
"Sayang, apa papi tidak pernah memberitahumu untuk tidak dekat dengan lelaki lain?"
"Atau papi harus mengingatkanmu kejadian saat kamu berada di dalam ruang karaoke bersama pria lain?"
Gadis yang hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu kembali terhenyak saat membuka isi pesan dari papi nya. Tubuhnya bergidik ngeri ketika mengingat kejadian sekitar satu tahun yang lalu saat tuan Anton membuka paksa pintu salah satu ruangan di klub miliknya. Aura kemarahannya langsung menyebar ke seluruh ruangan.
Dalam waktu beberapa menit, pria yang sedang bernyanyi ditemani oleh Ana sudah terkapar tak sadarkan diri dengan wajah yang babak belur. Tidak cukup itu saja. Bahkan pria itu harus mengalami kebangkrutan beberapa waktu sebelum tuan Anton mengampuni dirinya.
Tari menggigit bibir bawahnya, takut. Ia takut terjadi sesuatu pada Yoga. Atau jangan-jangan papi nya suda tahu dirinya sedang dekat dengan Yoga?
"Aagrrh ...." Tari menjatuhkan tubuhnya di kasur, tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Pikirannya buntu bila itu menyangkut tentang tuan Anton. Pria tua itu selalu menang segalannya. Tari pun tidak pernah berani membantah karna takut.
Tungkling ....
"Tunggu di rumah, papi akan segera menjemputmu sekarang!"
Kembali sang papi mengirim sebuah pesan. Tubuh Tari mulai berkeringat dingin. Tuan Anton akan menjemputnya? Jangan-jangan malam ini dia akan habis ditangan sang papi. Ah, membayangkan dirinya akan babak belur sudah membuatnya sangat ketakutan. Apalagi kalau sampai dia kehilangan nyawa nya. Ya Tuhan, bagaimana nasib adik-adiknya nanti?
Tok ... Tok ... Tok ....
Terdengar suara pintu depan diketuk. Larut malam begini siapa yang bertamu? Ah, sejenak Tari lupa kalau memang ada tamu yang sengaja datang larut malam begini. Tari segera keluar dari kamarnya menuju ruang depan.
Tok ... Tok ... Tok ....
Ketukan pintu itu terdengar lagi. Tamu larut malam itu seperti nya tidak sabar minta segera dibuka kan pintu. Dengan sedikit takut Tari membuka pintu depan rumahnya. Bukan karna takut jika itu pencuri atau hantu, tapi karna ia tau yang bertamu adalah tuan Anton. Seorang yang mungkin akan menghabisi hidupnya malam ini juga.
Pintu terbuka, gadis itu tak berani menatap seseorang di depannya. Ia hanya mampu mengamati sepatu mengkilap yang dikenakan orang itu.
"Apa seperti ini caramu menerima tamu, sayang?" Tuan Anton mulai bicara.
Suaranya sangat lembut namun terdengar sangat menakutkan.
"Silahkan masuk Pih!" ucap Tari lirih. Kepalanya terus menunduk tak berani bergerak. Tari bergeser sedikit memberi jalan agar papinya itu dapat masuk ke dalam rumah.
"Papi tidak mau masuk. Sekarang ikut papi!"
Tari memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya. Melihat wajah tenang namun menyeramkan baginya. Yang dipikirannya saat ini adalah kejadian saat tuan Anton memukuli pelanggan klub waktu itu. Betapa mengerikannya papinya itu saat marah.
"Ma-mau kemana Pih? A-adik-adik?"
Tak ada jawaban dari sang papi. "Ana panggil bu Mae dulu buat jagain adik-adik."
Tari hendak berjalan melewati tuan Anton untuk pergi kerumah bu Mae namun ditahan oleh sang papi.
"Papi sudah bawa pengasuh kemari." Tuan Anton menoleh ke arah mobilnya yang ternyata sudah ada tiga pengasuh berdiri di samping mobil.
Tuan Anton memberi isyarat pada para pengasuh itu untuk mendekat. Kemudian ia memberi perintah untuk menjaga Adnan, Farhan dan Bilal yang sedang tidur di dalam rumah. Setelah itu, tuan Anton membawa gadisnya masuk ke dalam mobil. Tari hanya menurut saja tanpa berani membantah.
Sepertinya Tari akan habis di tangan tuan Anton malam ini. Tak ada sedikitpun senyuman di wajah pria itu. Hening, tak ada percakapan antara mereka berdua. Jalanan pun nampak sepi karna ini memang sudah larut malam, dimana orang-orang seharusnya sedang beristirahat karna lelah beraktivitas seharian. Namun untuk Tari, sepertinya malam ini adalah malam terakhirnya.
__ADS_1
Gadis itu hanya menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Mencoba menghilangkan rasa takut dalam dirinya. Sebenarnya bukan kali ini saja ia ketahuan pergi dengan pria lain. Waktu yang lalu juga Tari ketahuan pergi dengan Yoga, bukan? Namun tidak terjadi sesuatu pada gadis itu. Amarah tuannya hanya sesaat kemudian berakhir dengan tidur satu kamar sembari berpelukan. Namun kali ini, Tari benar-benar takut karna tuan Anton mengingatkan kejadian di masa lalu.
"Kenapa kamu cuma diam?" tanya tuan Anton dingin. Tari bergeming.
"Harusnya ada yang kamu jelaskan sekarang." Gadis itu masih diam meski ia mendengar tuannya sedang berbicara padanya.
"Apa sekarang kamu tuli?" tanya nya lagi.
Tari langsung menoleh. Astaga, baru kali ini tuannya berbicara kasar padanya.
"Sepertinya kamu memang benar-benar tuli Kirana Dwi Lestari."
Baru kali ini tuan Anton berani mengatainya. Entah kenapa hati Tari sakit sekali. Kembali gadis itu menunduk, tidak tahu harus berbuat apa. Salahnya karna dia berani pergi dengan lelaki lain, namun tidak seperti ini juga. Ia tidak sanggup menerima sikap tuan Anton yang seperti ini.
Lama waktu perjalanan yang mereka tempuh. Sepertinya tuan Anton membawa gadis itu jauh dari kota. Tari memberanikan diri melihat keluar jendela. Gelap dan banyak pohon-pohon besar. Tidak ada tanda kehidupan di sekitaran. Hanya cahaya dari lampu mobil tuan Anton sebagai penerangan utama disepanjang jalan. Kemana pria itu akan membawa gadisnya pergi? Jam, ini jam berapa? Ah, bahkan gadis itu tidak sempat membawa ponselnya.
Sampai pada sebuah jalan masuk perkampungan dengan jalan yang hanya di cor. Suasana sangat sepi bahkan jarak antara rumah satu dengan yang lain pun terlihat sedikit berjauhan. Mobil tuan Anton memasuki sebuah pekarangan rumah yang luas.
"Turun!" titah pria itu.
Tuan Anton benar-benar menunjukan sikap dinginnya malam ini. Bahkan dia pun tidak membukakan pintu seperti biasanya. Perse*tan lah dengan nasib Tari selanjutnya. Gadis itu keluar mobil dengan pasrah. Hawa yang begitu dingin langsung menusuk tulangnya ketika ia sudah berada diluar mobil. Tari mengusap kedua lengannya bersamaan agar terasa hangat.
Ia melihat sekeliling, sepi. Kemudian ia mengamati rumah yang ada di hadapannya. Rumah yang sederhana seperti rumah di perkampungan pada umumnya namun terkesan lebih modern. Ia melihat tuan Anton sedang mencoba membuka pintu utama rumah itu. Setelah terbuka, tuan Anton segera masuk ke rumah itu sendirian. Tidak kuat dengan hawa dingin diluar, Tari segera mengikuti tuannya masuk ke dalam rumah. Terserahlah bagaimana nasibnya nanti di dalam rumah, yang penting ia tidak mati kedinginan di luar.
Tari memasuki rumah itu dan mengamati sekitar. Nyaman, tenang, dan sangat sederhana. Ruang tamu di rumah itu hanya di isi dengan beberapa furniture saja seperti sofa, meja, dan televisi. Tari duduk di salah satu sofa dekat pintu. Entahlah kemana pria itu, Tari tidak berani masuk lebih dalam lagi karna ia merasa bukan di tempatnya. Kesopanan lebih ia utamakan saat berada di rumah orang lain meskipun Tari tahu ini pasti salah satu rumah sang papi.
Lama Tari diam dan hanya duduk di ruangan itu, hawa dingin dari luar mulai menyeruak lagi. Segera Tari menutup pintu agar udara dingin tidak masuk.
"Astaga Papih, Ana kaget." Gadis itu mengelus dada.
"Kemari!" titah sang papi.
Ana mendekat perlahan, nada bicara papi tidak sedingin saat di mobil tadi. Harum wangi sabun menyeruak di hidung gadis itu saat sudah berada di dekat tuan Anton. Pria itu pasti baru saja mandi. Tuan Anton menepuk pahanya mengisyaratkan pada gadis itu untuk duduk di pangkuannya.
"Papi ngga mau kamu jadi Ana lagi!" ucap pria itu sembari mengelus rambut gadisnya.
"Maksud Papih?"
"Kamu jadi Ana malah memberi kesempatan pada lelaki lain untuk menikmati kecantikanmu. Jadi, tetaplah menjadi Tari. Gadis polos yang tidak tahu menahu tentang dunia malam. Jangan pernah lagi masuk ke klub itu. Jangan pernah keluar malam! Jadilah anak sekolah yang baik pada umumnya." jelas tuan Anton yang mulai posesif.
"Kirana Dwi Lestari sayangku. Tari," imbuhnya.
Entahlah, apa yang di inginkan pria dewasa itu. Dulu dirinya yang tidak mau memanggil gadis itu sebagai Tari dan menyematkan nama Ana saat itu juga tapi sekarang ia yang menginginkannya. Benar-benar membingungkan.
Jadi, kini tidak ada sosok Ana lagi? Membingungkan. 🤦
Tari yang masih tidak mengerti dengan penjelasan sang papi hanya diam dan menunduk di pangkuan tuannya. Seperti anak kecil yang sedang diberi wejangan oleh orangtua nya.
"Kamu mengerti sayang? Papi ngga mau kamu jadi Ana yang cantik. Papi tidak rela orang-orang melihat kecantikanmu. Termasuk anak papi sendiri."
Tari menatap manik sang papi terkejut. Benar kan papinya sudah tahu tentang hubungannya dengan Yoga. Kini perasaan takut kembali menyelimuti hati Tari. Bukan dirinya, namun ia takut sang papi akan menghabisi Yoga.
__ADS_1
"Pih, Ana mohon jangan apa-apain Yoga." tiba-tiba gadis itu memeluk sang papi.
"Ana yang salah Pih, Ana yang dekati dia. Ana mohon jangan salahkan Yoga." Gadis itu mulai menangis.
"Hiks ... Hiks ...." Gadis itu memeluk tuan Anton dengan begitu erat. Ia benar-benar takut sang papi akan murka pada anaknya sendiri.
"Apa kamu mencintainya, Tari?" tanya sang papi.
Tari malah semakin mempererat pelukannya. Tak tahu harus menjawab apa, karna kalau sampai salah menjawab, ia takut sang papi murka.
Tuan Anton merasa bahwa gadisnya benar-benar mencintai Yoga. Terlihat jelas betapa takutnya Tari kalau sampai dirinya menyakiti Yoga. Namun rasa cintanya pada Tari lebih besar dari siapapun. Ia tidak ingin orang lain memiliki Tari selain dirinya.
"Kamu ngga mau papi menyakiti Yoga?" Tuan Anton melepas pelukan Tari.
"Hiks ... Hiks ...."
Tuan Anton mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipi Tari. Pria itu merapikan beberapa helai rambut yang menempel di wajah Tari dan menyelipkannya di belakang telinga. Mata gadis itu terpejam dan sedikit membengkak karna menangis.
"Sudah jangan menangis! Papi ngga akan menyakiti siapapun." ucapnya dengan lembut.
Sekali lagi, seberapa pun marahnya pada gadis itu, pasti akan sirna saat berada di dekat gadis itu. Rasa cintanya mampu meredam amarah di hatinya. Tari memeluk kembali sang papi. Rasa sedikit lega karna tuannya itu tidak akan menyakiti Yoga.
"Asalkan kamu harus menuruti semua perintah papi."
Tari mengangguk, "Iya Pih, Ana janji akan selalu menuruti perintah Papih. Ana janji ngga akan mendekati Yoga lagi. Hiks ...."
"Sudah ,jangan nangis lagi. Sekarang kita tidur! Besok papi ajak kamu keliling desa."
Tuan Anton menurunkan Tari dari pangkuannya. Ia membawa Tari ke sebuah kamar yang letaknya jauh kedalam rumah itu, melewati beberapa ruangan dan sebuah taman kecil di dalam rumah. Astaga, dari luar tampak seperti rumah minimalis yang sangat sederhana namun di dalamnya begitu sangat luas.
Tari terkagum dengan interior di rumah itu, sangat elegan namun tidak meninggalkan kesan pedesaan. Entahlah bagaimana cara mendeskripsikannya, yang jelas rumah itu sangat bagus. 🙈
Sampai di depan kamar, tuan Anton memutar knop pintu dan membukanya. "Ini kamar kita."
Kembali Tari melihat sekeliling. Kamar yang sangat luas namun hanya ada sebuah sofa, ranjang berukuran besar dan sebuah lemari.
"Papi belum sempat mengisinya. Bahkan beberapa ruangan di rumah ini masih kosong. Rencananya papi mau bawa kamu kesini setelah semuanya sudah siap. Namun sepertinya, papi tidak bisa menunggu selama itu."
Tuan Anton menggiring Tari dari menuju sebuah pintu. Ia membukanya perlahan dan membawa Tari memasukinya. Mata Tari langsung terbelalak. Sebuah danau nan luas dihiasi pantulan beberapa bintang dan bulan malam itu berada di hadapannya kini. Juga kunang-kunang yang beterbangan di sekitar danau semakin memperindah suasana malam itu. Tari berjalan mendekati pagar pembatas setinggi pinggannya. Menikmati indah dan tenangnya malam itu.
"Bagaimana? Kamu suka?" Tuan Anton memeluk gadisnya dari belakang. Gadis itu mulai tersenyum kembali.
"Iya, Ana suka."
"Bukan, kamu bukan lagi Ana, sayang. Kamu adalah Tari. Gadisku!" Tuan Anton mempererat pelukannya. Seakan tidak ingin kehilangan gadis itu.
"Sayang," Tuan Anton membalikkan tubuh Tari.
Mata mereka saling bersitatap. Terlihat jelas betapa tuan Anton sangat mencintai Tari. Bahkan, karna seorang Tari, ia bisa mengobati rasa sakit bertahun-tahun karna kematian istrinya.
"Aku, Antonio Widodo, sangat mencintaimu Kirana Dwi Lestari! Apapun akan aku lakukan untuk dapat memilikimu. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu. Aku akan selalu membahagiakanmu. Hiduplah bersamaku sayang! Temani aku dimasa tuaku kelak. Tetaplah berada di sampingku! Hingga aku mati dipelukanmu." Untuk kesekian kalinya, tuan Anton mengutarakan isi hatinya pada Tari.
__ADS_1
Tari terdiam, merasakan ketulusan hati dari sang papi. Pria yang selalu membantunya. Berada di sisinya saat susah maupun senang. Pria yang benar-benar tulus mencintainya tanpa peduli dia adalah Tari atau Ana. Hatinya goyah. Pria sebaik ini, haruskah ia sia-siakan demi keegoisannya mencintai Yoga? Lelaki yang belum tentu menerimanya dala keadaan apapun.