
"Alhamdulillah ...." Rasa syukur Tari tunjukkan setelah mendengar penuturan dari dokter.
Sesampainya di rumah sakit, dokter memanggil Tari untuk datang ke ruang kerjanya. Awalnya gadis itu panik dan segera datang memenuhi panggilan sang dokter. Namun, apa yang ia pikirkan nyatanya bertolak belakang dengan apa yang dokter katakan. Ibunya tidak perlu menunggu lama untuk operasi. Keluarga pasien hanya diharuskan memberi uang muka atau separuh biaya yang ditentukan. Setelah selesai pengobatan, barulah keluarga harus membayar sisanya.
Tiga hari, waktu yang diberikan untuk mengurusi semuanya. Setelah itu, Bu Mae harus puasa di jam yang ditentukan kemudian melakukan operasi. Tari tak hentinya menoreh senyum bahagia di wajahnya. Tanpa sadar ia sudah berada di depan ruangan Bu Mae. Segera dibukanya pintu masuk sambil terus tersenyum.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu, Tari?" Pertanyaan Bu Mae menyambutnya. Dengan senang hati Tari pun memberitahu ibunya tersebut.
"Ibu sebentar lagi akan dioperasi, jadi Ibu akan segera sembuh," jawabnya girang.
"Operasi?" tanya Bu Mae yang langsung menautkan kedua alisnya.
Seketika hening, Tari langsung terdiam. Ia juga terkejut dengan apa yang ia katakan barusan. Begitu juga dengan Farhan dan Bilal yang sedari tadi menemani Bu Mae. Ah, untuk apa juga mereka menyembunyikan penyakit yang diderita Bu Mae? Wanita itu harus tahu juga apa yang ia derita.
"Memangnya ibu sakit apa sampai harus dioperasi?" tanya Bu Mae lagi.
"Mm, Ibu ...." Tari tidak sanggup mengatakannya.
"Ibu sakit kanker lambung," ucap Bilal tegas. Ia bukannya tega memberitahu penyakit mematikan itu pada ibunya, tapi ya Bu Mae memang harus tahu.
Ibu semakin terkejut. Benarkah di tubuhnya terdapat penyakit mematikan tersebut?
"I-iya Bu," kata Tari terbata-bata.
"Maaf kami merahasiakan ini dari Ibu," lanjutnya.
"Bukan apa-apa, kita cuma nggak mau Ibu jadi banyak pikiran." Farhan menambahi.
Tari mengangguk membenarkan ucapan adiknya. Mereka hanya tidak mau menambah beban pikiran sang ibu dan malah menghambat proses penyembuhannya. Bu Mae kini diam, entah apa yang sedang ia pikirkan. Ibu memang tidak terlihat seperti sedang sakit parah. Seperti penyakit lambung pada umumnya, Bu Mae terkadang hanya mengeluh sakit sesaat kemudian pulih kembali. Itu mengapa kanker lambung tidak bisa terdeteksi secara dini. Gejala yang menyerupai sakit biasa dan terkadang hilang dengan sendirinya. Kebanyakan pasien akan tahu jika dirinya mengidap kanker lambung setelah penyakit semakin parah atau masuk stadium akhir.
__ADS_1
"Jadi, kapan ibu akan dioperasi?" tanya ibu setelah beberapa menit terdiam.
"Tiga hari lagi, Bu. Nanti kalau Ibu sudah disuruh puasa," jawab Tari.
Bu Mae mengangguk. "Biayanya dari mana, Tar?"
Nah, kan! Ibu pasti akan menanyakan hal itu. Ini yang Tari takutkan. Ibu bukan tipe orang yang menjadikan dirinya beban orang lain. Pasti ia akan kepikiran dengan biaya rumah sakit.
"Aku minta tolong paklik buat jualin rumah Ibu yang dulu." Tari menunduk.
"Maaf ya, Bu. Aku nggak bilang dulu sama Ibu. Hanya itu yang aku pikirkan," ucapnya pelan.
"Nggak apa, Tar." Bu Mae tersenyum.
"Yang penting kamu nggak pusing cari biaya rumah sakit." Katanya lagi.
Tanpa berkata apapun lagi, Tari berhambur memeluk Bu Mae yang sudah menjadi ibu sambungnya selama ini. Tangisnya pecah, ia tak tega melihat ibunya sakit seperti ini.
Ah, bukankah terbalik? Harusnya Tari yang memberi semangat pada Bu Mae, tapi nyatanya, Tari lebih rapuh dari wanita paruh baya tersebut. Pikirannya terlalu berlebihan. Bayang-bayang kehilangan seperti saat kehilangan orang tuanya selalu terngiang.
Tari melepas pelukannya. Mengusap sisa air mata yang membasahi pipi. Sesekali terdengar sesenggukan saat mencoba menahan tangis.
"Hentikan, Kak! Ibu pasti sembuh. Menangis seperti itu nggak akan ada gunanya," kata Bilal dengan santai.
Diantara yang lain, hanya Bilal lah yang pembawaannya selalu tenang. Lebih banyak diam dan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Benar apa yang diucapkannya. Tari pun menghentikan tangisnya. Jika ia seperti itu terus, bukankah akan menjadi beban pikiran sang ibu?
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Semua orang menoleh ke arah pintu. Gajendra masuk dengan membawa sebuah amplop coklat di tangannya. Dengan senyuman ia langsung bergabung dengan keluarga Tari.
"Kamu dari mana?" tanya Tari.
__ADS_1
Gadis itu hanya melihat ke arah Gajendra sebentar kemudian memalingkan wajah. Ia yakin matanya kini pasti sudah sembab karena menangis, dan ia tak mau Gajendra melihatnya. Pasti dirinya akan diejek oleh pria tersebut.
"Kamu yang dari mana, Tar? Aku tadi samperin kamu ke ruang dokter ternyata kamu udah nggak di sana. Aku takut kamu menghilang! Jangan sampai aku kehilanganmu," jawab Gajendra.
"Dih, mulai nggak jelas."
Semua yang di ruangan itu pun tergelak. Tingkah Tari dan Gajendra yang tidak pernah akur pun selalu menjadi tontonan gratis bagi mereka yang melihatnya. Si pria yang ingin menempel terus dan si gadis yang selalu jutek.
"Kamu nggak perlu pusing mikir biaya lagi, Tar." Gajendra tanpa basa-basi.
"Maksud, Abang?" Kini Farhan yang bertanya.
Tari, Bu Mae dan Bilal pun juga menatap lekat Gajendra. Dengan senyum yang kembali merekah, Gajendra menjelaskan apa maksud dari ucapannya. Pria tersebut mengatakan bahwa ia sudah membayarkan uang untuk operasi dan biaya rawat inap. Namun, tidak semua ia bayarkan. Hanya biaya rawat inap dan separuh biaya operasi, tapi itu sudah sangat membantu keluarga tersebut.
Bu Mae dan kedua adik Tari langsung mengucapkan banyak terimakasih pada pria tersebut. Begitu juga dengan Tari. Ia mengucapkan berkali-kali kata terimakasih pada sahabatnya. Meski ia merasa heran dari mana pria itu bisa mendapatkan banyak uang.
"Peluk dulu dong, Tar!" Gajendra mendekat pada Tari kemudian merenggangkan tangannya. Maksudnya, meminta ucapan terimakasih dalam bentuk lain.
"Aduh!" Gajendra mengeluh sakit lalu mengusap dahinya.
Tari menyentil dahi sahabatnya saat hendak memeluk dirinya. "Cari kesempatan ya!"
"Hehe," Gejendra meringis.
***
"Tuan, kami dapat informasi kalau rumah itu akan dijual." Seorang pria berjas hitam baru saja masuk ke dalam ruangan atasannya.
Pria yang juga berjas hitam dengan kacamata hitam bertengger di atas kepalanya langsung menoleh ke arah bawahannya. Mata yang tadinya fokus di menatap layar benda pipih di tangan, beralih menatap mata pria yang berdiri di seberang mejanya.
__ADS_1
"Cepat cari tahu siapa yang menjualnya, dan jangan sampai rumah itu jatuh ke tangan orang lain!"
"Baik, Tuan."