
"Tunggu, kenapa dengan bibirmu?" Tuan Anton mengusap bibir Ana dengan ibu jarinya.
Bibir bawah gadis itu memang sedikit bengkak dan terdapat luka memerah disana. Ana terdiam, memikirkan jawaban yang tepat yang akan ia lontarkan. Tidak mungkin kan Ana bilang kalau lukanya karna di gigit Yoga, anak tuan Anton sendiri.
"Ah, semalam karna mabuk jadi Ana terjatuh kebentur meja. " jawabnya.
"Kamu hati-hati dong sayang, papi ngga bisa liat kamu terluka gini. Udah diobati? Perlu ke dokter? Ini bengkak loh."
"Engga usah Pih, Ana ngga papa kok." Ana tersenyum.
"Oh iya, Papi mau minum apa?" Ana mencoba mengalihkan pembicaraan dengan tuan Anton.
Ana memeluk pinggang tuan Anton dan membawanya ke ruang tamu. Tidak etis jika perbincangan mereka lakukan di gawang pintu kamar Ana.
"Kamu benar ngga apa-apa sayang? Kita ke dokter ya?" tanya tuan Anton.
"Engga Pih, Ana cuma pusing karna efek mabuk. Sekarang juga udah sembuh soalnya udah ketemu Papih."
"Dih, pinter gombal ya sekarang kamu." Tuan Anton tertawa mendengar gombalan gadisnya. Ia mencubit gemas hidung Ana. Sumpah demi apapun, amarahnya selalu hilang entah kemana jika sudah bersama Ana.
****
Di sekolah, Yoga merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya. Pesannya pun tidak dibalas oleh Tari. Apa yang terjadi pada gadis itu? Dari semalam tidak ada kabar. Keluarganya pun kemana? Apa mereka sedang pergi ke suatu tempat? Banyak pertanyaan yang dipikirkan Yoga saat ini. Yoga adalah tipe orang yang jika sudah suka, ia akan sangat peduli pada orang itu. Sebenarnya apa yang ia sukai dari Tari dan memilihnya menjadi sahabatnya?
Menurutnya, Tari gadis yang sangat baik. Berbeda dengan yang lain yang berteman karna ada maksud tertentu. Gadis polos itu lah yang paling mencolok di kelas saat pertama kali ia memasuki nya. Apalagi setelah tahu apa yang teman-teman lakukan padanya, semakin merasa simpati lah Yoga. Mencari teman seperti Tari di jaman sekarang sangat sulit. Banyak dari mereka yang bermuka dua dan ingin berteman karna ada maunya.
Pulang sekolah, Yoga melajukan mobilnya ke rumah Tari. Sehari saja tidak bertemu gadis itu seperti ada yang hilang. Sampai di depan gang rumah Tari, Yoga berpapasan dengan mobil yang tidak asing baginya. Seperti pernah melihat mobil dengan pelat nomor sama namun entah dimana. Kaca mobil itu gelap jadi Yoga tidak tahu siapa yang mengemudi. Sedangkan di dalam mobil itu, pengemudinya tidak menyadari bahwa anaknya baru saja berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Selamat siang Bu, Tari nya ada?" tanya Yoga saat ia melihat bu Mae keluar dari rumah Tari.
Bu Mae tersenyum, "Ada Nak, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu." bu Mae meempersilahkan Yoga duduk di teras depan.
"Tari, ada nak Yoga di depan." ucap bu Mae saat melihat Tari baru saja keluar kamar mandi.
"Siapa Bu?" Tari terkejut dan meminta bu Mae mengulang kata-katanya.
"Ada nak Yoga di depan."
"Aduh," Tari menepuk dahinya pelan. Baru saja pulang orangtua nya sekarang giliran anak nya yang datang.
"Kamu kenapa?" tanya bu Mae heran.
"Em, ngga papa Bu. Tari mau ke kamar dulu ganti baju."
Tunggu, bekas luka di bibirnya masih terlihat jelas. Tari mendekatkan wajahnya ke cermin agar bisa melihat lukanya lebih jelas lagi. Bagaimana ini? Luka ini pasti akan membuat masalah baru nantinya.
Tari mencari benda di sekelilingnya yang bisa digunakan untuk menutupi bibirnya. Sebuah masker dari dalam laci nakas menjadi pilihannya. Tari segera memakai masker itu dan keluar kamar.
"Yoga," sapanya pada Yoga yang masih setia duduk di teras sembari melihat Adnan yang sedang bermain dengan bu Mae.
"Eh Tari." Yoga menoleh.
Tari mengajak Yoga masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Tempat dimana papa Yoga juga duduk sebelumnya.
"Kamu kenapa ngga berangkat sekolah Tar?" tanya Yoga tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Em, aku lagi ngga enak badan Ga."
"Oh, pantes dari semalem kamu ngga ada kabar. Aku telpon juga ngga kamu angkat."
Ah iya, banyak panggilan masuk dari Yoga semalam. Tari baru menyadarinya saat ia membuka ponselnya tadi pagi.
"Sebenarnya semalem aku mau minta tolong ke kamu Tar. Tadi malem aku ketemu Ana dan dia lagi mabuk. Terus aku bawa dia kesini siapa tau kamu bisa bantu cari rumahnya. Eh ternyata rumah kamu ngga ada orang, kamu nya juga ngga bisa dihubungi." Tari diam saja mendengar cerita Yoga panjang lebar.
"Kamu kenapa pake masker gitu Tar?" tanya Yoga lagi. "Lagi batuk ya?"
"Eh, uhuk ... Uhuk ... I-iya Ga. Aku lagi batuk." jawab Tari berbohong.
"Udah ke dokter?" Yoga mendekati Tari. Ia mencoba menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Tari. Karna terkejut, Tari pun memundurkan tubuhnya.
"Diam dulu! Aku cuma mau ngetes suhu badan kamu." Yoga menempelkan tangannya di dahi sahabatnya. Merasakan suhu tubuh Tari di kulitnya.
Tari hanya diam, ia tidak berani melakukan apapun. Bahkan hanya untuk berkedipun ia tidak mampu dan hanya memejamkan matanya selama Yoga masih mengecek suhu tubuhnya.
"Engga panas kok." Yoga menjauhkan tangannya sembari tersenyum.
Bukan panas yang sedang Tari rasakan. Melainkan detak jantung yang bergemuruh sedari tadi. Laki-laki di sampingnya ini memang selalu membuat jantungnya berolahraga. Yoga dan Tari membenahi letak duduknya kembali. Rasa canggung dirasakan oleh Tari saat ini, apalagi jika mengingat adegan semalam bersama Yoga. Ah, semoga Yoga tidak pernah menyadari bahwa yang semalam itu adalah dirinya.
"Oh iya, Farhan sama Bilal kemana? Kok ngga kelihatan?"
"Em, mereka belum pulang sekolah kayaknya." jawab Tari sekenanya. Ia masih menata letak jantungnya agar kembali normal dan tidak berguncang seperti sebelumnya.
Tari, mau sampai kapan dia akan menutupi kebohongan demi kebohongan di depan Yoga? Gadis itu diam-diam mencintai sahabat yang baru ia kenal beberapa bulan ini, yang tak lain adalah anak dari orang yang selama ini mengikatnya dalam sebuah hubungan. Semua orang terkecuali Yoga tahu, gadis itu adalah gadis milik tuan Anton. Apakah hubungan mereka akan terus berlanjut seperti ini?
__ADS_1