KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 52


__ADS_3

Tuan Anton masih setia menunggu anak nya yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Beberapa saat yang lalu Yoga sempat sadar namun kemudian kembali pingsan karena sakit di kepalanya.


Dokter yang menangani Yoga juga sudah melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah Yoga memiliki sakit tertentu. Dari mulai tes darah untuk memeriksa kadar gula, hingga CT scan untuk melihat struktur jaringan atau organ tertentu yang bermasalah dan menjadi penyebab Yoga kembali pingsan. Namun, setelah melihat hasil pemeriksaan tubuh Yoga, sang dokter menyimpulkan bahwa pasiennya tersebut baik-baik saja dan hanya butuh istirahat lebih lama lagi.


Rasa sakit yang dirasakan Yoga di kepalanya akibat saat jatuh pingsan, kepala Yoga mungkin membentur sesuatu dan termasuk dalam kasus yang biasa saat mengalami cidera kepala ringan. Setelah Yoga mendapatkan istirahat yang cukup, dia akan pulih kembali seperti semula. Sebenarnya sang dokter sudah memperbolehkan pasiennya untuk dibawa pulang. Namun, Tuan Anton bersikeras untuk membiarkan Yoga dirawat di rumah sakit itu untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu pada anak tersebut nantinya.


"Selamat malam, Tuan." Sapa Beni dengan sopan.


Beni sengaja datang menemui atasannya karena ingin memberikan sesuatu. Dia membawa satu kantung plastik berisi makanan dan minuman untuk Tuan Anton.


"Saya bawakan makan malam, Tuan." ucapnya sembari memberikan kantung yang ia bawa pada Tuan Anton.


"Kamu taruh saja di meja itu. Nanti saya makan."


"Anda harus mengisi perut anda yang dari siang belum terisi."


"Aku bilang nanti! Apa kamu tidak dengar?" Tuan Anton sedikit meninggikan suaranya. Dia menatap tajam pada asisten yang sedang memaksanya tersebut.


Beni menghela napas. Ditaruhnya kantung itu di atas meja yang tak jauh dari brankar dan duduk di sofa.


"Kamu sudah lihat keadaan gadis itu?" tanya Tuan Anton tiba-tiba.


"Sudah, Tuan."


"Bagaimana?" Tuan Anton membalikkan kursinya untuk menghadap Beni.


"Siang tadi Nona Tari pergi ke makam kedua orang tua nya."


"Lalu?" Pria itu semakin antusias.


"Lalu nona pulang ke rumah sore harinya." jelas Beni dengan singkat.


"Hanya itu?" Tuan Anton tidak percaya.


"Aku yakin sudah terjadi sesuatu antara Tari dan Yoga." imbuhnya.

__ADS_1


"Saya sudah mengirim sebuah vidio rekaman di ponsel anda, Tuan."


"Vidio apa?"


Merasa penasaran, Tuan Anton segera merogoh saku nya untuk mengeluarkan ponselnya. Namun, segera ditahan oleh sang asisten.


"Jangan dibuka sekarang, Tuan! Bisakah anda bersabar sebentar sampai tuan muda pulih?"


"Kamu memerintahku?"


Pria itu mulai kesal. Ia tak mengindahkan saran Beni dan kemudian menghidupkan ponselnya. Belum sempat membuka pesan dari beni yang berisi sebuah vidio itu, Yoga tiba-tiba sadar.


"Agrh," Yoga meringis merasakan sakit di kepalanya. Pria muda itu langsung memegang kepalanya karena terasa sakit.


"Yoga," Tuan Anton segera bangkit dan mendekati tempat tidur anaknya. Ia segera menekan tombol nurse call untuk memanggil perawat jaga.


"Sakit, Pa." keluh Yoga.


"Tenang, Sayang. Papa sudah panggil perawat untuk memeriksamu lagi."


Mata sayu sang papa tak henti melihat anak laki-laki nya yang lemah tak berdaya. Andai sakit di kepala Yoga bisa berpindah pada dirinya, Tuan Anton pasti akan melakukannya. Lebih baik dia yang merasakan sakit dari pada harus melihat anak laki-laki nya kesakitan.


"Permisi, Tuan. Saya akan memeriksa keadaan Nak Yoga." ucap sang dokter.


"Baik, Dok." Tuan Anton segera mundur untuk memberi ruang pada sang dokter.


Beni dan Tuan Anton hanya bisa mengamati proses pemeriksaan yang dilakukan dokter tersebut dan beberapa asistennya.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan. Karena tidak ada gejala serius yang muncul di tubuh Nak Yoga. Saya sudah resepkan obat pereda nyeri untuk meringankan cidera ringan pada kepalanya dan juga vitamin untuk Nak Yoga." jelas dokter tersebut.


"Baik, Dok. Saya akan segera tebus resepnya." balas Tuan Anton sembari menerima secarik kertas yang diberikan padanya.


"Baik kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan."


Tuan Anton mengangguk kemudian dokter dan perawat tersebut berlalu meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Segera tebus obat ini." perintah Tuan Anton pada Beni.


"Dan juga belikan bubur untuk makan malam Yoga sebelum meminum obat itu." imbuhnya.


Beni segera menerima resep yang diberikan padanya dan melaksanakan tugasnya.


Beni Wahyudi, pria yang usianya seumuran dengan atasannya tersebut adalah pria yang selalu mengemban tugasnya dengan baik. Tidak pernah mengeluh ataupun membantah. Itu sebabnya selama belasan tahun Tuan Anton tidak pernah mau ada orang lain yang menggantikan posisi Beni meskipun hanya sementara.


"Apa masih sakit?" tanya Tuan Anton pada Yoga dengan penuh perhatian.


"Sedikit, Pa." jawabnya lirih.


"Nanti kalau Beni sudah datang, kamu langsung makan dan minum obat. Setelah itu kamu istirahat lagi."


"Yoga mau pulang sekarang, Pa." pinta Yoga.


Dia tidak mau berlama-lama di tempat itu karena ia tidak suka dengan bau khas rumah sakit yang menyengat. Bau obat-obatan dan alkohol yang justru membuatnya semakin pusing.


"Jangan dulu! Tunggu sampai tubuhmu kembali pulih. Baru kita akan pulang."


"Yoga udah nggak apa-apa, Pa."


"Nurut sebentar saja apa susahnya, sih?" Tuan Anton mulai kesal. Pria itu segera menjauh dari brankar dan mendudukkan bo*kongnya di sofa.


Yoga tergelak. Dia merasa lucu dengan tingkah sang papa yang seperti anak kecil. Sudah seperti Adnan saja saat merajuk.


Yoga tiba-tiba terdiam. Mengingat Adnan membuatnya juga mengingat kakak perempuan bocah itu. Yoga mendengus kesal. Dia pasti akan membalas perbuatan gadis itu karena sudah menyakitinya dan menghancurkan keluarganya. Yoga melirik sekilas pada sang papa yang bersandar di sandaran sofa sembari bersedekap dan memejamkan matanya. Sepertinya papa nya itu kelelahan karena menjaganya seharian ini.


Hanya karena seorang gadis penipu dirinya juga harus menaruh kebencian pada sang papa. Kenapa harus gadis itu yang papa nya sukai? Masih banyak wanita yang lebih baik dari dia. Apa yang sudah papa nya dapatkan dari gadis itu? Kenapa sampai sang papa tergila-gila pada seorang yang sepantasnya menjadi anaknya?


Benar, papa nya pasti sudah mendapatkan hal berharga dari gadis licik itu. Sampai sang papa rela memberikan sebuah rumah besar, mobil mewah dan juga kehidupan yang layak untuknya.


"Cih, gadis mur*ahan itu harus diberi pelajaran." pikirnya.


Tok ... Tok ... Tok ....

__ADS_1


Tiba-tiba pintu diketuk dan terbuka. Beni masuk dengan membawa kantung plastik berisi bubur pesanan atasannya. Tuan Anton terkejut dan segera membuka matanya. Dia baru sadar ternyata tidak sengaja terlelap sejenak. Sepertinya tenaganya terkuras banyak hari ini.


Segera ia bangun dan meraih kantung yang dibawa Beni kemudian segera menyuapi Yoga. Dengan telaten Tuan Anton menyuapi anaknya hingga makanan itu habis tak tersisa. Yoga yang awalnya tidak mau makan pun akhirnya dengan pasrah menuruti perintah sang papa. Hari ini dia sudah lelah tersulut emosi terus-terusan. Yoga ingin beristirahat sejenak malam ini.


__ADS_2