
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Tari setelah dokter jaga yang menangani ibunya selesai memeriksa.
"Dugaan sementara asam lambungnya naik, itulah sebabnya pasien selalu merasa kesakitan di bagian ulu hati, tapi kami akan memeriksa pasien lebih lanjut lagi besok," jawab seorang dokter jaga di IGD.
"Kenapa hanya menduga? Kenapa harus tunggu besok?" Tari tidak puas dengan jawaban sang dokter.
"Karena dokter spesialis penyakit dalam sudah pulang, Mbak. Kami hanya dokter umum yang berjaga di IGD. Dan kami tidak berani mendiagnosa asal-asalan sebelum pasien menjalani beberapa pemeriksaan lebih lanjut," jelas dokter tersebut.
"Itu juga mendiagnosa asal-asalan kan, Dok? Saya mau tahu ibu saya sebenarnya sakit apa? Selama ini ibu tidak pernah mengeluh tentang apapun. Dia sehat-sehat saja. Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
Tari mulai histeris. Sedangkan sang dokter hanya diam menanggapi pertanyaan Tari. Ia sudah sering bertemu dengan keluarga pasien yang seperti Tari. Saat seperti ini, mau dijelaskan seperti apapun tidak akan diterima oleh keluarga pasien.
"Kenapa nggak sekarang aja ibu saya diperiksa, Dok? Kenapa harus tunggu besok? Ini kan rumah sakit besar, nggak mungkin kan kalian nggak punya alat-alatnya?"
"Mbak tolong tenang dulu. Besok kami sudah jadwalkan pemeriksaan pasien dengan Dokter spesialis gastroenterologi. Pasien akan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Kami juga sudah mengambil sampel darah pasien untuk diperiksa dan hasilnya akan keluar besok, " ucap dokter jaga yang lainnya.
"Saya nggak bisa tunggu sampai besok, Dok. Han, kita pindah rumah sakit lain aja. Di sini pelayanannya buruk," kata Tari sambil melirik dokter yang ada di depannya. Semua mata tertuju padanya yang sedang marah-marah tidak sabaran.
"Kak, tenang bisa nggak?" bisik Bilal. Ia mulai malu melihat kakaknya marah-marah dan menjadi tontonan banyak orang.
"Kak, kita tau Kakak khawatir sama keadaan ibu. Kita juga. Tolong jangan kayak gini! Kita tunggu besok buat pemeriksaan. Kita harus ikuti prosedur rumah sakit, nggak boleh seenaknya sendiri, Kak. Lagian ini sudah malam, jadi yang ada pasti hanya dokter jaga saja. Apalagi Kakak kayak gini udah pasti ganggu pasien lain." Farhan mencoba memberi pengertian sebisanya.
Tari diam. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Beberapa pasang mata sedang melihat ke arahnya. Dan beberapa pasien yang tengah menunggu diperiksa terlihat terganggu.
Farhan benar, dirinya tidak bisa memaksakan keinginannya sekarang. Tari berusaha tenang kembali meski tidak bisa menghilangkan kekhawatiran di raut wajahnya. Setelah membawa Tari duduk kembali di samping tempat tidur khusus pasien, Farhan segera mengurus pendaftaran untuk mendapatkan kamar rawat inap. Sedangkan Bilal, ia diminta membawa pulang Adnan karena tidak mungkin bocah kecil itu ikut menjaga Bu Mae di rumah sakit.
__ADS_1
Tari menatap tubuh wanita yang tengah berbaring di hadapannya dengan sayu. Sedih rasanya melihat orang terdekat terbaring lemah tak berdaya. Tari menggenggam tangan Bu Mae kemudian menciumnya. Membawanya ke dalam pelukannya.
"Jangan sakit, Bu," ucapnya disela-sela tetesan air matanya.
****
Pagi menjelang, Tari masih terjaga. Ia tak bisa memejamkan matanya karena mengkhawatirkan Bu Mae. Semalam, setelah Farhan selesai mengurus pendaftaran, beberapa perawat langsung membawa Bu Mae pindah ke ruang rawat inap. Bukan ruang VIP seperti dalam cerita novel lainnya. Bu Mae di tempatkan dalam ruangan yang dapat menampung empat pasien.
"Kak, sarapan dulu." Farhan datang dengan menenteng kantung plastik warna hitam di tangannya. Tari bergeming, ia masih terus mengelus tangan Bu Mae yang digenggamnya.
"Kak!" Farhan memanggilnya sekali lagi.
"Nanti aja, tunggu ibu bangun. Kakak mau makan sama ibu," jawabnya tanpa melepaskan pandangannya pada Bu Mae.
"Tapi Kak, dari semalam Kakak belum makan. Biar nanti kalau ibu udah bangun, kita suruh makan."
"Ibu! Tari terkejut ketika Bu Mae membuka mata perlahan dan menoleh padanya.
"Tari."
"Ya, Bu. Tari disini bersama Ibu."
"Perut ibu sakit, Nak," ucap Bu Mae sambil merintih memegangi perutnya.
"Tenang, Bu. Ibu udah di rumah sakit. Ibu pasti sehat kembali." Farhan mendekat dan mencium kening ibunya.
__ADS_1
Meski bukan ibu yang melahirkan mereka, Tari dan ketiga adiknya sangat menyayangi Bu Mae. Beliaulah yang selama ini menggantikan sosok ibu mereka yang telah lama meninggal. Tak pernah sekalipun Tari atau yang lain menganggap Bu Mae orang lain.
"Nak, kita pulang aja. Ibu nggak mau lama-lama disini."
"Kenapa, Bu? Kita pulang nanti kalau Ibu udah sehat," ucap farhan sambil tersenyum.
"Tapi, kita nggak ada biaya banyak buat rawat ibu disini. Ibu nggak papa kok. Asam lambung ibu cuma naik. Nanti juga sembuh, karena biasanya juga begitu," lirih Bu Mae sambil sedikit meringis. Apa yang diucapkannya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya.
"Jadi selama ini Ibu sering sakit perut? Apalagi yang sering ibu rasakan? Kenapa kita nggak pernah tau?" tanya Farhan.
"Bukan masalah besar, Farhan. Kalau sudah dikompres air hangat, sakitnya pasti hilang," jawab wanita paruh baya tersebut.
"Bu, kalau ada apa-apa tolong bicara sama kita. Kita ini anak-anak Ibu." Kini Tari yang berbicara.
Bu Mae mengangguk. Sesaat kemudian, pintu ruangan diketuk dan dua dokter juga beberapa perawat datang mendekat ke tempat Bu Mae.
"Ibu Mae?" tanya salah satu dokter dengan melihat beberapa lembar kertas di tangannya.
"Iya, saya, Dok."
"Kami akan memeriksa Ibu secara fisik," jelas sang dokter singkat.
Bu Mae mengangguk. Kemudian mereka lebih mendekat dan meminta pada Tari dan Farhan untuk memberi ruang sebentar.
Pemeriksaan fisik pun dimulai. Meski semalam dokter di ruang IGD sudah melakukannya, tapi sekarang Bu Mae diperiksa kembali. Tari dan Farhan yang berdiri dibelakang hanya mengamati apa yang para dokter itu lakukan. Seperti memeriksa tekanan darah, detak jantung dan menepuk pelan area perut agar tahu di bagian mana yang sakit. Dokter tersebut juga menanyakan beberapa pertanyaan pada Bu Mae.
__ADS_1
Setelah semua selesai, para petugas rumah sakit tersebut pamit undur diri. Sebelum mereka benar-benar pergi, dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan sampel darah akan keluar beberapa jam lagi. Pasien dan keluarga dimohon untuk bersabar beberapa saat lagi.
Tari menghela napas kasar. Ia merasa penanganan pada ibunya sangat lamban. Tari ingin ibunya diberi obat dan segera sembuh. Semudah itu, apa mereka tidak bisa melakukannya?