KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 82


__ADS_3

Rona bahagia tergambar di wajah Tari dan adik-adiknya. Hari ini, semua berkumpul di rumah Tari. Rumah sederhana dan nyaman. Senyum bahagia juga tersungging di wajah Bu Mae tanpa henti. Ya, Bu Mae sudah melewati masa sakitnya. Wanita paruh baya tersebut dinyatakan sembuh dari kanker lambung yang sempat bersarang di tubuhnya.


Keluarga Gajendra juga ikut berkumpul. Menyambut kepulangan tetangga rasa saudara setelah berbulan-bulan berada di rumah sakit. Seperti biasa, Farhan dan Bilal selalu memainkan ponsel miringnya tanpa ingin tahu keadaan di sekitar. Yang penting ikut ngumpul.


Adnan pun sedari tadi selalu memeluk ibunya. Seakan meluapkan rindu yang tertahan. Gajendra? Ah ... apalagi yang akan ia lakukan selain mengganggu Tari. Namun, kali ini ia mengganggu Tari sebentar kemudian hanya memandanginya. Tari sedang berbincang dengan paklik dan bulik. Sangat tidak sopan jika mengganggu orang yang sedang berbicara dengan orang lain.


Dipandanginya gadis yang sudah lama mengisi relung hatinya itu. Gadis pendiam yang tak mudah ditaklukkan. Meskipun ia tahu gadis itu tak pernah menaruh perasaan padanya, rasa cinta itu tidak pernah memudar. Tunggu! Yang berjuang untuk mendapatkan gadis itu bukan hanya dirinya seorang. Ada pria lain yang juga mencoba memperebutkannya. Ia harus bergerak cepat. Ini saatnya!


"Ehm." Gajendra berdehem sedikit keras agar semua memperhatikannya.


"Ada apa, Gajendra?" tanya bulik.


"Gajendra mau ngomong sebentar, Bulik."


"Sok atuh, ngomong!" Pria berdarah sunda itu memang tidak bisa bersikap ramah pada keponakannya sendiri. Siapa lagi kalau bukan paklik?


"Mm ...." Gajendra menggaruk tengkuknya. Tidak tahu harus mulai darimana.


Semua mata menatapnya. Bahkan Farhan dan Bilal juga serius memandanginya. Membuat pria itu gugup saat ingin berbicara.


"Mumpung semuanya lagi berkumpul, aku mau bilang sesuatu," katanya mulai berbicara dengan segenap rasa semangat di dada.


Semua diam mendengarkan.


"Aku ... aku ingin ... aku mau melamar kamu, Tari." Mata Gajendra langsung berpusat ke arah Tari.


Hening, semua orang yang berada di ruangan itu tampak sedang mencerna perkataan Gajendra.


"Aku ingin melamar Tari menjadi istriku, Bu Mae, Paklik dan Bulik," ucap Gajendra tegas.


"Hahaha ...." Seketika gelak tawa paklik menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan.


"Kamu mau melamar Tari?" tanya paklik sambil tertawa.

__ADS_1


"Iya, Paklik," jawab Gajendra sambil mengangguk.


"Hahaha ...." Tawa paklik semakin keras.


"Mau dikasih makan apa nanti anak dan istrimu? Kuliah aja nggak bener, gayanya mau ajak nikah Tari." Ucapan paklik berhasil membuat keponakannya terdiam.


"Hus! Bapak nggak boleh kayak gitu." Bulik memukul pelan lengan suaminya.


"Memang kenyataannya begitu, Bu. Kuliahnya aja nggak selesai-selesai. Sok-sokan mau ngajak nikah anak orang."


"Paklik, aku bisa bahagiain Tari. Aku bisa mencukupi kebutuhannya dan adik-adiknya," balas Gajendra tidak terima.


"Bahagiain dengan cara apa? Kerja aja enggak, dapet uang dari mana kamu? Jaman sekarang bahagia kok cuma modal cinta, cih!" Paklik mengejeknya.


"Bapak, jangan seperti itu!" Bulik mulai malu.


Memang suami dan keponakannya itu tidak pernah akur. Semua karena Gajendra yang bermain-main dengan kuliahnya. Paklik sangat menaruh harapan sangat besar pada Gajendra. Mengangkat derajat keluarga dan bisa hidup dengan mapan. Namun, kenyataannya Gajendra tidak pernah serius dengan sekolahnya dan hanya menghamburkan uang.


"Mm, semuanya, bisa tidak kita membicarakan hal ini nanti? Ibu baru saja pulang dari rumah sakit. Biarkan istirahat dulu." Sela Farhan.


"Bu Mae, maaf kita jadi bikin Ibu nggak nyaman," ucap Gajendra.


Bu Mae tersenyum. "Nggak apa-apa, Gajendra. Ibu tau maksud kamu baik. Ibu menyambut keinginan kamu dengan baik. Terserah kalian saja. Toh kalian yang akan menjalaninya."


Bu Mae melihat Tari dan berbalik pada Gajendra.


"Terimakasih, Bu," balas Gajendra dengan tersenyum.


Setelah berbincang-bincang sejenak menetralkan suasana, paklik dan bulik pamit untuk pulang. Bulik benar-benar merasa tidak enak pada Bu Mae atas kelakuan suaminya. Tidak seharusnya suaminya berkata seperti itu di depan orang lain.


Setelah mengantar paklik dan bulik sampai depan rumah, Tari mengajak ibunya untuk istirahat di dalam kamar. Adnan sedari tadi hanya diam dan menempel pada Bu Mae. Mungkin rasa rindunya masih belum tertuntaskan.


***

__ADS_1


"Tar," panggil Gajendra sambil berjalan memasuki kamar Tari.


Tari yang sedang membersihkan tempat tidurnya, menghentikan kegiatannya dan menoleh.


"Apa?"


"Ish, sinis amat calon istriku," goda Gajendra.


Tari diam, ia lebih memilih melanjutkan kegiatannya.


"Tar, aku serius mau lamar kamu," kata Gajendra yang sudah duduk di bibir tempat tidur Tari.


"Tar!" pria itu menghentikan Tari dengan meraih tangannya.


"Tolong kasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku bisa bahagiain kamu. Aku mencintaimu, Tar." Matanya sayu menatap tari yang sedari tadi hanya diam.


Gajendra menarik Tari agar duduk di sampingnya.


"Aku ... aku ...." Tari terbata-bata kemudian menunduk.


"Kamu apa, Tar?"


"Aku nggak tau harus gimana, Gaje." Lirih Tari.


"Aku akan menunggumu!" Kalimat yang Gajendra ucapkan berhasil membuat Tari mendongak.


"Sampai kamu siap menerima cintaku." Lanjut Gajendra. Ia menggenggam erat jemari Tari. Menyalurkan rasa yang selalu ditolak oleh gadis itu. Sedetik kemudian, Gajendra memeluk Tari.


"Aku ingin cinta ini dapat kau sambut, Tar."


"Rasa ini fakta, selektif bukan posesif. Aku cinta kamu, Kirana Dwi Lestari!"


Tari bergeming. Bukan sekali ia mendengar pernyataan cinta dari pria dewasa yang juga temannya itu. Namun, kali rasanya begitu dalam. Rasanya Gajendra benar-benar serius mengatakannya.

__ADS_1


Ah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Tari? Dicintai oleh banyak pria. Disayangi oleh banyak orang. Apalagi yang kamu cari?


__ADS_2