
"Kita pulang sekarang ya? Besok kamu harus sekolah." Tuan Anton tersenyum. Kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Pih," Tari menahan sang papi untuk melangkah. Tangannya menggengam erat lengan tuan Anton.
"Ya, sayang?" pria itu menoleh.
"Boleh." lirih gadis itu lalu menunduk.
Tuan Anton duduk kembali ke tempat semula. Menatap gadisnya dengan intens. Dia merasa ambigu dengan ucapan Tari. Boleh pulang, atau boleh di ulang lagi?
Tari masih tetap menunduk, antara malu, gugup dan takut menjadi satu dalam dirinya. Gadis itu malah memainkan jemari tuan Anton yang masih digenggamnya. Semakin lama Tari malah mencubit kulit tuan Anton saking tak karuannya perasaannya saat ini.
"Auw, sakit sayang!" Tuan Anton sontak menarik tangannya.
"Eh, maaf Pih."
Gadis itu menggengam jemari tuan Anton kemudian menciumnya. Berharap dengan begitu dia bisa menghilangkan rasa sakit karna ulahnya. Tuan Anton tersenyum melihat betapa sayangnya Tari padanya. Dia tidak sabar ingin memilikinya seutuhnya melalui ikrar janji sehidup semati dan tuan Anton semakin tidak rela jika kehilangan sang gadis.
"Sayang, apa maksudmu yang boleh tadi?"
"Eh, mmm ...." Tari tak tahu harus mengatakannya bagaimana. Ia terlalu malu.
Kembali gadis itu menunduk, semoga tuan Anton tidak melihat pipinya yang tiba-tiba memerah seperti udang rebus.
"Sayang," Tuan Anton meraih dagu Tari dan membawanya untuk melihat dirinya.
"Apanya yang boleh? Hmm?" pria itu bertanya sekali lagi dengan tatapan menggoda. Jika benar perkiraannya, menggoda sedikit tak apa, kan?
__ADS_1
Jantung Tari berdegup kencang sedari tadi. Pria tua itu suka sekali menggodanya. Ah, biarlah dibilang kurang ajar pada orangtua. Gadis itu mengawalinya. Mengecup bibir tuan Anton sekilas kemudian membenarkan cara duduknya. Tubuhnya sudah gemetar karna malu. Bahkan gadis itu menjadi salah tingkah sekarang.
Tuan Anton malah tersenyum lebar. Gadisnya sudah mulai nakal sekarang. Pria itu segera membuat Tari kembali duduk menghadapnya dan segera menyerang sang gadis. Tangannya memeluk gadis itu sembari memberi pag*utan lembut pada bibir Tari. Ia juga menggigit pelan bibir bawah Tari agar mau membukanya. Memberi jalan agar mereka bisa saling membelit lidah mereka. Mata mereka saling terpejam menikmati sensasi yang muncul akibat ciu*man mereka.
Rasa yang tak biasa mulai menyerang keduannya. Hasrat yang timbul mulai menguasai kesadaran mereka. Tari mulai membalas ciu*man sang papi, ia juga mengalungkan kedua tangannya di leher sang papi. Meski belum benar-benar lihai dalam urusan berciu*man, gadis itu mulai paham bagaimana cara membalas serangan lawannya.
Pria itu mengangkat tubuh Tari untuk naik ke pangkuannya. Tangannya memegang pinggang Tari dan mencoba menggerakannya.
"Aagrh ...." Tuan Anton melepas pagutannya dan mengerang nikmat.
Tari menatap ekspresi wajah sang papi dengan heran. Entah apa yang dilakukan sang papi padanya yang jelas ia semakin merasakan ada benda keras di bawah sana yang begitu mengganjal. Gadis itu, memang bo*doh atau benar-benar bo*doh? Dua tahun bekerja di klub malam, benarkah dia tidak mengetahui yang terjadi saat ini?
"Aagrh ...." Tuan Anton kembali mengerang.
Sedangkan Tari hanya menurut saja dengan tindakan sang papi pada tubuh bagian bawahnya. Ia hanya menurut ketika kedua tangan papi menggerakkan pinggangnya ke depan lalu ke belakang. Semakin lama papi memintanya untuk bergerak lebih cepat. Entahlah sensasi apa yang tengah tuan Anton rasakan saat ini. Tuan Anton mendongak dan memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dia menahan pinggang Tari agar tetap berada diposisinya.
Pria itu kembali mengerang diiringi dengan bagian celananya yang berkedut dan mulai basah. Tari masih bisa merasakan apa yang terjadi pada tubuh papi di bawah sana.
Tuan Anton menurunkan Tari dari pangkuannya. Kemudian ia mengecup kening dan seluruh wajah Tari tanpa terkecuali. Dia bangkit dan tersenyum.
"Papi ganti baju dulu ya. Kamu juga siap-siap kita berangkat pulang sekarang." ucapnya kemudian pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Tari duduk diam di sofa, mau siap-siap bagaimana? Memang semua perlengkapannya sudah tersedia disini tapi apa perlu dibawa pulang? Toh dirinya juga tidak membawa apapun. Tari hanya menunggu papi nya selesai bersiap dan kemudian pulang. Tempatnya kini sangat jauh dari kota, pasti akan memakan waktu berjam-jam di perjalanan seperti saat berangkat kemarin.
****
Tari menoleh ke arah sang papi yang sedang menyetir di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia dan berseri. Pria itu juga tidak melepaskan genggaman di tangannya sejak memulai perjalanan. Sesekali tuan Anton menarik tangan Tari kemudian menciumnya. Terkadang juga dia terlihat tersenyum sendiri. Tari merasa heran dengan tingkah papinya sedari tadi.
__ADS_1
Tari hanya tidak tahu saja bahwa seorang pria yang mendapatkan pelepasannya dapat meredakan stres karna beraktivitas selama sehari juga dapat merubah suasana hatinya. Itu lah mengapa tuan Anton terlihat sangat bahagia saat ini.
"Loh Pih, ini bukan jalan ke rumah Tari." ucapnya tiba-tiba saat dirinya melihat keluar jendela.
"Iya, kita pulang ke rumah baru." jawab tuan Anton santai.
"Pih, Tari sudah seharian ngga ketemu adik-adik." Gadis itu mencoba memberi pengertian. Dia tidak tega meninggalkan adik-adiknya dengan waktu yang lama walaupun ada bu Mae yang senantiasa menjaga mereka.
"Mereka juga disana, sayang."
"Maksud Papih?"
"Iya," Tuan Anton menoleh sekilas kemudian kembali fokus mengemudi.
"Tadi siang, papi sudah perintahkan Beni untuk membawa adik-adik kamu dan juga bu Mae pindah ke rumah kita yang baru." jelas pria itu.
"Jadi kami udah ngga tinggal di rumah yang lama lagi?" tanya Tari dengan polos.
"Haeh, sayang kenapa kamu tiba-tiba jadi lama berpikirnya?" Pria itu merasa kesal namun juga gemas dengan gadis itu.
Pertanyaan konyol apa itu Tari? Kalau sudah pindah ke rumah yang baru berarti sudah tidak tinggal rumah yang lama.
"Ya engga dong sayang, kita akan tinggal di rumah itu seterusnya." tambahnya.
"Berarti Papih juga tinggal disana?"
Tuan Anton mengangguk. "Iya, papi akan tidur di kamar kita, dan kamu bisa memilih kamar lain sayang. Tidak mungkin kan kita tidur bersama seperti waktu itu. Ada adikmu dan bu Mae kamu harus ingat." Tuan Anton begitu sangat percaya diri.
__ADS_1
Pukul satu malam, Tari dan tuan Anton baru saja sampai di rumah baru. Karna sudah sangat larut, tuan Anton meminta Tari untuk segera beristirahat karna besok harus sekolah. Pria itu langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Tari, dia mencari keberadaan adik-adiknya dan juga bu Mae.
Farhan, Bilal, Adnan dan juga bu Mae tidur dalam satu kamar yang sama. Di ranjang King size itu mereka tidur berempat. Tari masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjang mengamati ketiga adiknya yang sedang tertidur pulas. Tari tersenyum, ia bahagia melihat mereka bisa tidur nyaman mulai sekarang. Tidak ada lagi nyamuk atau suara jangkrik yang mengganggu tidur mereka.