KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 54


__ADS_3

"Kamu itu terlalu antusias dengan cerita Yoga, apa kamu begitu mencintainya?"


Deg,


Tari terkesiap. Bagaimana ia menjawab pertanyaan papi nya? Bahkan dia sendiri pun bingung dengan perasaannya. Dirinya mencintai Yoga dan namanya juga sudah mengisi hatinya. Namun, akhir-akhir ini dia tidak bisa jika tidak melihat Tuan Anton sehari saja.


Tari hanya bisa menatap manik sang papi dengan menggelengkan kepala. Sekali lagi, keselamatan Yoga adalah yang utama. Tuan Anton tersenyum, meski dia tahu di hati Tari jelas menginginkan Yoga namun dia sudah cukup bahagia gadisnya tidak mau pergi dari sisinya.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur! Besok kan harus sekolah." titah Tuan Anton.


"Pih, Tari nggak mau sekolah lagi." ucap gadis itu sembari menunduk lesu.


Biar bagaimana pun, Tari adalah manusia biasa dan dia juga memiliki sisi hati yang rapuh. Meski sudah bertahun-tahun terbiasa dikucilkan, kali ini lebih mengerikan. Dia tidak sanggup membayangkan jika esok dirinya harus mendapatkan tatapan mengintimidasi dari para siswa. Apa lagi kebenaran akan diri nya sudah terbongkar.


Tuan Anton menarik Tari ke dalam pelukannya. "Kamu yang sabar, ya. Sebentar lagi kamu lulus dan Papi akan segera bawa kamu pergi dari sini."


"Hiks ... Hiks ...." Gadis itu mulai menangis.


"Hei, jangan menangis!"


Tari semakin mempererat pelukannya pada sang papi. Benar, dirinya butuh sandaran. Dia butuh seseorang untuk selalu menyemangatinya setiap hari. Bagaimana dia bisa memilih Yoga meski hatinya ingin? Nyatanya Tuan Anton lebih memberi kenyamanan untuknya. Apa lagi sekarang mungkin Yoga sudah sangat membencinya. Semakin pupus lah harapan untuk menyatukan cinta mereka.


"Jangan menangis, Sayang! Hati Papi sakit mendengar isak tangismu." Tuan Anton mencium kening Tari dengan lembut.


"Sekarang tidur, ya! Papa akan urus masalah di sekolah kamu. Dan juga masalah Yoga."


"Yoga?"


Gadis itu tiba-tiba melepas pelukannya dan berhenti menangis. Ia mengusap wajahnya yang basah karena air mata yang terus mengalir.


"Ja-jangan apa-apain Yoga, Pih! Hiks,"

__ADS_1


"Memangnya Papi mau apain dia, Sayang?"


"Tari nggak mau Yoga bernasib sama seperti pelanggan itu."


"Hahaha," Tuan Anton tergelak.


"Mana mungkin Papi menghajar Yoga? Apa Papi orang yang setega itu? Sekarang, tidurlah!"


Tuan Anton kembali mengecup kening sang gadis dan mengusap wajah Tari yang basah. Kemudian pria itu bangkit dan keluar dari kamar Tari. Senyum yang ia toreh selama bersama gadis itu langsung menghilang setelah ia menutup pintu kamar Tari dari luar. Wajahnya berubah masam ketika mengetahui Tari lebih mencintai anak nya.


Kurang apa dirinya selama ini? Bahkan Yoga tidak bisa memahami gadis itu seperti dirinya. Apa yang Tari lihat dari Yoga? Kaya? Ah, tidak. Tampan? Ah, bahkan ketampanan Yoga didapat darinya. Dia hanya kalah dalam usia. Tapi bukankah pria matang lebih menggoda?


****


Pagi ini, Tari dan adik-adiknya diantar oleh sang papi. Setelah mengantar Farhan dan Bilal, Tuan Anton melajukan mobilnya kembali menuju sekolah Tari. Ia juga bermaksud datang ke sekolah itu untuk meredam permasalahan yang di akibatkan oleh perbuatan Yoga kemarin. Tidak perlu menunggu Beni yang menyelesaikannya, selagi bisa dia akan turun tangan sendiri.


"Sayang, kita sudah sampai." kata Tuan Anton yang mengejutkan Tari.


Dengan lesu Tari melepas sabuk pengaman di pinggangnya. Kemudian Tari melihat ke luar mobil. Sudah banyak orang yang berlalu lalang di sekolah itu. Malas sekali rasanya harus melewati mata dan bibir yang selalu mengolok-olok nya. Apa lagi sekarang ini dirinya diantar oleh Tuan Anton dan semakin bertambahlah cibiran mereka.


"Tari, malas melihat mereka, Pih." jawabnya lirih.


"Kamu tenang, yah!" Tuan Anton mengeluh rambut Tari dan berusaha menenangkan gadis itu.


"Sebentar lagi Papi akan urus semuanya, dan Papi berjanji hari ini mereka tidak akan berani lagi mengusikmu." imbuhnya.


Akhirnya dengan bujukan sang papi, Tari keluar dari mobil. Sebelum itu gadis itu menyempatkan diri untuk berpamitan dan menyalami Tuan Anton. Pria itu juga ikut turun dari mobil dan berjalan menuju ruang kantor di sekolah tersebut.


****


Di ruang rawat inap yang Yoga tempati, Beni tengah menunggu anak majikannya. Sebenarnya dia banyak pekerjaan yang menunggu di kantor. Apa lagi salah satu lokasi pertambangan yang mereka kelola baru saja mengalami bencana alam. Namun, dia tak kuasa menolak perintah Tuan Anton untuk menjaga Yoga dan mengurus kepulangannya hari ini.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu hubungan papa dengan dia?" tanya Yoga pada Beni yang tengah mengupas buah untuk Yoga.


"Dia siapa, Tuan?"


"Aku tidak sudi lagi menyebut namanya." Matanya terpancar kebencian yang mendalam.


"Nona Tari?"


"Dia gadis kecil yang bekerja sebagai pelayan di klub malam itu." Beni mulai bercerita.


"Iya, dia la*cur yang menggoda papa dan juga menggodaku." tukas Yoga.


Beni tersenyum geli dengan pernyataan yang Yoga lontarkan. Tangan kanan Tuan Anton itu kemudian memberikan sepiring buah-buahan yang sudah ia kupas dan potong kecil-kecil.


"Apa masih kurang yang papa berikan padanya sampai harus mendekatiku juga?"


"Bukankah anda yang mendekatinya, Tuan?" tanya Beni sembari menahan tawanya.


Sedangkan Yoga, ia memakan potongan buah satu persatu sembari menatap Beni dengan serius. Dirinya merasa tidak pernah mendekati gadis itu sama sekali.


"Saya akan urus kepulangan anda hari ini, Tuan."


Beni pun pergi dari ruangan tersebut untuk mengurus administrasi perawatan Yoga selama sehari semalam. Yoga, mulai sekarang sepertinya akan menaruh dendam pada gadis itu. Rasa dihianati dan dibohongi oleh gadis itu membuatnya sangat sakit hati. Ia merasa cintanya tulus untuk Ana dan juga rasa sayang penuh untuk Tari. Namun, pada kenyataannya dua nama itu adalah satu gadis yang sama. Dia benar-benar merasa dipermainkan.


Kenapa gadis itu tidak bilang dari awal? Apa lagi dia adalah calon ibu sambungnya. Ah, serumit ini kah? Dia mencintai seorang gadis malam yang juga berperan sebagai sahabatnya yang ternyata juga calon ibu sambungnya.


"Haeh, senetron." celetuknya.


****


Di sekolah, tidak ada yang terjadi. Seakan semua yang ada di lingkungan sekolah itu sudah terbungkam seluruhnya. Mereka melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Tidak ada cibiran dan gunjingan tentang kejadian di hari yang lalu. Kuasa Tuan Anton memang benar-benar bisa di andalkan. Dalam sekejap ia bisa menutup satu permasalahan yang mengusik dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Pria matang idaman setiap wanita. Siapa yang tidak terpesona akan sosok Tuan Antonio Widodo? Karismanya melelehkan hati wanita yang melihatnya. Kebaikan dan ketulusan hatinya menjadi poin lebih untuk dirinya.


Sharanghae Tuan Anton .... 😘


__ADS_2