KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 21


__ADS_3

"Ah ...." Gadis itu sangat terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Papih?" Suaranya hampir tak terdengar.


Tari tidak menyangka, ada papi di rumahnya. Tuan Anton bilang ia sedang berada di kota M untuk bertemu dengan Klien. Laki-laki yang hampir tua itu sedang duduk bersender di kursi menyilangkan kedua kakinya dan memangku kedua tangannya. Wajahnya datar, tak ada senyuman yang selalu dilihat Tari setiap bertemu.


Mati kamu Tar! 🤦


"Papih sejak kapan di sini? Katanya mau bertemu Klien?" tanya gadis itu sembari duduk di samping tuan Anton. Pria itu diam saja.


"Mau minum apa? Ana buatin." Pria itu tak merespon. Gadis itu menjadi bingung.


"Dari mana saja kamu?" tanya tuan Anton dengan nada menahan amarah.


"Ta-tadi dari main sama teman." jawabnya gugup. Ia tahu tuannya ini sedang marah.


"Teman atau teman?" tanya pria itu lagi sembari menyulut rokok. Tuan Anton tahu gadisnya baru saja pergi dengan Yoga anaknya. Dia tahu persis mobil yang dipakai Yoga adalah mobil pemberiannya.


Tari menunduk, ia tidak berani berkata apapun. Kenapa tidak menjawab pertanyaan sang papi? Karna Tari tidak menganggap Yoga sebagai teman. Lebih dari hanya sekedar teman. Yoga adalah sosok yang sudah mengisi hatinya.


"Ikut Papi!" tiba-tiba saja pria itu berdiri dan menarik Tari keluar rumah. Tari yang terkejut hanya bisa menurut apa kata pria itu.


Di depan rumah sudah ada Beni sang asisten yang menunggu mereka. Segera ia membuka pintu mobil penumpang dan mempersilahkan para tuannya masuk. Saat ini, perasaan Tari tak menentu. Ia seperti sedang ketahuan selingkuh dari sang kekasih.


Lah iya. 🤦


Beni segera melajukan kendaraannya. Seperti sudah tahu tujuan sang atasan, ia melaju tanpa bertanya kemana tuan Anton akan membawa Tari. Gadis itu hanya menunduk, tak ada percakapan renyah seperti biasa. Namun tuan Anton tetap menggengam erat pergelangan tangan Tari. Seakan tak ingin lagi kecolongan atas perginya Tari.


Pria itu melirik sekilas gadisnya. Kucel sekali dan sangat jelek. Kenapa Yoga mau dengan dandanan gadis itu yang seperti ini? Apa Yoga juga menyukainya? Ah, memikirkan hal ini membuat kepala tuan Anton menjadi pusing.

__ADS_1


Haruskah ia bersaing dengan anaknya sendiri? Tidak, itu tidak mungkin. Dari segi fisik, Yoga lebih segalanya dibandingkan dengannya. Muda, tampan, anak orang kaya. Pasti Tari jauh memilih anaknya.


"Aaagrh ...." tiba-tiba tuan Anton berteriak kencang dan memukul jok depan. Ia juga mengeratkan lagi genggamannya pada Tari. Meluapkan kekesalan dalam pikirannya.


"Auh, sakit!" Tari meringis kesakitan sembari mencoba melepaskan tangannya namun tidak bisa. Tersadar, tuan Anton segera melepasnya dan meminta maaf.


"Maaf sayang." ucapnya dengan memperhatikan lengan Tari yang memerah karna ulahnya.


Tuan Anton mengelus tangan gadis itu dan menciumnya. "Maafkan Papi sayang." ucapnya dengan lembut. Gadis itu hanya diam saja. Ia tak berani berkata apapun.


"Sudah sampai Tuan!" ucap Beni tiba-tiba. Dan benar, mereka sudah sampai di tujuan. Dimana lagi kalau bukan rumah baru. Beni segera turun dari mobil dan melakukan tugasnya. Membukakan pintu untuk atasannya.


Tuan Anton langsung menggandeng Tari masuk ke dalam rumah. Pria itu langsung membawa Tari ke dalam sebuah kamar. Mendudukkannya di samping ranjang dan menutup rapat pintu kamar.


Tari hanya diam saja, melihat apa yang dilakukan tuannya yang masuk ke dalam kamar mandi beberapa saat dan keluar lagi dengan membawa sebuah wadah berisi air dan handuk kecil. Apa yang akan dilakukan pria itu? 🤔 🤔


Dengan telaten tuan Anton mengelap wajah Tari hingga bersih. Tak ada lagi make up tebal yang memperburuk penampilannya. Kini Tari berubah menjadi Ana yang manis tanpa polesan di wajahnya. Tuan Anton tensenyum puas. Kini ia bisa melihat wajah asli gadisnya. Pria itu berdiri dan membawa wadah itu kembali ke dalam kamar mandi.


"Haeh ...." Ana menghela napasnya dalam. Ia berpikir. Memang tidak ada yang bisa menerimanya jika ia berpenampilan jelek. Termasuk, pria yang sering menyatakan cinta padanya.


Benarkah? Tak ada pria yang bisa menerima wanitanya dengan apa adanya? Apakah mereka hanya melihat wanita dari penampilannya saja? Ah tidak, semoga persepsi itu tidak ada pada kamus hidup Yoga dan tuan Anton.


Tuan Anton kembali duduk di samping Ana dan membelai lembut kepala Ana.


"Tidurlah! Ini sudah malam sayang." titah pria itu. Tuan Anton beranjak dari duduknya berniat untuk keluar dari kamar itu. Namun, Ana menahannya.


Pria itu menoleh menatap gadisnya. "Papih ngga marah lagi sama Ana?" tanya Ana dengan polos.


Tuan Anton kembali duduk.

__ADS_1


"Hmm, mana bisa Papi marah padamu? Papi sangat mencintaimu, saking cintanya sampai Papi tidak bisa marah dengan kesalahanmu."


Ana tersenyum kemudian memeluk papinya. Ia mengira akan dimarahi habis-habisan karna sudah pergi dengan laki-laki lain. Ternyata tidak. Pria itu sangat mencintainya, sangat.


"Tidurlah sayang!" tuan Anton melepas pelukan gadisnya.


"Papih tidak tidur?"


"Nanti, papi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Nanti tidur di sini?"


Tuan Anton menatap mata Ana. Benarkah gadis polosnya itu yang baru saja bertanya?


"Memangnya boleh kalau papi tidur di sini?"


Ana menunduk kemudian mengangguk pelan.


"Astaga ... Gadis papi sudah mulai genit sekarang ya. Sudah mulai mengajak tidur." ucapnya sembari menciumi seluruh wajah Ana kecuali bibir.


"Ahaha ... Papih geli." Ana mencoba menutupi wajahnya, namun tuan Anton masih saja menciuminya. Puas bermain-main, tuan Anton segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menepuk kasur yang kosong meminta Ana untuk berbaring juga.


Dengan malu-malu Ana merangkak mendekati tuannya dan segera berbaring. Ini kali pertama mereka tidur berdua di atas ranjang yang sama.


Tuan Anton memeluk gadisnya itu. Mencium kening Ana sangat lama. Meresapi harum rambut Ana yang memabukannya. Sungguh, ini lebih memabukkan dibanding alkohol merk apapun.


"Tidurlah sayang, papi sangat mencintaimu."


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2