KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 38


__ADS_3

"Tari!"


"Tari!"


Guru wali kelas XII itu sudah berkali-kali memanggil nama siswinya sembari mengamati kesekeliling kelas. Tidak ada siswi yang ia sebut namanya itu.


"Haeh," sang guru menggelengkan kepala. Anak didiknya itu mulai nakal rupanya. Semenjak naik ke kelas XII, Tari mulai sering tidak masuk sekolah. Sayang sekali padahal ini sudah masuk tahun ajaran yang terakhir, kalau sering tidak masuk begini terus-terusan, bisa mempengaruhi nilai ujiannya nanti.


Sang guru kembali memanggil nama para murid lain di kelas itu. Sedangkan Yoga, ia hanya bisa mengamati bangku kosong di sampingnya. Tari mulai berperilaku aneh. Padahal dulu dia ijin mungkin hanya sekali dua kali tapi ini sudah sering. Kemana dia? Dan apa yang dia lakukan? Gadis polos itu, adakah yang meracuni pikirannya untuk berbuat yang tidak semestinya?


"Kemana kamu Tari? Nomormu juga ngga aktif." Yoga mencoba diam-diam menghubungi Tari kembali di bawah meja. Sudah berkali-kali dia menekan tombol panggil di ponselnya namun hasilnya nihil.


***


Yoga menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Tari. Ia merasa khawatir dengan gadis itu. Takut kalau terjadi sesuatu pada sahabatnya. Yoga keluar dari mobil lalu mengamati keadaan sekitar rumah itu. Sepi, tidak ada siapapun. Bahkan biasanya jam pulang sekolah seperti ini Adnan masih bermain di teras depan rumah bersama bu Mae. Yoga melangkahkan kakinya ke rumah itu, siapa tahu penghuninya ada di dalam.


Tok ... Tok ... Tok ....


Yoga memanggil nama sahabatnya. Namun tidak ada sahutan. Kemana mereka? Laki-laki itu mengetuk pintu lagi berkali-kali. Tetap tidak ada orang yang membukakan pintu. Akhirnya Yoga menyerah dan pergi dari rumah itu. Entahlah, rasanya gusar bila tidak melihat gadis itu sehari saja. Gadis itu hampir mirip dengan gadis yang ia cinta. Ana, ah ... Memikirkan gadis itu membuatnya ingin sekali bertemu.


Yoga tersenyum ketika memikirkan Ana. Bahkan ia sejenak memandangi foto Ana di wallpaper ponselnya. Tadi malam, Yoga sempat mencuri foto Ana saat duduk di halte menunggunya.


Yoga mencoba menghubungi Ana sembari menyetir. Sekali, dua kali, ketiga kalinya nomor Ana juga tidak aktif.


"Aagrh ...." Yoga melempar ponselnya di kursi penumpang di sebelahnya. Hidupnya seperti hanya berputar pada sosok Ana dan Tari. Jika tidak ada salah satu dari mereka, pikirannya seperti kacau. Satu, sahabat yang selalu setia mendengar semua ceritanya dan satu lagi adalah gadis yang sudah membangun rasa cinta di hatinya.

__ADS_1


"Kemana mereka?" Yoga bergumam.


Sore menjelang, Yoga masih saja setia menghubungi nomor Ana dan Tari bergantian. Di dalam kamarnya, ia hanya berbaring di atas ranjang sembari memainkan ponselnya. Puluhan pesan ia kirim pada nomor yang berbeda namun sebenarnya dengan pemilik yang sama itu.


"Ada apa sama mereka berdua? Kenapa menghilang di waktu yang bersamaan gini?"


****


"Buk, kita tinggal di sini?" Bilal, adik Tari yang kedua.


"Kata mas-mas yang lagi berdiri disana, mulai sekarang kita tinggal di rumah ini." jawab bu Mae sembari menunjuk seseorang dengan ekor matanya.


Bilal mengangguk. "Terus sekarang kak Tari dimana?"


"Ibu juga ngga tahu Bil, tapi kata mbak pengasuh kakakmu pergi sama tuan Anton."


"Sudah, sekarang selesaikan makannya. Habis itu kita lihat-lihat rumah ini sambil nyari abangmu dan Adnan."


"Ngga ah Buk, Bilal mau main PS aja. Lagian Bilal kan udah pernah tidur disini jadi udah pernah keliling rumah ini. Oh iya, dibelakang ada taman bunga Buk. Pasti Ibuk suka deh. Kan Ibuk suka berkebun kan?" celoteh bocah itu.


Bu Mae membenarkan ucapan Bilal dengan tersenyum. Wanita paruh baya itu memang suka dengan tanaman. Di belakang rumahnya yang dulu saja banyak sekali tanaman hias yang ia tanam dan rawat. Akhirnya, bu Mae meninggalkan Bilal yang masih makan di meja makan bersama salah satu pengasuh. Wanita itu berniat berkeliling rumah yang baru ia tempati dari tadi siang itu.


Ya, bu Mae dan ketiga adik Tari sudah pindah di rumah baru sejak beberapa jam yang lalu. Beni membawa mereka untuk tinggal di rumah itu. Tentunya atas perintah sang majikan. Karna kejadian yang membuat atasannya panas hati, Beni memberi saran agar segera membawa mereka untuk menempati rumah baru. Dengan begitu tuan Anton bisa lebih intens lagi menjaga gadisnya.


Hari sudah mulai petang. Ketiga Kakak beradik itu masih terlihat asyik bermain di ruang keluarga bersama bu Mae. Banyak mainan yang memang sengaja tuan Anton beli untuk mereka. Keluarga kecil itu benar-benar beruntung bisa bertemu dengan tuan Anton beberapa tahun lalu. Kalau tidak, mungkin keadaan mereka tidak seperti saat ini. Namun nasib seseorang tidak ada yang tahu, bukan?

__ADS_1


Mereka pun tidak risau Tari belum kembali. Asal bersama tuan Anton, gadis itu sudah pasti aman. Bahkan bu Mae, ia hanya bisa mendukung apapun keputusan kakak dari ketiga bocah laki-laki itu. Asal itu menuju ke kebaikan, wanita itu pasti mendukung semua keinginan Tari.


Yoga, laki-laki itu sudah berada di depan rumah sahabatnya. Dia mengamati rumah Tari dari dalam mobil. Gelap. Tidak ada satu lampu pun yang menyala di rumah itu. Rumah bu Mae juga demikian. Yoga mencoba menghubungi nomor Tari kembali. Tetap saja hasilnya nihil.


"Kemana kamu Tar?" Yoga merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Ia takut terjadi sesuatu dengan keluarga kecil itu.


Yoga harus mencari cara agar bisa menemukan Tari. Apa iya, dia harus meminta bantuan papa nya? Mungkin saja papa nya itu mau membantunya dengan mengerahkan beberapa bawahannya. Yoga mulai mencari nomor sang papa di ponselnya. Ia berniat meminta bantuan pada sang papa.


"Ah, kenapa menghilang semua." Yoga menggerutu.


Yoga merasa frustrasi. Kemana semua orang? Bahkan Beni pun seharian ini tidak terlihat batang hidungnya. Yoga menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tiba-tiba Yoga langsung membuka pintu dan keluar dari mobil dengan buru-buru. Ternyata Yoga melihat seseorang sedang melintas di depan mobilnya.


"Maaf Bu," Yoga menghentikan langkah seorang ibu yang sedang membawa kantung plastik hitam di tangannya.


"Ya, Mas?"


"Saya mau tanya, yang punya rumah itu kemana ya?" tanya Yoga sembari menunjuk arah rumah Tari.


"Oh, si Tari?" tanya ibu berdaster lengan pendek namun memakai jilbab itu.


Yoga mengangguk, ia sangat antusias dengan setiap jawaban ibu itu.


"Tadi siang mereka kan sudah pindah."


Yoga terkejut. Sudah pindah? Kemana? Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu? Banyak pertanyaan yang tiba-tiba hinggap di kepalanya.

__ADS_1


"Pindah?"


__ADS_2