KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 34


__ADS_3

"Makasih Mas," ucap Tari pada penjaga konter ponsel depan gang.


Toko ponsel itu lumayan besar, mereka menjual berbagai jenis ponsel dan asesorisnya. Tari membeli sebuah ponsel dan kartu SIM nya. Ia berencana untuk mengelabui Yoga, gadis itu akan memberikan nomor barunya pada Yoga agar laki-laki yang dicintainya itu bisa berkomunikasi dengan Ana. Ya, untuk sementara hanya itu yang terlintas di pikiran Tari.


Tari tidak sabar untuk mengabari Yoga jika ia sudah mendapatkan nomor Ana, bayangkan betapa bahagianya Yoga mendengar kabar ini. Sampai di rumah, Tari langsung menghubungi Yoga.


Tut ... Tut ... Tut ....


Telpon Tari tersambung namun tak juga di angkat. Tari mencoba sekali lagi, namun juga tidak di angkat oleh Yoga. Akhirnya Tari mengirim nomor barunya melalui pesan.


****


"Jadi, setelah kita pulang tadi, dia datang ke rumah gadis ku?" Tuan Anton mengepalkan tangannya. Maniknya menatap lurus ke depan dan telapak tangannya mengepal.


"Benar Tuan!" jawab Beni membenarkan.


Menurut informasi dari anak buahnya yang sengaja ia perintah untuk menjaga gadis tuannya dari kejauhan, Yoga mendatangi rumah gadis tuannya sesaat setelah mereka pergi. Tuan Anton ingin marah dan mendatangi Yoga sekarang juga namun, Yoga adalah anak kandungnya. Salahnya karna tidak memberitahu pada Yoga jika Ana adalah miliknya dan pantaskah ia bersaing dengan anak sendiri?


"Bagimana menurutmu?" tanya tuan Anton pada Beni.


"Maksud Tuan?"


"Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membiarkan mereka selalu dekat seperti sekarang. Jujur saja, aku tidak mau kehilangan gadisku."


"Bagaimana jika Tuan mengirim kembali tuan muda ke luar negeri?" Beni memberi usulan.


Tuan Anton tampak berpikir, mengirimnya kembali? Tujuan utama nya meminta Yoga tinggal di Indonesia karna ia ingin Yoga belajar menggantikan posisinya.


"Tidak, aku ingin dia segera menggantikanku. Oh iya, apa kemampuan dia dalam mengelola bisnis ku sudah ada kemajuan?"


"Iya Tuan," Beni mengangguk.


"Kemampuan tuan muda sangat berkembang pesat, bahkan perjanjian kerja sama perusahaan dengan investor asing dua hari yang lalu berjalan dengan lancar." imbuhnya.

__ADS_1


Tuan Anton mengangguk, Yoga memang memiliki kecakapan yang setara dengannya. Tuan Anton meyakinkan dirinya kembali, satu tahun lagi ia akan menyerahkan semuanya pada Yoga dan ia akan segera menikahi Ana. Semua akan berjalan sesuai rencana dan harapannya.


"Ya sudah, biarkan seperti ini dulu. Satu tahun itu sangat cepat. Aku masih bisa bersabar melihat mereka berdekatan sementara ini, dan setelah mereka lulus aku akan segera memisahkan mereka. Semoga saja rasa cinta mereka tidak semakin mengakar dalam hati mereka."


****


"Hai, Ana." Yoga segera mengirim pesan di nomor yang baru saja Tari kirim. Saking bahagianya, Yoga langsung mengirim pesan di nomor Ana dan melupakan Tari.


Lama tak kunjung dibalas, Yoga dengan setia menunggu sembari tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa berkomunikasi dengan Ana, Yoga tidak perlu mencari keberadaan gadis itu lagi, jika rindu dan ingin bertemu tinggal telpon saja. Beres kan!


Dreet ... Dreet ...


"Hai juga. Ini siapa?" Yoga membuka balasan dari Ana.


"Ini aku Yoga. Simpan nomor ku ya!"


"Ah, Yoga. Oke aku simpen."


"Ana, nanti malem kamu ada acara ngga? Aku mau ajak kamu makan."


"Yess!" Yoga sangat bersemangat. Sebahagia itu dirinya saat ini.


"Oke An. Nanti aku jemput ke rumahmu ya, share location ya!"


"Ngga usah Ga, kamu jemput aku di pinggir jalan raya aja. Nanti aku kabari kalau sudah sampai."


"Oke Ana. Miss you." balas Yoga namun tidak mendapatkan balasan dari Ana.


Yoga menjatuhkan dirinya di atas ranjang, tempat dimana ia dan Ana tidur bersama semalam. Ia menatap langit-langit kamarnya sembari tersenyum. Satu langkah lebih maju untuk mendapatkan Ana, atau nanti dia tembak Ana saja sekalian? Ya, Dia harus segera melakukannya. Ia tidak mau kehilangan Ana kalau tidak segera mengikatnya dalam suatu hubungan.


Pukul tujuh malam, Tari merias diri di depan cermin. Memakai dress selutut warna navy kesukaannya juga polesan wajah yang tipis namun sangat cantik. Malam ini hatinya begitu bahagia bisa berkencan dengan orang yang ia cinta. Melupakan sejenak konflik batin dalam hatinya dan menikmati malam bersama Yoga.


"Han, Bilal, Kakak pergi dulu. Jaga adek ya!" pamitnya pada adik-adiknya.

__ADS_1


Mereka sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. Tempat keluarga kecil itu sering bersantai dan bersenda gurau. Farhan dan Bilal mengangguk saat Tari pamit pergi. Ditinggal seperti ini sudah hal yang biasa bagi mereka bahkan si kecil Adnan pun tidak pernah rewel jika ditinggal oleh kakaknya.


Sampai di pinggir jalan raya dekat kampung, gadis itu duduk di sebuah halte yang sepi. Tari yang sudah berubah menjadi Ana itu segera menghubungi Yoga. Lima belas menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan halte.


Seorang laki-laki muda dan sangat tampan keluar dari mobil. Dengan memakai celana chinos pendek warna putih dan kaos berkerah warna navy. Sungguh, Yoga benar-benar tampan malam ini. Ana terpesona dengan laki-laki itu.


"Hei," Yoga menyapa Ana yang terdiam menatapnya.


"Eh," Ana tersadar.


"Wah, kita kayaknya jodoh An." ucap Yoga tiba-tiba.


"Maksudnya?" Ana mengernyitkan dahinya.


"Ini, kita aja pakai baju warnanya sama." Yoga menunjuk bajunya dan baju Ana.


Ana mengikuti arah telunjuk Yoga. Benar, baju nya sama warnanya. "Ah, kamu bisa aja Ga." Ana memukul pelan bahu Yoga sembari tersipu malu.


"Ya udah yuk, kita makan terus aku mau ajak kamu ke suatu tempat." laki-laki tampan itu membukakan pintu mobil untuk Ana.


"Terimakasih." Ana tersenyum.


Kemudian Yoga masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Ia menjalankan mobilnya menuju sebuah restoran bintang lima.


Sampai di restoran, Yoga dan Ana duduk di meja yang sudah dipesan Yoga sebelumnya. Yoga menarik kursi untuk Ana.


"Terimakasih, Yoga." ucap Ana dengan tersenyum.


Yoga sangat baik, ia juga sangat lembut. Yoga benar-benar membuat Ana menjadi ratu malam ini.


"Mau makan apa An?"


"Ikut kamu aja Ga." Yoga tersenyum mendengar jawaban dari Ana.

__ADS_1


Ia lalu menggengam jemari Ana yang berada di atas meja. "Kamu itu mirip banget sama sahabatku, An. Dia kalau aku tanyain mau makan apa pasti jawabannya sama persis kayak kamu barusan."


Ana salah tingkah, jantungnya berdetak cepat karna takut ketahuan. Ana hanya tersenyum mendengar pernyataan Yoga. Semoga yoga tidak menyadari kalau yang di depannya ini adalah orang yang sama dengan sahabatnya.


__ADS_2