
"Pindah?" Yoga terkejut.
"Iya, Mas. Pindah tadi siang." Ibu itu mengulang perkataannya kembali.
"Kemana Bu?"
"Ya mana saya tau, Mas. Orang saya ngga di ajak pindahan." jawab ibu itu dengan tertawa.
Candaan ibu itu tidak membuat Yoga tertawa. Candaan garing yang malah membuatnya semakin pusing.
"Ada lagi Mas? Kalau engga saya mau pulang."
"Ah tunggu Bu!"
"Kalau rumah Ana, Ibu tau?"
"Ana? Siapa ya? Saya ngga pernah tau ada yang namanya Ana disini. Orangnya yang gimana Mas?" Ibu itu tampak berpikir. Setau nya, tidak ada yang bernama Ana di daerahnya tinggal itu.
"Sebentar, Bu." Yoga berbalik dan membuka pintu mobil untuk mengambil ponselnya.
"Ini, Bu." Yoga menunjukkan wallpaper di layar ponselnya.
"Lah, ini kan yang Mas cari." ujar ibu itu dengan menepuk jidat. Ia merasa anak muda di depannya ini yang sekarang sedang melawak.
"Maksud Ibu?"
"Iya, ini kan Tari. Gimana sih Mas ini?"
"Ini Ana, Bu. Berbeda dengan Tari." Yoga mencoba menjelaskan dengan menunjuk layar ponselnya.
"Sebentar Mas. Ana dan Tari," Sang ibu mulai berpikir.
"Oh, jadi nama jualannya Ana? Sayang banget kamu Mas, masih muda sudah kepincut cewe ngga bener gitu."
Yang Yoga tangkap dari ucapan ibu itu adalah Ana yang memang sebagai pekerja malam. Dia membenarkan kalau memang sudah jatuh hati pada gadis itu. Namun, yang masih membuatnya bingung adalah pernyataan ibu itu bahwa Tari adalah Ana. Sudah jelas mereka sangat berbeda. Tari cantik, namun lebih cantik Ana menurutnya.
__ADS_1
"Bingung ya?"
"Iya, Bu. Tolong jelasin maksud dari ucapan Ibu barusan itu bagaimana?"
"Si Tari itu kan memang Kerjanya di klub malam Mas. Dia anak ngga bener, tiap malem adik-adiknya ditinggalin dan cuma mau kerja jadi pemuas laki-laki." Ibu itu memulai aksi senam bibirnya.
"Nah, yang saya tangkap ini ya. Nama pasarannya Tari ini ya itu, Ana. Jadi mereka satu orang Mas. Mas nya aja yang bo*doh mau-mau nya dibohongi sama cewe ngga bener itu." imbuhnya.
"Saya masih ngga ngerti Bu, Tari itu sahabat saya di sekolah. Dia gadis baik-baik." Yoga mencoba membela sahabatnya. Wajahnya mulai kesal karna ucapan ibu jaman sekarang itu.
"Baik-baik gimana? Dia itu wanita pekerja malam Mas. Kalau ngga percaya tanya aja tuh si Rudi, langganan ojeknya si Tari." Ibu itu nyinyir.
"Lagian nih ya Mas, dia itu udah bekas nya om-om! Kadang nih ya, kalau malam sering pulang di antar sama om-om. Dih, Mas nya kok mau sih sama dia."
Yoga terdiam, dia tidak lagi mendengarkan celotehan sang ibu. Yoga terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia masih belum bisa mencerna semua perkataan ibu-ibu itu.
"Lah, Mas nya kok malah bengong. Ya udah saya pulang dulu. Ati-ati Mas, cuma dimanfaatin si Tari." Ibu itu berlalu pergi meninggalkan Yoga yang masih terdiam.
Setelah kepergian sang ibu yang entah siapa itu, Yoga bersandar di mobilnya dengan memandang rumah Tari yang gelap gulita. Apa benar Tari adalah Ana? Bagaimana mungkin? Tari adalah gadis culun yang tidak tahu apapun sedangkan Ana, dia adalah gadis yang cantik jelita. Harus segera diselidiki. Benar, Yoga harus mencari tahu. Yoga masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"Pih, kita mau pulang kapan?" tanya Tari sembari menaruh secangkir kopi susu untuk sang papi di meja ruang keluarga.
Saat ini, tuan Anton dan Tari sedang bersantai di ruang keluarga. Tuan Anton terlihat serius mengamati layar pipih di tangannya. Ada hal serius yang harus dia tangani sekarang. Bukan tentang pekerjaannya di kantor. Melainkan tentang anak semata wayangnya, Yoga. Seorang yang ditugaskan mengikuti Yoga baru saja melaporkan apa yang ia lihat. Yoga sedang mencari tahu tentang keberadaan Tari dan juga Ana. Tuan Anton harus bersiap-siap jika sesuatu terjadi nanti.
"Pih?"
"Eh, iya sayang?" Pria itu terkejut. Terlalu fokus pada ponselnya hingga mengabaikan gadis manis yang sudah duduk di sampingnya itu. Tuan Anton segera menaruh ponselnya di atas meja dan memperhatikan gadis pujaannya.
"Papih kalau udah pegang itu, Tari langsung dicuekin." gerutunya.
"Hahaha ... Cie yang cemburu sama gawai." ledek sang papi.
"Eh, engga ya!" elak Tari.
Tuan Anton tergelak, dia merasa gemas dengan tingkah sang gadis. Inilah yang dia rindukan. Tingkah manja menggemaskan sang pujaan hati sudah jarang terlihat akhir-akhir ini. Lebih tepatnya setelah kedatangan Yoga yang secara tidak langsung mengganggu hubungan mereka.
__ADS_1
"Papih, malah ketawa." Gadis itu mulai kesal.
"Habisnya kamu gemesin."
"Aduh sakit Pih!" keluh Tari karna sang papi mencubit gemas kedua pipinya.
Tuan Anton kembali tertawa, maniknya tak henti memandangi gelagat sang gadis yang menurutnya sangat menggemaskan. Pandangannya berhenti pada bibir Tari. Bibir tipis merah muda dan basah, ah ... Bibir yang sangat manis saat dikecup dan dilu*mat.
"Sayang," Kini pria itu memasang wajah serius.
"Ya, Pih?" tanya Tari dengan wajah lugunya.
"Bolehkah?" Pria itu mengusap bibir Tari dengan ibu jarinya. Pandangannya tak mau lepas dari bibir itu.
Mengerti dengan yang diinginkan sang papi, gadis itu terdiam. Tiba-tiba rasa gugup menyerangnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengiyakan atau harus menolak?
"Emh," Tari terbelalak membeku.
Belum sempat dirinya menjawab pertanyaan dari sang papi, pria itu sudah menyerangnya tiba-tiba. Mungkin pria tua itu sudah tidak sabar menunggu persetujuan gadis itu. Melihat bibir ranum yang menggodanya sedari tadi. Tuan Anton melu*mat bibir Tari dengan perlahan dan lembut. Tangannya menyusup ke belakang telinga Tari dengan lembut. Mencoba membuat gadisnya dalam keadaan senyaman mungkin.
Tari hanya diam. Meski kemarin malam mereka sudah melakukannya, dirinya tetap merasa gugup dan belum terbiasa. Merasa lawan mainnya diam saja, tuan Anton melepaskan ciu*mannya. Tuan Anton memandang Tari dengan sayu.
"Maaf, sayang." ucapnya dengan lirih.
Tuan Anton menjauhkan dirinya. Ia takut menyakiti gadis itu lagi. Apalagi Tari tidak merespon ciu*mannya. Pria itu meraih gelas berisi kopi susu yang sudah dingin di depannya lalu meminumnya hingga tandas. Sedangkan Tari, dia hanya mengamati setiap tindakan yang papi nya lakukan. Gadis itu melihat raut kekecewaan di wajah sang papi.
"Kita pulang sekarang ya? Besok kamu harus sekolah." Tuan Anton tersenyum. Kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Pih," Tari menahan sang papi untuk melangkah. Tangannya menggengam erat lengan tuan Anton.
"Ya, sayang?" pria itu menoleh.
"Boleh." lirih gadis itu lalu menunduk.
Tuan Anton duduk kembali ke tempat semula. Menatap gadisnya dengan intens. Dia merasa ambigu dengan ucapan Tari. Boleh pulang, atau boleh di ulang lagi?
__ADS_1