
"Awas kalau gue liat Loe deket-deket sama dia lagi!" Sarah memperingatkan. Kemudian ia pergi meninggalkan Tari sendirian.
Tari yang masih terduduk di tanah itu pun segera bangun kembali sembari menahan perih di sikunya. Terjatuh dua kali semakin membuat luka nya memerah dan berdarah. Ia menghela napas, sudah biasa diperlakukan seperti ini membuatnya kuat dalam menghadapinya.
Tari kembali ke tujuan awalnya, yaitu pergi ke toilet. Buang air kecil dan juga membersihkan sikunya dari kotoran dan debu.
"Sshh ...." Gadis itu meringis kesakitan saat air mengenai lukanya. Setelah selesai, ia melihat ke cermin yang ada di hadapannya lalu menghela napas.
"Hufh,"
Lelah, itulah yang Tari rasakan saat ini. Menjalani kisah hidup yang aneh menurutnya. Entahlah, hanya dia sendiri yang tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Dia benar-benar lelah. Tari berbalik dan segera kembali ke kelas, ia rasa sudah sangat lama meninggalkan kelas.
"Astaga!" Gadis itu terkejut ketika seseorang sedang menunggunya di depan toilet. Siapa lagi kalau bukan Yoga. Dengan wajah yang cemas Yoga berdiri persis di depan toilet siswi itu.
"Kamu ngapain disini Ga?" tanya Tari.
"Kamu ngapain lama banget di dalem? Kamu ngga papa kan?"
Mata mereka saling bersitatap, terlihat jelas kecemasan di wajah Yoga.
"Eng-engga." Tari mengalihkan pandangannya. Ia takut jika terus memandangnya, ia akan semakin terjatuh ke dalam pesona Yoga. Hanya perhatian kecilpun bisa membuat hati gadis itu berbunga.
"Beneran ngga papa? Aku tanya Sarah tadi katanya kamu sakit perut. Makannya aku samperin kamu,"
"Emb, engga kok. Udah yuk ke kelas lagi!" Tari berjalan mendahului Yoga. Ia takut semakin ditanyai banyak hal oleh laki-laki itu.
"Tari tunggu!" Yoga menghentikan langkah Tari.
"Kenapa?"
"Ini siku kamu kenapa?" Yoga memegang lengan Tari dan melihat luka di siku kiri gadis itu.
"Kamu kenapa?" tanya Yoga sekali lagi. Tari hanya terdiam, tidak tahu harus beralasan bagaimana. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Tari? Kenapa malah diem?"
"Yoga, cukup!" Tari mengibaskan tangan Yoga hingga terlepas dari tangannya.
"Maksud kamu?" Yoga mengerutkan dahinya karna bingung.
"Cukup kamu baikin aku selama ini. Jangan lagi kamu memberiku perhatian-perhatian kecil seperti selama ini." Tiba-tiba gadis itu marah. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berubah. Kemudian ia pergi meninggalkan Yoga yang masih terdiam mematung.
Yoga masih bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa gadis itu tiba-tiba marah? Apa dirinya berbuat salah? Perhatian kecil, sebuah persahabatan itu kan memang harus saling perhatian. Apa salah dirinya memberi perhatian kepada sahabatnya sendiri?
Yoga kembali ke kelas, ia kembali duduk di samping Tari sembari sesekali memperhatikan sahabatnya. Ia belum berani bertanya apapun pada gadis itu. Biarlah mood nya kembali membaik terlebih dahulu.
***
Hari berikutnya, Yoga sudah ada di depan rumah Tari untuk menjemputnya dan berangkat sekolah bersama. Namun ia hanya mendapati bu Mae dan Adnan yang sedang bermain di teras rumah.
"Tari nya sudah berangkat Nak." bu Mae memberitahu bahkan sebelum Yoga mengucap kata apapun.
"Pagi sekali Bu, Tari berangkatnya?"
"Oh, iya sudah kalau gitu Yoga langsung ke sekolah saja Bu."
"Iya Nak, hati-hati!"
Yoga segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju sekolah. Ia bingung dengan sikap Tari padanya, seakan ia sudah tahu jika pagi ini Yoga akan datang kerumahnya. Tari sampai membuat alasan seperti itu. Bahkan chatnya semalam pun tidak dibalas oleh gadis itu. Apa salahnya sampai Tari menghindarinya seperti ini?
Setelah sampai di sekolah, Yoga segera bergegas memasuki kelas. Ia mencari keberadaan Tari. Tidak susah untuk menemukannya, selain duduk di bangku paling belakang, ia tidak pernah berpindah-pindah tempat duduk. Yoga segera menghampiri Tari. Duduk di bangku depan Tari dan memperhatikannya.
Tari sedang sibuk memainkan ponselnya. Tidak memainkan, gadis itu terlihat hanya menggeser-geser layar ponselnya saja.
"Hei!" pekik Tari ketika Yoga tiba-tiba merebut ponselnya. Tari menatapnya dengan kesal. Laki-laki itu selalu begitu ketika ia merasa di abaikan.
Yoga hanya diam dan menyimpan ponsel Tari ke dalam sakunya tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
__ADS_1
"Apaan sih kamu Ga?" kesal Tari.
"Kamu yang apaan Tar? Tiba-tiba diemin aku kaya gini."
Tari hanya diam saja dan menunduk tanpa ingin menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. Entahlah, apa yang membuatnya menghindari Yoga seperti ini. Gertakan dari Sarah kah? Atau ia tidak ingin lebih dalam lagi menyukai Yoga?
Ya, benar. Mungkin itulah alasan Tari menghindari Yoga dan tiba-tiba marah padanya. Berharap ia bisa menjauhinya. Tari tidak ingin lagi memupuk rasanya pada Yoga. Cintanya bertepuk sebelah tangan, Yoga tidak mencintainya.
Tidak! Yoga mencintainya, mencintai dirinya yang lain. Yang berpenampilan lebih menarik dari pada sosok dirinya saat ini.
"Jawab Tar! Kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti ini?" Yoga mencondongkan kepalanya agar bisa melihat wajah Tari.
Teeeet ...
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi, dan beberapa saat kemudian guru yang mengajar di jam pertama pun memasuki kelas. Mau tidak mau Yoga harus kembali ke bangkunya dan fokus belajar.
***
"Yoga, kantin yuk!" Ajak Sarah saat jam istirahat.
Yoga diam sesaat, ia menoleh ke samping kirinya memperhatikan Tari. Gadis itu hanya diam menunduk sembari membaca buku.
"Tar, kamu mau ke kantin?" tanya Yoga.
Gadis itu diam saja. Melihat Yoga pun tidak.
"Tari?" panggil Yoga sekali lagi.
"Yoga, ayo!" Sarah mulai menarik pelan tangan Yoga.
Yoga memperhatikan sarah dan mengangguk. Ia segera berdiri dan berjalan keluar kelas bersama Sarah. Sarah menggandeng lengan Yoga dengan senang. Mereka berdua pergi ke kantin bersama. Meninggalkan Tari sendirian di dalam kelas.
Begitulah semestinya. Tari berpikir, keadaan mulai kembali lagi. Ia sendirian dan itu yang memang dia inginkan. Kembali menjadi seorang Tari tanpa ada yang memperhatikan keberadaannya. Ia lebih suka begini agar hidupnya menjadi tenang.
__ADS_1
To Be Continue ....