KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 50


__ADS_3

"A-aku bisa jelasin, Ga." ucap gadis itu takut-takut.


"Kamu mau jelasin apa lagi?" bentak Yoga.


Tari pun terkejut saat Yoga membentaknya. Baru kali ini Yoga yang lembut itu mengeluarkan suara yang begitu keras. Tari memberanikan diri untuk menatap mata sahabatnya. Terlihat jelas manik mata Yoga yang memerah karena menahan amarah.


"Aku sudah tahu sekarang. Kamu adalah Ana dan Ana adalah kamu. Kalian satu orang yang sama, kan? Dan lagi, kamu memiliki hubungan spesial dengan papa ku, kan?" Yoga mulai berapi-api.


Yoga tiba-tiba menyentuh pipi Tari dan mengusapkan ibu jarinya. Dia melihat bedak tebal menempel di jarinya dan make up Tari sedikit terhapus.


"Pinter banget kamu memainkan alat make up. Apa gunanya kamu berdandan tebal seperti ini?"


Tari kembali menunduk dan diam saja.


"Oh, untuk menutupi pekerjaanmu yang seorang pe*lacur,"


"Iya?" Yoga sudah tidak bisa menahan emosi nya. Matanya menatap tajam gadis yang ada di hadapannya itu.


Tari terkesiap. Gadis itu langsung mendongak untuk melihat wajah yang tengah di rundung amarah itu. Bahkan semua orang pun ikut terkejut dengan ucapan yang baru saja Yoga lontarkan.


"Dengar semua! Gadis yang ada di depan kita ini bukanlah gadis baik-baik. Dia bekerja sebagai pekerja malam di klub milik papa ku. Bahkan dia adalah gadis simpanan papa ku." Yoga membeberkan semua nya di muka umum.


Entah setan apa yang tengah merasuki diri Yoga saat ini. Tak ada kelembutan, tidak ada rasa kasih sayang yang terselip disetiap ucapan yang Yoga lontarkan. Rasa benci, sedih dan juga kecewa telah lebur menjadi satu dalam benaknya.


"Benar, kan? Katanya kamu bisa jelasin, Tar. Ayo jelasin ke semua orang di sini kalau memang yang aku bilang itu salah." Tantang Yoga.


Tari masih tetap diam. Tubuhnya mulai bergetar menahan tangis dan juga malu. Gadis itu tidak bisa menjelaskan semua yang Yoga katakan. Benar, semua yang dikatakan Yoga adalah benar adanya. Kali ini dia tidak bisa mengelak apapun.

__ADS_1


"Kamu nggak bisa jawab, kan?"


Tari mulai menangis. Rasa sakit menyerang hati nya. Ia tak menyangka Yoga bisa merangkai kalimat sekejam itu untuknya. Tari tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana ucapan Yoga yang telah melukai hatinya.


"Hah," Yoga memutar bola mata nya kesal.


"Aku salah apa sama kamu, Tar? Bisa-bisanya kamu mempermainkan aku kayak gini. Di saat semua orang menjauhimu, aku yang selalu ada buat kamu, Tar. Aku satu-satunya orang yang mau berteman sama kamu. Tapi kamu malah membalasku seperti ini." jelas Yoga dengan suara yang mulai pelan.


Yoga memperjelas bahwa dirinya sudah banyak berkorban untuk gadis itu. Yoga mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya. Dia merasa di hianati oleh sahabatnya sendiri.


"Maafin aku, Ga." Tari mulai bersuara. Hanya kata maaf yang bisa Tari ucapkan saat ini.


"Maaf kamu bilang?"


"Buat apa kata maaf mu itu kalau hatiku sudah hancur, Tar? Kamu mempermainkan perasaanku dengan kamu menjadi Ana. Bahkan dengan bo*doh nya aku mencurahkan segala isi hatiku tentang Ana ke kamu."


"Aku yakin pasti saat ini dalam hatimu, kamu sedang menertawakan kebo*dohanku, bukan? Dan air matamu hanya untuk menutupi kejahatanmu padaku."


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, kamu dibayar berapa sama papa ku, Tar? Aku yakin papa sudah habis banyak untuk membayar tubuhmu ini." ejek Yoga.


Tari semakin terisak dan tenggorokannya tercekat. Ia menggelengkan kepala sebagai bentuk pembelaannya. Ingin sekali gadis itu mengatakan bahwa dirinya bukan pe*lacur seperti yang Yoga katakan. Namun, lidahnya begitu kelu tak mampu berucap sepatah katapun. Yoga pun semakin keterlaluan. Seakan kebenciannya pada gadis itu sudah mengakar dalam hati. Bahkan dia pun dengan berani mengolok-olok gadis itu di depan para siswa di sekolah itu.


Yoga yang sudah tidak kuat lagi segera pergi dari tempat itu. Sakit di hatinya mungkin akan sulit terobati. Dia tidak akan lagi mempercayai seseorang mulai sekarang. Yoga pergi melajukan mobilnya keluar dari area sekolah. Entahlah, mau kemana laki-laki itu. Yang jelas dia tidak ingin melihat gadis itu lagi.


Kejadian itu pun menjadi tontonan gratis bagi para siswa di sana. Bahkan beberapa guru yang hendak melerai pun ikut tercengang mendengar ucapan Yoga tentang gadis itu. Mereka tak menyangka, Tari yang terkenal sebagai gadis polos, pendiam dan terkucilkan itu ternyata adalah seorang wanita pekerja malam dan bahkan simpanan seorang lelaki dewasa. Beberapa dari mereka sudah mulai mencibir gadis yang masih mematung itu sebelum para siswa di sana diminta bubar oleh guru yang turut menyaksikan kejadian barusan.


Salah satu guru perempuan di sekolah itu mendekati Tari. Ia merasa simpati dengan kejadian yang baru saja Tari alami. Guru itu mencoba menenangkan Tari dan membawa gadis itu ke kelasnya.

__ADS_1


****


Yoga sudah sampai di tempat parkir perusahaan papa nya. Dengan emosi yang masih menyala, dia segera turun dari mobil dan bergegas menuju ruang kerja sang papa. Kali ini, dia akan meminta penjelasan sang papa tentang hubungannya dengan Tari.


Brak ....


Suara pintu terdorong dengan keras. Yoga masuk ke ruang kerja papa nya dengan menahan amarah yang akan segera kembali meluap.


Tuan Anton yang sedang fokus menatap pekerjaannya di layar monitor pun dibuat terkejut oleh perbuatan Yoga yang masuk tidak sopan.


Yoga berdiri tepat di depan meja kerja sang papa. Tuan Anton membalas tatapan Yoga dengan penuh heran.


"Ada apa?" tanya Tuan Anton dengan santai.


"Aku sudah tahu semua nya, Pa."


"Tahu apa?"


"Tari, dia itu simpanan Papa, kan?"


Tuan Anton terkesiap. Ia tidak menyangka akan secepat ini. Pria itu mengira Yoga akan butuh waktu lama untuk mengetahui semuanya. Dan pada saatnya tiba, Tuan Anton sudah membawa Tari dan keluarganya tinggal jauh ke luar kota agar Yoga tidak sampai menyakiti gadisnya sedikitpun. Namun, perkiraannya ternyata salah. Yoga bisa dengan cepat mengetahui semua kebenaran yang ia sembunyikan. Bahkan pria itu sama sekali tidak memiliki persiapan apapun.


"Apa maksudmu?" Tuan Anton masih mencoba tenang.


"Nggak usah berpura-pura lagi, Pa. Yoga sudah tahu semuanya. Tari adalah Ana dan sebaliknya. Dia bekerja sebagai wanita penghibur dan sebagai pela*cur simpanan Papa." jelas Yoga dengan penuh penekanan. Dia tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Jaga bicaramu, Yoga!" bentak sang papa.

__ADS_1


Pria itu tidak bisa mendengar siapapun menjelek-jelekkan gadisnya. Sekalipun itu adalah anak kandungnya sendiri.


__ADS_2