KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 9


__ADS_3

Ana atau Tari, gadis yang paling di sayangi oleh tuan Anton. Hingga apapun yang gadis itu inginkan sebisa mungkin tuan Anton akan mengabulkannya. Termasuk masih tetap berada di klub itu. Beberapa tahun silam, istrinya meninggal karna sebuah penyakit kronis yang jarang sekali orang bisa sembuh karna penyakit itu. Berbagai cara sudah dilakukan hingga pengobatan ke luar negeri, namun takdir memang menginginkan istri tercintanya menghadap Tuhan.


Selama bertahun-tahun tuan Anton masih terpuruk dengan kepergian istrinya. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, dari yang hanya gila harta hingga yang tulus mencintainya. Namun ia tetap tak peduli, ia tetap memilih minuman sebagai penghangat tubuhnya, klub malam sebagai tempat singgahnya dan para wanita malam sebagai penghibur suasana hatinya.


Hingga 12 tahun masa duda nya, tuan Anton bertemu dengan seorang gadis manis di klub malamnya. Beberapa hari pria itu memperhatikan gadis itu, memintanya untuk menemani duduknya. Tuan Anton mencoba mendekati gadis itu, namun ternyata ia salah pemikiran. Gadis itu tak seperti para gadis yang bekerja di sana. Yang bila di minta menemani pelanggan, maka dengan senang hati akan mereka lakukan. Gadis itu hanya fokus dengan pekerjaannya, mengantarkan minuman dan makanan lalu membersihkan meja.


Dari biodata gadis itu, tuan Anton berhasil mendapatkan yang ia inginkan. Tuan Anton hanya sedikit menyentil kelemahan dari gadis itu, yaitu uang. Bukan karna gila harta, gadis itu memang benar-benar kesulitan perekonomian selepas menjadi yatim piatu. Tuan Anton benar-benar jatuh hati padanya, menempatkan nama gadis itu di hati yang terdalam.


Tari atau Ana, berhasil mengisi kekosongan hati tuan Anton. Pria itu benar-benar ingin gadis itu menjadi pendampingnya. Menjadi ibu dari anak-anaknya kelak, hingga itu semua bisa terwujud, ia harus bersabar hingga usia Tari benar-benar siap untuk dipersunting.


***


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Tari.


Tari yang sudah selesai berhias pun segera keluar rumah untuk menyambut kedatangan papi nya. Masih pukul tujuh, ketiga adik Tari masih belum tidur. Mereka masih asyik menonton tv. Tari melihat pria dewasa nan tampan dengan pakaian santai yang pria itu gunakan. Hanya memakai celana jeans panjang berwarna biru, juga kaos ketat berkerah yang bahkan tidak bisa menutupi otot-otot lengannya itu. Ah ... Bahkan pria setengah bule itu benar-benar menawan.


Tari sedikit terkesima dengan papinya yang bisa berubah jauh lebih muda malam ini.


"Hei, sayang ... Malah melamun! Papi ngga disuruh masuk?" Pria itu membuyarkan lamunan Tari. Segera Tari membawa tuan Anton untuk masuk ke dalam rumah.


Farhan dan juga Bilal yang mengetahui ada tamu langsung berhambur untuk menyapa dan menyalami tamu mereka. Keluarga mereka benar-benar menjunjung tinggi kesopanan dalam kehidupan. 'Anda sopan, kami segan' itu istilahnya.


"Hai jagoan kecil ...." Tidak langsung duduk di kursi tamu, setelah menyalami Farhan dan Bilal, tuan Anton malah ikut duduk bersama Adnan yang sedang menonton serial kartun negara sebelah.


"Papi ...." Adnan segera memeluk pria itu. Tuan Anton menghujani banyak kecupan di wajah anak kecil itu.


Tuan Anton memang sudah sangat akrab dengan ketiga adik Tari. Mereka sudah menganggap pria itu sebagai orang tua mereka. Saat libur sekolah, terkadang tuan Anton mengajak mereka untuk berwisata ke banyak tempat. Tari hanya memperhatikan mereka dengan senyuman.

__ADS_1


"Jagoan, Papi mau ajak Kakak pergi dulu ya." Tuan Anton meminta ijin.


"Atu itut! (Aku ikut!)"


"No sayang, besok saja ya pas Kak Farhan dan Kak Bilal libur sekolah Papi ajak Adnan ke pantai. Bagaimana?"


Adnan mengangguk.


Haeh, dikira mau ada drama Adnan merajuk minta ikut. 🤦


"Dek, Kakak pergi dulu ya. Jagain Adik-adik ya!" pintanya pada Farhan. Adik pertamanya itu mengangguk. Ia sudah paham dengan tugasnya. Dan ia pun tak pernah protes dengan semua perintah kakak satu-satunya itu.


Tuan Anton dan Tari sudah berada di dalam mobil. Gadis itu duduk dengan tuannya di kursi penumpang, sedangkan yang menjadi supirnya adalah si Beni. Si asisten dingin dan arogan dalam cerita ini.


"Kita mau kemana Pih?"


"Apaan sih Pih? Ana kan cuma pakai baju biasa. Ngga dandan juga."


Malam ini, Tari memakai minidress brukat lengan pendek berwarna navy. Warna kesukaannya. Yang membuat tak biasa adalah bagian leher yang terbuka, membuat bagian dadanya sangat menonjol.


"Tapi kamu memang sangat cantik sayang." Kali ini tuan Anton mencium ceruk leher milik Tari.


"Ah ...." pekik Tari ketika merasakan geli pada bagian yang tengah di kecup oleh papinya.


"Papih!" Tari mendorong tubuh tuan Anton agar menjauh darinya. Sungguh, ia sangat malu sekali. Baru kali ini ia diperlakukan demikian oleh tuannya. Apalagi di mobil itu mereka tidak berdua, melainkan ada Beni si arogan.


"Maaf sayang, Papi ngga sengaja." Tuan Anton merasa menyesal ketika melihat Tari yang tiba-tiba diam dan melihat ke luar jendela. Tari hanya diam saja. Jujur saja, ada gelenyar aneh yang menyengat tubuh gadis itu. Entah perasaan apa itu.

__ADS_1


"Sayang!" panggil tuan Anton itu dengan lembut. Pria itu menggengam erat jemari gadisnya dan menciumnya.


"Maaf ...." Sungguh tuan Anton benar-benar menyesal. Entah kenapa malam ini melihat leher jenjang milik gadisnya membuat gelora dalam tubuhnya membara. Sabar, sabar ... Buah yang kau tanam belum matang sempurna tuan!


Setelah kejadian itu Tari selalu diam, hingga kini mobil mereka telah sampai di sebuah dermaga di kota itu.


Beni segera turun dan membukakan pintu untuk tuan Anton lalu pria itu keluar dan membukakan pintu untuk gadisnya.


"Ayo sayang," Tari hanya diam dan mengikuti langkah tuanya. Dan pria itu tak pernah melepas genggaman tangan mereka.


Tari hanya bisa menerka-nerka dalam benaknya. Mau di bawa kemana dirinya?


Tuan Anton membawa Tari ke sebuah kapal pesiar mewah miliknya. Setelah dua penumpang itu naik ke kapal, sang nahkoda segera membawa mereka ke tengah laut untuk menikmati indahnya malam di lautan.


Tuan Anton menggiring gadisnya ke deck bagian atas, tempat yang paling di sukai oleh para pasangan untuk menikmati langit malam yang indah. Tari terkesiap, dengan wajah bahagia ia menatap hamparan bintang di atasnya. Sungguh, ini adalah pengalaman pertamanya menatap langit tanpa penghalang. Tari melangkah menuju ujung deck, pandangannya kini tertuju pada lampu kota yang berkelip dari kejauhan. Sungguh sangat indah.


Tuan Anton menghampiri gadisnya dan memeluknya dari belakang.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" bisiknya pada gadis itu.


Tari tersenyum, ia sedikit menoleh memperlihatkan senyumannya. "Suka sekali Pih."


"I love you!" Tari hanya menanggapinya dengan tersenyum lalu menatap kembali kerlap-kerlip lampu di hadapannya.


Baginya, sebuah kalimat itu adalah hal biasa yang sering ia dengar dari mulut pria itu. Jadi, tak ada getaran sedikitpun di hatinya saat mendengar kalimat sakral itu.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2