
"Ini, Sayang. Ganti seragam kamu dengan baju yang ada di dalam sini!" titah Tuan Anton pada Tari sembari menyodorkan sebuah paper bag pada gadis itu.
"Ayo, Papi antar kamu ke kamar." Tuan Anton meraih tangan Tari kemudian membawanya ke kamar yang ia tempati. Meninggalkan Pak Widodo sendirian di ruang tamu.
"Kalau sudah dibutakan oleh cinta, yang di sekitarnya pun pasti tak akan terlihat." ucap Pak Widodo pada dirinya sendiri.
Pria paruh baya tersebut menggelengkan kepala sembari tersenyum. Anaknya itu sudah seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta. Apapun yang ada di pandangannya hanyalah sang gadis semata. Ia merasa terabaikan karena Tuan Anton sama sekali tak melihatnya.
"Papi tunggu di sini, kamu bersihin badan dulu! Ujar sang papi yang kemudian duduk di sofa dekat tempat tidur.
Saat ini mereka sudah berada dalam kamar Tuan Anton. Tari hanya menurut apa yang diperintahkan sang papi padanya. Ia menaruh tas gendongnya di atas ranjang dan kemudian melepas sepatunya, lalu kemudian gadis itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Tuan Anton pun setia menunggu gadisnya sembari bermain ponsel.
"Pih," panggil Tari sembari melongok kepalanya dari balik pintu.
Tuan Anton tak menjawab, tapi ia langsung mengalihkan pandangannya yang semula fokus melihat ponsel kini melihat ke arah Tari yang hanya terlihat kepalanya saja.
"Tari nggak bawa handuk." ucap gadis itu dengan malu-malu.
Tuan Anton hanya tersenyum melihat wajah Tari yang sudah segar setelah mandi dan menggemaskan.
"Pih, Tari nggak bawa handuk." ucapnya sekali lagi.
"Iya, Papi ambilkan sebentar." Tuan Anton bangkit menuju lemari besar tempatnya menyimpan pakaian.
Diambilnya sebuah handuk yang berbentuk kimono kemudian memberikannya pada sang gadis. Melihat wajah Tari yang cantik segar dan rambut yang menjuntai basah, tubuh pria itu mulai bereaksi. Sepertinya, ada yang sengaja menyulut api dalam tubuh yang membuat hasratnya menggelora. Tuan Anton terus menatap wajah gadis. Entah apa yang ia pikirkan, hingga kesadarannya kembali karena Tari yang kesusahan saat meraih handuk di tangannya.
Tuan Anton segera mendekatkan handuk kimono untuk Tari dan segera berbalik. Dia tak mau kejadian sebelumnya terulang kembali. Di mana dirinya harus menyakiti sang gadis karena tidak bisa menahan hasrat dalam tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Tari menghampiri sang papi yang sedang berada di balkon kamarnya, sembari menyesap rokok yang asapnya sudah menyembul ke udara.
__ADS_1
"Pih," sapa gadis itu.
Tuan Anton segera menoleh ke belakang dan terpukau melihat gadis yang ada di hadapannya saat ini. Tari terlihat begitu cantik tanpa polesan bedak, menggunakan mini dress hitam dengan motif polkadot semakin membuatnya terlihat feminim. Apa lagi mini dress tersebut memiliki akses pita di bagian belakang membuatnya terlihat manis.
Sepersekian detik mata pria yang sudah kepala empat itu tak berkedip. Penampilan gadis manis itu sungguh menggodanya. Ah, tidak! Gadis itu tidak pernah menggodanya. Dirinya lah yang tergoda oleh gadis tersebut.
"Cantik." Satu kata yang secara tidak sadar lolos begitu saja dari mulut Tuan Anton.
Tuan Anton berjalan mendekati Tari yang hanya mematung di hadapannya. Dipeluknya tubuh kecil berisi tersebut dengan hangat. Pria tersebut lalu memejamkan matanya sembari menghirup dalam-dalam wangi tubuh Tari setelah mandi. Menenangkan, sungguh. Memeluk orang yang dicintai memang menjadi bius tersendiri. Bahkan berbagai masalah yang berkeliaran dalam kepala pun akan hilang setelah bersama dengan kekasih hati, meskipun hanya sesaat.
"Pih, kita nggak turun?" tanya Tari pelan, tapi mampu menyadarkan dirinya.
Dia hampir lupa bahwa di bawah sana ada sang mama dan papa yang masih menunggu mereka. Tuan Anton melepaskan pelukannya kemudian tersenyum.
"Maaf, Sayang. Papi lupa kalau ada mereka."
"Rasanya, Papi ingin selalu berdua denganmu. Papi sangat mencintaimu." imbuhnya.
Pria itu lantas mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
"Soalnya, Tari udah kenyang makan gombalan Papih setiap hari."
"Hahaha ...." Pria itu tergelak.
"Kamu bisa aja, Sayang. Papi kan nggak lagi kasih gombalan. Papi benar-benar sangat mencintaimu." bisiknya tepat di telinga sang gadis dan sukses membuat gadis itu meremang.
"Ish, Papih geli." Gadis itu mengedikkan bahunya.
Astaga, kalau tidak takut menyakiti, Tuan Anton pasti sudah menerkam gadis itu dan menelannya bulat-bulat. Melihat ekspresi wajahnya yang terlihat geli, sangat menggemaskan. Tuan Anton segera mengajak Tari untuk turun ke bawah menemui kedua orang tuanya kembali. Ia tidak mau kembali khilaf ingin memakan gadisnya itu.
__ADS_1
"Ehem,"
Pak Widodo dan Bu Ratih langsung menoleh ke arah Tari dan anaknya. Betapa terkejutnya mereka kala melihat sosok gadis yang berada di samping Tuan Anton. Gadis yang tadinya seperti si itik buruk rupa, kini telah berubah menjadi angsa putih nan cantik.
"Bisa tidak, Papa dan Mama tidak memandangi gadisku seperti itu?"
Pak Widodo dan Bu Ratih segera tersadar. Ternyata anak mereka tidak salah pilih. Ia memilih gadis yang sangat cantik. Sangat sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.
"Karena calon menantuku sangat cantik." jawab Bu Ratih sembari menghampiri keduanya.
"Sayang, kamu sangat cantik." puji Bu Ratih pada Tari.
Tari pun tersenyum. "Terimakasih, Tante."
"Ayo duduk lagi! Tante sudah buatkan jus alpukat buat kamu."
"Terimakasih banyak, Tante."
Mereka pun kembali berbincang di ruang tamu. Sesekali terdengar gelak tawa dari mulut mereka berempat. Tari juga sepertinya sudah tidak canggung lagi.
"Dulu, Anton sangat suka merusak kebun di halaman belakang. Semua tanaman Tante hancur karena tanahnya digali oleh Anton." Bu Ratih mulai bercerita.
"Aku tidak merusaknya, Ma. Aku hanya bermain mainan alat berat yang dibelikan Papa." kilah Tuan Anton.
"Iya, kamu memang memainkan mainan milikmu, tapi kamu jadi merusak tanaman milik Mama di kebun. Lagian Papa kamu juga malah belikan mainan alat berat, bukannya mobil-mobilan atau yang lainnya." wanita itu tak mau kalah. Sedangkan Tari dan Pak Widodo hanya mendengarkan perdebatan mereka.
"Hei, Papa hanya diam saja dari tadi. Kenapa jadi Papa yang disalahkan?" sahut Pak Widodo yang merasa kesal saat disalahkan oleh istrinya. Namun, sesaat kemudian pria paruh baya tersebut tertawa.
"Aku tidak merusaknya, Ma. Mama tahu sendiri kan kalau aku sangat suka menggali. Apa lagi menggali cinta Kirana, sampai ke inti bumi pun aku siap menggalinya." ucap Tuan Anton sembari menatap gadis yang ada di sampingnya dengan penuh arti.
__ADS_1
"Aku bahkan siap menggali seumur hidupku demi mendapatkan berlian yang sangat didambakan. Bahkan jika harus menggali ke seluruh dunia, aku akan melakukannya."