejut. Tiba-tiba dia tidak bisa berpikir apapun. Tari yang sedari tadi melihat lawan bicaranya, kini membuang muka. Ia tidak mau wajah gugup nya terlihat jelas oleh Yoga.


"Kenapa diam saja, Tar?"


"Eh, enggak kok." Tari tersenyum kikuk.


"Aku juga lihat papa ku ada di rumahmu. Apa hubunganmu dengannya, Tar?" Yoga tak mau berbasa-basi lagi.


Deg,

__ADS_1


Jantung Tari bergemuruh. Mati kamu, Tari.


"Jawab, Tar!"


Gadis itu hanya diam. Tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Yoga. Keringat dingin mulai berbulir di seluruh tubuhnya. Dia takut, benar-benar takut.


"Tari," panggil Yoga sekali lagi. Laki-laki itu sedang tidak sabar sekarang.


"Aduh, Yoga perut ku laper banget. Makan dulu yuk! Habis itu kita ngobrol lagi." Tari bergegas keluar dari kelas. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Yoga. Gadis itu tidak mau semuanya terbongkar.


Sedangkan Yoga, dia mulai memanas. Sekarang ia yakin bahwa Tari adalah gadis simpanan papa nya. Terbukti gadis itu tidak bisa menjawab dan menghindarinya. Yoga segera berdiri dan berlari menghampiri Tari.


Sampai di koridor menuju kantin, Yoga melihat Tari yang berjalan tergesa-gesa.


"Tari!" panggil yoga. Gadis itu tidak menoleh sama sekali.


"Tari!" Sekali lagi Yoga memanggil gadis itu dengan nada sedikit keras.


"Ana!" pekik Yoga sekali lagi. Napasnya mulai naik turun dengan cepat. Laki-laki itu sedang menahan sesuatu di tubuhnya yang ingin keluar sekarang.


Panggilan Yoga yang terakhir sukses membuat langkah Tari terhenti. Gadis itu diam membeku di tempatnya. Tari benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Yoga langsung berjalan menghampiri Tari yang masih mematung. Laki-laki itu langsung membalikkan tubuh Tari untuk menghadapnya dengan kasar.


"Ana!" ucap Yoga dengan menahan amarah.


Tari hanya diam dan menunduk. Untuk menatap sahabatnya saja dia tidak berani.


"Jadi benar kamu adalah Ana?"


"Hahaha," Tiba-tiba Yoga tertawa. Dirinya merasa bo*doh sudah dikelabui oleh seorang gadis seperti Tari.


"A-aku bisa jelasin, Ga." ucap gadis itu takut-takut.


"Kamu mau jelasin apa lagi?" bentak Yoga.

__ADS_1


Semua orang yang ada di koridor itu Sontak menoleh ke arah Tari dan Yoga. Mereka menjadi ingin tahu apa yang terjadi antara keduanya karena baru kali ini mereka melihat Yoga membentak Tari di depan umum.


__ADS_2