
"Halo pih,"
"Halo?" Suara dari seberang sana.
Tari tercekat mendengar suara dari ponselnya.
"Halo?" Suara itu terdengar lagi.
Gadis itu langsung terdiam, dan langsung mematikan telponnya. Tari terduduk di kursi santai milik bu Mae. Masih tidak percaya dengan suara lelaki yang baru saja ia dengar.
Yoga, itu suara Yoga. Kenapa yang mengangkat telponnya adalah Yoga? Ah tidak, tidak. Mungkin ia salah dengar, itu pasti suara bawahan papi nya. Tapi, dia hafal betul suara Yoga. Dan yang baru saja itu sama persis dengan suara milik Yoga.
"Kenapa Tari?" tanya bu Mae ketika melihat Tari melamun sembari menggelengkan kepalanya.
"Ah, ngga Bu, ngga papa. Oh iya, Bu! Anak-anak di ajak kemana sama tuan Anton?"
"Ke Jogja!" jawabnya singkat.
"Apa?" Tari kembali terkejut.
Jogja? Adik-adiknya dibawa jalan-jalan ke Jogja oleh papi nya? Jogja kan jauh dari kota ini! Tanpa pengasuh juga?
"Kok Bu Mae ngga ikut?"
"Lah Ibu ngga di ajak sama tuan Anton." kekeh bu Mae sembari memotong beberapa daun yang kering.
"Terus anak-anak siapa yang jagain Bu?"
"Tadinya Ibu juga berpikir begitu. Siapa yang akan mengasuh mereka? Tapi ternyata tuan Anton sudah bawa pengasuh Tar, tiga sekaligus. Jadi setiap anak mendapat satu pengasuh." jelas bu Mae.
"Hufh," Tari begitu bingung. Baru kali ini adik-adiknya di ajak pergi sejauh itu. Kenapa papi nya itu suka sekali berbuat seenaknya sendiri?
'Awas nanti kalau pulang.' ancam Tari dalam hatinya.
***
Sore harinya.
Kini, Tari sudah berada di rumahnya kembali. Ia duduk di karpet depan Tv. Gadis itu bingung mau melakukan apa, tidak ada adik-adiknya membuat rumah itu terasa sepi. Kapan mereka akan pulang?
Ketika ia berpikiran ingin menelepon papi nya kembali, ia teringat dengan kejadian tadi siang. Dimana saat Tari menghubungi tuan Anton dan suara yang ia dengar adalah suara Yoga.
__ADS_1
Terlintas kembali saat Tari mengambil raport kenaikan kelas. Dia juga melihat Yoga dan tuan Anton masuk ke area sekolah bersama. Apa benar yang dipikirkan Tari selama ini? Yoga adalah anak dari papi nya, tuan Anton.
Ah tidak, tidak. Jangan sampai hal itu memang benar. Jika Yoga tahu dirinya memiliki hubungan dengan papi nya maka ... Dan jika tuan Anton tahu dirinya menyukai Yoga maka ....
"Aagrh," Tari mengerang frustrasi. Ia menjatuhkan kepalanya di bantal kecil yang tersedia. Kali ini ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Bagaimana jika apa yang ia takut kan benar-benar terjadi? Yoga dan tuan Anton, dua lelaki itu sama-sama penting dalam hidup Tari.
Tok tok tok ....
Tiba-tiba terdengan suara seseorang mengetuk pintu depan. Tari segera bangkit untuk membuka kan pintu, sebelumnya ia mengintip terlebih dahulu dari jendela samping pintu. Takut-takut jika yang datang adalah Yoga maka ia harus berdandan dahulu. Bukan dandan agar terlihat cantik, tapi untuk terlihat seperti si culun Tari.
Terlihat dari balik pintu itu seorang laki-laki berbadan tegap sedang menunggu untuk di buka kan pintu. Laki-laki itu berpakaian mirip seperti Beni, berjas dan bercelana hitam. Sepatunya juga hitam, tapi dia bukan Beni.
Segera Tari membuka pintu.
"Selamat sore Nona!" sapa laki-laki itu.
"Sore, siapa ya?"
"Saya pengawal tuan Anton, saya diperintahkan untuk menjemput Nona sekarang." jawabnya dengan ekspresi datar. Apa iya semua pengawal memang ditakdirkan memiliki ekspresi yang datar? Tidak bisakah mereka terlihat lebih ceria?
"Ah iya," Tari menjawab sembari mengangguk.
"Terimakasih Nona, saya bisa tunggu di mobil saja." laki-laki itu membungkuk pada Tari kemudian berjalan menuju mobilnya.
Tari masuk ke kamarnya dan segera berganti pakaian. Tidak perlu mandi karna ia baru saja mandi. Tuan Anton memerintahkan orang untuk menjemputnya? Ke jogja? Apa dia harus mengemas pakaian ganti? Mungkin saja papi nya itu mengajaknya menginap disana.
Tari memasukkan beberapa lembar pakaiannya dan juga pakaian untuk adik-adiknya. Setelah selesai, ia segera keluar rumah dan menguncinya. Kemudian Tari pergi ke rumah bu Mae untuk berpamitan.
Di perjalanan Tari hanya diam, ya mau bicara dengan siapa? Pengawal papinya itu juga sedari tadi hanya diam dan fokus menyetir. Gadis itu memilih bersender dekat jendela dan melihat keadaan luar.
Tunggu! Ini bukan jalan ke luar kota, ini jalan menuju rumah baru. Seketika Tari langsung menoleh ke arah pengawal.
"Tuan, kita ini sebenarnya mau kemana?" tanya Tari.
"Ke rumah baru anda dan tuan Anton, Nona." jawabnya masih fokus ke jalanan di depan.
Tari mengerutkan dahinya, "Bukannya kita mau ke Jogja?"
Pengawal tuannya itu terdiam sebentar, sedangkan Tari masih setia memperhatikannya. Menunggu jawaban dari laki-laki itu.
"Tidak Nona, tuan Anton memerintahkan saya untuk membawa anda ke rumah baru."
__ADS_1
Tari semakin bingung, "Tuan Anton ada disana juga?"
"Iya Nona."
Tari terdiam, ia kembali memandang ke luar mobil. Tadi siang kata bu Mae papi nya di Jogja sekarang pengawal nya bilang di rumah baru. Adik-adiknya? Tari menatap kembali pengawal itu.
"Terus adik-adikku?"
"Adik Nona baik-baik saja dan juga ada di sana." jelasnya.
"Haeh," Gadis itu bernapas lega. Begini kalau ia tidak bisa menghubungi papi nya, sremawut.
Sampai di halaman depan rumah baru, Tari yang belum keluar dari mobil itu melihat adiknya Adnan sedang asyik bermain di taman bersama seorang perempuan. Pasti itu pengasuh yang disewa oleh papi nya. Memang halaman depan rumah itu sengaja di bangun sebuah taman bermain oleh tuan Anton, untuk bermain calon adik iparnya tentunya.
"Tatak! (Kakak!)" teriak Adnan ketika ia melihat kakak perempuannya turun dari mobil.
Bocah kecil itu lantas berlari menghampiri kakaknya dan di ikuti oleh sang pengasuh. Adnan segera berhambur memeluk kakaknya seperti rindu karna lama tak bertemu.
"Adnan kelihatannya seneng banget?" Bocah kecil itu mengangguk sembari tersenyum.
"Sayang!" suara pria dewasa itu terdengar dari belakang Tari.
Gadis itu membalikkan badannya, benar tuan Anton sudah berdiri di belakangnya.
"Papih," Tari berjalan menghampiri tuannya. Gadis itu langsung memeluk tuan Anton.
"Tatak, atu epit! (Kakak, aku kejepit!)" Adnan meringis di antara kakaknya dan tuan Anton.
"Hahaha, maaf ya sayang." pria dewasa itu terkekeh gemas dengan tingkah Adnan. Serasa ingin segera memiliki Widodo kecil lagi.
Sedetik kemudian tuan Anton mengajak gadisnya dan Adnan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, ada Bilal dan Farhan yang terlihat asyik bermain playstation.
Tuan Anton, Tari dan Adnan kemudian duduk di sofa belakang Farhan dan Bilal.
"Wah, asyiknya kalian." tegur Tari pada adik-adiknya.
Keduanya langsung menoleh ke belakang kemudian kembali fokus pada layar besar yang ada di depannya.
Tuan Anton hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang acuh pada kakaknya. Bukan karna baru sekali mereka bermain playstation tapi karna ini pertama kalinya mereka bermain dengan layar LED yang begitu besar. Lebih besar dari pada yang di rumah.
To Be Continue ....
__ADS_1