
Bu Mae dan adik-adik Tari pergi dari rumah itu dengan perasaan sedih. Apa yang salah? Mereka hanya datang atas permintaan sang pemilik rumah. Lalu, apa yang membuat Yoga bersikap seperti itu pada mereka? Bu Mae mengusap air mata yang tak sengaja lolos dari netra nya. Bu Mae merasa begitu sangat rendah derajatnya. Namun, layak kah mereka mendapatkan penghinaan dari Yoga?
"Bu, kenapa Kak Yoga marah sama kita ya, Bu?" tanya Bilal tiba-tiba.
Farhan dan Bilal memang sudah besar tapi, mereka tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Layaknya seorang anak pada umumnya, sekolah, belajar dan bermain itulah yang mereka kerjakan setiap hari.
"Oh iya, kok Kak Yoga bisa ada di rumah Papi?" Farhan ganti bertanya.
"Apa mereka punya hubungan?" tanya nya lagi.
Bu Mae yang di berbondong pertanyaan hanya mampu menahan isakkan nya. Sungguh malang mereka yang harus menjalani kehidupan seperti ini. Farhan, Bilal dan Adnan yang tidak tahu apa-apa ikut terkena imbas karena ulah orang dewasa.
"Sudah, jangan dipikirkan! Nanti pasti kalian akan tahu. Sekarang yang penting kalian harus belajar yang rajin biar bisa bekerja ditempat yang baik dan menjalani kehidupan yang lebih baik nantinya." Bu Mae bergantian mengelus kepala keduanya dengan pelan.
Farhan dan Bilal pun mengangguk dan tersenyum. Anak-anak baik itu, semoga mereka menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan keluarga, nantinya.
Sampai di rumah, Bu Mae segera menyeka air matanya yang selalu keluar setiap mengingat perkataan Yoga. Sakit rasanya di anggap sebagai benalu dan mencoba mengincar harta orang lain.
"Kalian kemana saja?" Wajah khawatir Tari menyambut kedatangan mereka.
Tari mengambil alih Adnan dari gendongan Bu Mae. Bocah kecil itu ternyata sudah tidur terlelap sepanjang perjalanan tadi. Beberapa saat kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Farhan dan Bilal langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, sedangkan Bu Mae dan Tari masuk ke dalam kamar Adnan untuk membaringkannya di atas ranjang.
"Kalian habis ke mana, Bu?" tanya Tari penasaran.
"Kami habis dari rumah Nak Anton."
"Ngapain?"
"Bertemu orang tua Nak Anton, Tar." jawab Bu Mae seperlunya.
"Ish, Papih selalu kalau berbuat sesuatu nggak pernah ngomong sama Tari." kata nya kesal.
"Tari, Ibu boleh ngomong?"
__ADS_1
"Ngomong aja, Bu. Dari tadi juga kan Tari udah ajak bicara." Tari sedikit tertawa. Bu Mae pun juga ikut tertawa dengan ucapan Tari.
"Ngomong apa, Bu?" Tari mulai serius. Kalau sudah begini, pasti ada yang ingin dibicarakan dengan serius oleh Bu Mae.
"Tadi kita ketemu sama Yoga, Tar."
"Terus?" Perasaan gadis itu mulai tidak enak.
"Dan dia marah besar kami datang ke rumahnya." jawabnya dan langsung menunduk. Bu Mae mulai menitikkan air mata.
"Haeh," Tari menghela napas kasar.
"Ini semua salah Tari, Bu." imbuhnya.
Gadis itu menunduk lemas. Ia merasa semua permasalahan berawal dari nya hingga keluarga nya pun juga ikut merasakan imbasnya.
"Sayang!"
Bu Mae dan Tari terkejut kala mendengar suara seorang lelaki. Siapa lagi kalau bukan Tuan Anton? Pria itu dengan tergesa memasuki kamar Adnan dan memeluk Tari.
"Papih, kenapa?" tanya Tari heran.
"Papi langsung datang kemari setelah mendengar kejadian tadi di rumah."
"Tari nggak apa-apa. Tapi," Tari terhenti. Gadis itu menoleh ke arah Bu Mae yang sedari tadi hanya menunduk menyembunyikan matanya yang memerah.
"Yoga memang keterlaluan. Papi nggak habis pikir dengan perbuatan Yoga. Apa hanya karena cinta yang membuatnya seperti itu? Hilang akal dan berbuat seenaknya." Tuan Anton mulai kesal.
"Kamu lihat, kan? Lelaki yang kamu cintai menyakitimu dan keluargamu?" imbuhnya.
Tari terkesiap. Pertanyaan Tuan Anton seakan memukulnya. Benar, apa yang dikatakan pria itu benar. Harus bagaimana lagi dirinya? Haruskah dia menghapus rasa cintanya pada Yoga? Toh, dilanjutkan pun rasanya sudah tidak mungkin. Benar, bukan?
"Ibu baik-baik saja? Saya minta maaf atas perlakuan Yoga pada Ibu. Saya yang salah mendidik anak itu." ucap Tuan Anton penuh penyesalan. Pandangannya kini beralih pada Bu Mae yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
"Tidak, Nak. Ibu tidak apa-apa." jawab Bu Mae dengan tersenyum.
"Ibu ke kamar sebelah dulu, lihat anak-anak." pamit wanita itu. Kemudian Bu Mae bangkit dan pergi meninggalkan Tuan Anton dan Tari yang mungkin masih ingin berbincang berdua.
"Maafkan Papi, Sayang! Papi nggak tahu jadinya akan begini. Papi cuma bermaksud untuk mempertemukan keluarga kita. Papi sudah memberitahu mereka tentang kamu, dan mereka sangat antusias ingin segera bertemu dengan calon menantu nya." jelas Tuan Anton.
"Papi akan ajak mereka datang kemari besok." imbuhnya lagi.
"Pih, kenapa harus secepat ini? Lagi pula, apa nggak seharusnya Tari dan yang lain kembali tinggal di rumah yang lama?"
"Kamu masih mau mencoba menjaga perasaannya?" Tuan Anton sedikit meninggikan suaranya.
Tari kembali terkesiap. Gadis bo*doh itu malah menyulut amarah Tuan Anton.
"Ikut, Papi!" titah Tuan Anton seraya menarik lengan Tari dengan sedikit kasar.
Tari yang tersentak dengan pasrah mengikuti langkah Tuan Anton yang membawanya naik ke lantai atas. Tuan Anton membawa gadis itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Tidak sampai di situ, pria itu masih mencekal lengan Tari dan kembali melangkahkan kaki menuju satu ruangan di kamar itu. Bukan ruang kerja Tuan Anton, bukan pula ruang ganti atau yang lainnya. Suatu ruangan yang hanya Tuan Anton lah yang tau fungsinya.
Sampai di dalam ruangan tersebut, Tuan Anton langsung menghempaskan Tari ke sofa panjang yang tersedia.
"Auw," lirih gadis itu. Sedikit sakit saat tubuhnya terbentur sofa agak keras.
"Haeh," Pria itu berkacak pinggang sembari menghela napas lelah.
"Papi kurang apa selama ini sama kamu, Sayang?"
Tuan Anton kesal. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan pada gadis itu? Dia lebih dari apapun. Bahkan, dirinya mampu bersabar sekian lama untuk menunggu kesiapan gadis itu. Namun, manusia bukanlah Tuhan yang memiliki kesabaran tanpa batas. Tuan Anton juga memiliki batas kesabaran layaknya manusia lainnya.
"Papi mencintaimu lebih dari apapun. Bahkan jika sekarang kamu minta Papi untuk membangun seribu satu candi, akan Papi lakukan! Atau mungkin kamu ingin papi membuatkan sebuah bendungan dan perahu besar untukmu berlayar, Papi akan menyanggupinya."
Tari menunduk dan mulai menangis. Bukan sekali dua kali dirinya mendapatkan amukan dari sang papi karena hal yang sama. Mungkin jika itu orang lain, Tuan Anton pasti sudah lelah dengan sikap Tari yang selalu berjanji untuk tidak lagi mencintai orang lain namun nyatanya masih tetap melakukannya.
"Semua akan Papi lakukan untukmu, Sayang! Asal jangan minta Papi untuk menyerah mencintaimu dan pergi meninggalkanmu. Papi tidak sanggup melakukannya, Sayang." Tuan Anton melembutkan suaranya dan segera memeluk gadisnya.
__ADS_1
Seperti biasanya, air mata Tari yang menetes menjadi kelemahan sang papi. Amarahnya akan melebur bersama tetesan air yang mengalir di pipi gadis itu.
"Papi sangat mencintaimu. Jangan lagi mengisi hatimu dengan nama orang lain! Papi masih sanggup menunggumu membalas cinta yang Papi berikan. Jangan lagi mencintai orang lain!"