KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 79


__ADS_3

Tari menatap lurus ke luar kaca jendela bus yang ia tumpangi. Sudah hampir setengah perjalanan, tapi rasanya ia tidak juga sampai tujuan. Rasa kantuk pun mulai menyerang. Tari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan mencoba membuat tubuhnya senyaman mungkin. Kursi di sampingnya kosong sejak mobil bus itu mulai melaju memecah jalanan. Matanya semakin berat dan akhirnya mulai terpejam.


Saat Tari bangun, sudah ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Seorang pria dengan masker dan hoodie yang menutupi kepala dan wajahnya. Tari tak memperdulikannya dan memilih untuk memejamkan mata kembali meski rasa kantuknya sudah menghilang. Mengingat kembali saat sebelum ia pergi meninggalkan apartemen milik Yoga. Dengan berapi-api Yoga mengusirnya. Jawaban yang gadis itu lontarkan berhasil memunculkan sisi lain Yoga kembali. Benar, pria itu tidak berubah. Ia masih selalu berkata kasar kala emosinya mencuat.


Sepertinya ia menyesal memutuskan untuk kembali lagi ke kota itu. Andai saya ia tak datang ....


"Kalau kamu nurut dan setuju aku antar, kamu nggak akan selelah ini," kata seseorang yang dudu di samping Tari.


Tari membuka mata kemudian terkejut saat mengetahui siapa yang ada di sampingnya. Yoga, pria itu ternyata mengikutinya. Ia sudah melepas masker dan hoodie yang dipakainya. Namun, kenapa sedari tadi Tari tidak melihatnya?


"Yoga!" Tari terkejut. Pria itu melempar senyum pada Tari.


"Maafin aku, ya! Nggak seharusnya aku ngusir kamu. Waktu kamu pergi, aku khawatir dan langsung ngikutin kamu," kata Yoga sambil menggenggam tangan Tari. Matanya sayu menunjukkan penyesalan.


Tari melengos kemudian menarik pelan tangannya dari genggaman Yoga. Entahlah, ia merasa suasana hatinya kini sedang rumit.


"Aku cemburu waktu kamu bilang sudah ada yang lain." Kata Yoga terang-terangan.


"Sebenarnya aku udah ngira waktu kamu mengangkat panggilan dari seseorang waktu itu, tapi, mendengarnya langsung benar-benar membuat hatiku sakit dan kekesalanku tak tertahankan," imbuhnya.


"Kamu nggak seharusnya kayak gini, Ga. Kamu pria beristri, pergi dengan wanita lain seperti ini rasanya nggak pantes." Tari angkat suara.


Ya, pria itu sudah beristri dan tak sepantasnya mengejar wanita lain seperti ini.


"Aku mau lihat siapa dia, Tar."


"Maksud kamu?" Tari menoleh tidak mengerti.


"Aku mau lihat dia yang sekarang jadi kekasihmu. Apa dia benar-benar bisa menjagamu?"


"Nggak perlu kamu tahu siapa dia!" Tari membuang muka kembali.


"Yang jelas, orang itu tidak pernah berkata kasar padaku selama ini." Imbuh Tari yang terdengar seperti sindiran.

__ADS_1


Ya, yang dipikirannya saat ini adalah Gajendra. Dan pastinya Yoga juga menyangka pria itu ada kekasihnya. Biarlah! Mungkin Gajendra bisa membantunya lepas dari jerat Yoga dan papanya kali ini. Tari memang masih mencintai Yoga dan masih ingin membalas budi Tuan Anton, tapi ia tidak mau kembali berurusan dengan mereka. Apalagi kini Yoga sudah berkeluarga meski ia tahu pernikahan itu hanya sebuah penutup sebuah musibah. Ia tidak mau lagi terjatuh di lubang yang sama.


Hening, Yoga tak membalas ucapan Tari. Kalimat yang terdengar dari bibir Tari berhasil menohok dirinya.


***


"Aku udah minta orang buat jemput kita. Jadi nggak perlu lagi naik angkutan umum," ucap Yoga setelah turun dari bus.


"Nah, itu!" Sebuah mobil melaju pelan mendekat.


Seorang pria berpakaian seperti preman keluar dari dalam mobil kemudian membungkuk pada Yoga. Sedetik kemudian, ia memberikan kunci mobil pada Yoga lalu pergi. Yoga membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Tari. Gadis itu segera masuk dan menggunakan sabuk pengaman. Dari dalam ia bisa melihat Yoga yang berjalan mengitari mobil sambil tersenyum. Entahlah apa yang dipikirkan Yoga, ia ingin segera sampai rumah atau ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibunya.


"Kita mau langsung pulang atau ke rumah sakit?" Yoga bertanya seakan mengerti apa yang diinginkan Tari.


"Ke rumah sakit dulu, bisa?"


Yoga mengangguk kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Bu Mae dirawat.


Sampai di halaman rumah sakit, Tari melihat orang yang ia kenal sedang berbincang-bincang dengan dua orang satpam. Gajendra, pria itu terlihat keren dengan kaos ketat dan celana jeans panjang. Jam dan sepatu yang dipakai terlihat begitu wah di mata Tari. Namun, kenapa sekarang ia berpenampilan seperti itu? Biasanya ia hanya memakai sandal gunung, celana panjang dan sebuah jaket hitam yang tidak pernah tertinggal. Dua hari tidak bertemu, kenapa pria itu cepat merubah penampilannya?


"Tari!" panggil seseorang dari belakang. Tari menghentikan langkahnya dan menoleh.


Gajendra, berlari kecil mendekat.


"Kenapa baru pulang? Dari kemarin teleponku nggak kamu angkat, kenapa? Kamu nggak apa-apa kan?" Gajendra langsung memberondong pertanyaan pada gadis itu.


"I-iya, ada sesuatu sedikit," jawabnya singkat.


Yoga, pria yang sedari tadi berdiri di samping Tari hanya diam sambil mengamati Gajendra dari atas sampai bawah. Ia mengira pria di hadapannya ini lah yang dimaksud Tari.


"Ada apa? Kenapa kamu nggak ngabarin? Siapa tau aku bisa nyusulin kamu dan bisa bantu."


"Mm ... nggak ada apa-apa kok." Gadis itu langsung menoleh. Melihat Yoga yang hanya diam.

__ADS_1


"Eh, Gajendra, kenalin ini Yoga. Yoga, kenalin ini Gajendra."


Gajendra baru sadar jika Tari tidak datang sendirian. Ia datang bersama seorang lelaki yang tidak kalah tampan darinya. Dengan tersenyum Gajendra mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Gajendra."


Namun, uluran tangan Gajendra tak disambut sama sekali oleh Yoga. Ia melengos dan bersikap angkuh pada Gajendra.


"Dia kekasihmu itu?" tanya Yoga tiba-tiba pada Tari.


Tatapannya tajam menembus manik Tari. Ya, diamnya ternyata sedang menahan cemburu dengan keberadaan Gajendra.


"Ya! Aku Gajendra pacarnya Tari." Gajendra menjawab dengan santai.


"Gaje!" bisik Tari.


Gadis itu tahu jika kini Yoga sedang dibakar api cemburu. Ditambah pengakuan dari Gajendra, semakin membara lah api cemburunya. Ini di rumah sakit, jangan sampai kedua pria itu berkelahi memperebutkannya dan mengganggu kenyamanan di sini.


"Bisa kita bicara di luar?" tanya Yoga pada Gajendra tanpa melihat ke arah Gajendra. Yoga langsung pergi begitu saja ke luar area rumah sakit.


Bukan, itu bukan pertanyaan, tapi sebuah ajakan memaksa untuk Gajendra.


"Gajendra." Tari menahan tangan Gajendra yang hendak mengikuti Yoga.


"Jangan," katanya sambil menggeleng.


"Aku tau, kamu tenang aja." Gajendra tersenyum dan melepas genggaman Tari.


"Kamu ke kamar Bu Mae aja! Tunggu aku di sana!" lanjutnya kemudian pergi.


Merasa tidak tenang, Tari memilih mengikuti ke mana Gajendra dan Yoga pergi. Hingga di sebuah halte depan rumah sakit, Yoga terlihat duduk sambil memainkan ponselnya kemudian disusul oleh Gajendra. Dari kejauhan, Tari mengamati apa yang mereka ingin lakukan.


Perbincangan pun dimulai. Kedua pria tersebut terlihat santai saat berbincang. Berbeda saat tadi Yoga menunjukkan sikap tidak sukanya pada Gajendra. Apa yang mereka perbincangkan? Tari tidak bisa mendengar apa yang mereka bahas karena suara lalu lalang kendaraan yang sangat berisik.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Yoga melihat ke arahnya. Tari yang tertangkap basah sedang mengamati mereka pun langsung tertunduk. Saat mendongak, Tari dibuat kaget karena Yoga sudah berada di hadapannya.


"Kali ini aku nggak akan kehilangan kamu lagi, Kirana Dwi Lestari!"


__ADS_2