
"Stadium III. Sel kanker telah menyebar ke serosa dan kelenjar getah bening," jelas dokter.
Tari yang duduk di depan meja sang dokter hanya bisa menghela napas kasar. Mau bagaimana lagi?
"Secepatnya kita akan melakukan operasi dan kemoterapi agar sel kanker tidak menyebar ke organ lainnya," jelas dokter lagi.
"Setelah ini, silahkan Mbak datang ke bagian administrasi agar operasi cepat kita lakukan. Waktu kita tidak banyak, Mbak. Sel kanker bisa menyebar dalam waktu yang singkat," imbuhnya.
Tari hanya diam mendengarkan penjelasan dokter yang ada di hadapannya. Ia mendengar dokter tersebut berbicara, tapi pikirannya kini tengah berada di tempat lain. Setelah dokter selesai menjelaskan, Tari segera pamit untuk ke bagian administrasi. Dengan langkah gontai gadis itu terus berjalan melewati koridor rumah sakit menuju bagian administrasi.
****
"Tari!"
Seseorang memanggil Tari dari belakang. Gadis yang hendak masuk ke ruangan ibunya langsung menoleh.
"Bulik,"
Bulik Kiswanti, ia datang bersama suaminya. Bermaksud untuk menjenguk Bu Mae, Bulik Kiswanti membawa parsel buah di tangannya.
"Gimana keadaan ibumu?" tanya suami Bulik Kiswanti saat sudah dekat dengan Tari.
"Ibu di dalam. Paklik sama Bulik bisa langsung liat aja." Kedua suami istri tersebut mengangguk. Kemudian mereka mengikuti Tari masuk ke dalam ruangan.
"Jeng," sapa bulik pada Bu Mae.
__ADS_1
"Mas, Mbak!" balas Bu Mae.
"Gimana keadaannya?"
"Ya seperti ini, Mbak. Perutku masih sering sakit."
"Itu mungkin karena kamu nggak jaga pola makan, Jeng."
"Sstt, Bu nggak boleh gitu." Paklik menyenggol pelan lengan istrinya. Merasa tidak enak pada Bu Mae dan Tari karena seakan malah menyalahkan Bu Mae.
"Hehe, maaf, Jeng." Bulik nyengir.
Melihat tingkah konyol Bulik Kiswanti, membuat Tari ingat dengan Gajendra. Pria yang satu jam yang lalu pamit pulang bersana Farhan itu sama persis kekonyolannya seperti bibinya. Mungkin itu memang genetik yang keluarga mereka turunkan.
"Tar, sebenarnya apa yang diderita ibumu?" tanya paklik.
Tari hanya diam. Masih belum sanggup rasanya memberitahu keadaan ibunya saat ini. Ia merasa tidak tega dan takut akan menjadi beban pikiran sang ibu. Dan malah akan membuat kondisinya semakin parah karena banyak pikiran. Tiga pasang mata itu melihat ke arahnya. Menanti jawaban dari mulut Tari agar mereka tidak penasaran.
Saat hendak menjawab, tiba-tiba pintu diketuk dan terbuka. Beberapa perawat datang untuk membawa pasien sebelah entah ke mana. Konsentrasi mereka pun terpecah dan tidak lagi menatap tari meminta jawaban.
Kesempatan ini Tari manfaatkan untuk mengalihkan pembicaraan. Ia segera membuka parsel buah yang baru saja diterimanya kemudian mengambil buah apel lalu dikupas. Sedangkan paklik, bulik dan ibunya tengah berbincang-bincang. Tari sudah selesai mengupas apel, langsung memotongnya kecil-kecil dan menaruhnya di piring kecil.
"Bu, makan ini ya!"
****
__ADS_1
"Kita harus cari uang di mana, Kak?" tanya Farhan cemas.
Saat ini Tari dan Farhan tengah berada di ruang tamu rumah mereka. Tari pulang karena sudah dua hari ia tidak mandi dan berganti pakaian. Rasa sedihnya karena sakit yang Bu Mae derita membuatnya lupa dengan dirinya sendiri. Apalagi biaya rumah sakit yang tidak sedikit. Tari sangat bingung mencari cara agar ibunya bisa pulih kembali. Bahkan sampai saat ini pun, ia enggan untuk makan, barang sesuap.
Gadis itu tak langsung menjawab pertanyaan adiknya. Ia sendiri pun sedang memikirkan hal yang sama. Dari mana ia akan dapatkan biaya untuk pengobatan ibunya. Hanya biaya operasinya saja sudah di atas sepuluh juta. Belum lagi biaya perawatan dan kamar, juga kemoterapi. Ada tabungan, tapi itu hanya bisa untuk membayar biaya rawat inap.
"Kak," panggil Farhan memecahkan lamunannya.
"Nanti akan kakak pikirkan. Kamu mending sekarang temenin Bilal di rumah sakit. Kasian dia kalau sendirian jagain ibu." Farhan mengangguk.
"Kalau ibu tanya, jangan kasih tau dulu sakitnya. Kakak nggak mau ibu jadi pikiran."
Farhan kembali mengangguk dan bersiap ke rumah sakit. Sepeninggal Farhan, Tari langsung masuk ke kamar Adnan dan ikut berbaring di samping bocah yang sudah terlelap itu. Hanya sekedar ingin beristirahat dengan merebahkan tubuh, berharap otak juga ikut merasa tenang.
Belum genap lima menit Tari merebahkan diri, gadis itu kembali terbangun dan langsung mendudukkan badannya. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Gadis itu bangkit dan keluar menuju kamar Bu Mae.
Setelah masuk, matanya langsung tertuju pada sebuah lemari kecil di samping lemari pakaian yang besar. Namun, ia tak lantas menuju lemari tersebut dan malah mengangkat kasur milik Bu Mae, seperti sedang mencari sesuatu di sana.
Dari ujung hingga ujung sudah dicarinya, tapi belum ketemu juga. Apa yang Tari cari? Gadis itu mengangkat kasur lebih tinggi lagi. Dan, ketemu. Sebuah kunci usang dengan bandul lafal basmalah menggantung. Diambilnya kunci tersebut dan kembali merapikan tempat tidur.
Dengan senyum yang terukir, Tari langsung membuka lemari kecil tersebut. Agak susah memang karena gembok yang menggantung sudah sedikit berkarat di bagian lubang kuncinya. Beberapa menit kemudian, gadis itu berhasil membuka lemari tersebut. Beberapa lembar stop map tertata rapi di dalamnya. Tangan Tari dengan cekatan memilah-milah stop map tersebut.
Dibacanya satu persatu tulisan yang ada di depan stop map tersebut. Pencariannya berhenti saat Tari menemukan stop map bertuliskan sertifikat tanah dan rumah. Senyumannya mengembang kembali. Ia menemukan cara bagaimana ibu bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sertifikat tanah dan rumah milik Bu Mae yang ada di kota yang pernah mereka tempati dulu. Ibu pasti tak akan keberatan jika tanah dan rumah itu dijual. Nanti, setelah Bu Mae sembuh, ia akan bekerja keras untuk menggantinya. Semoga cukup untuk biaya rumah sakit sampai sembuh.
__ADS_1
Tari keluar kamar Bu Mae dengan membawa sertifikat tersebut. Besok ia akan minta tolong pada paklik untuk menjualkannya. Setelah terjual, ibu akan langsung dioperasi dan segera sembuh.
Tari kembali masuk ke kamar Adnan dan tidur di sampingnya. Hanya memejamkan mata, ia masih tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikiran tentang ibu yang tidak berada di rumah membuatnya tak tenang. Banyak kemungkinan yang pasti akan terjadi. Ibu sembuh dan kembali berkumpul bersamanya atau ....