KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 61


__ADS_3

"Maaf lama," ucap Yoga setelah duduk di balik kemudi mobilnya.


"Kita berangkat sekarang." imbuhnya.


Tari hanya diam sembari mengamati apa yang dilakukan Yoga. Dari mulai memasang sabuk pengaman hingga mulai melajukan mobilnya ke luar sekolah.


"Eh itu," ucap Tari saat mereka melewati mobil yang selalu menjemputnya. Tari yang terlihat takut segera menutup wajahnya dengan tasnya agar si sopir tidak melihatnya.


"Kamu tenang aja. Sopir kamu sudah aku beresin." ucap Yoga yang tetap fokus menyetir, tapi menoreh senyum di bibirnya.


"Kamu apakan?"


"Aku minta salah satu temanku buat kasih dia minuman yang sudah aku campur obat tidur." jelas Yoga.


"Astaga, kalau nanti ada apa-apa bagaimana?" Tari mulai panik.


"Kamu tenang aja. Dia pasti sudah tidur sekarang." jawab Yoga dengan santai.


Tari mulai diam dan menunduk. Ia takut terjadi sesuatu pada sang sopir dan Tuan Anton tahu. Ia takut sang papi akan murka saat tahu dirinya pergi bersama Yoga. Ah, dia juga yang salah kenapa mau saja diajak pergi oleh Yoga. Sedangkan Yoga, ia masih tetap fokus ke jalan. Sesekali tersenyum saat melihat Tari yang hanya diam menunduk. Inilah yang ia inginkan, melihat kembali kepolosan sahabatnya dari dekat.


Yoga segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah gedung pencakar langit. Tari juga tengah memperhatikan keadaan sekitar dari dalam mobil. Ia merasa tidak asing dengan tempatnya berada saat ini, tapi ia lupa.


"Yuk, turun!"


"Kita di mana, Ga?" tanya Tari.


"Apartemenku, kamu lupa kalau kita pernah tidur berdua di sini?" tanya Yoga balik.


Seketika Tari tertunduk. Wajahnya bersemu merah karena malu. Gadis itu mengingat kembali saat malam singkat bersama Yoga dan semakin merona pipinya. Untungnya pipinya yang memerah tertutup oleh riasan yang masih menempel di wajahnya sehingga Yoga tidak akan melihatnya.


"Sudah ayo, turun!" Yoga melepas sabuk pengamannya kemudian keluar dari mobil. Ia berjalan menuju pintu di samping Tari kemudian membukanya.


"Makasih," ucap Tari setelah keluar dari mobil dan dibalas senyuman oleh Yoga. Yoga berjalan lebih dahulu dan disusul tari di belakangnya.


"Kita cepat sedikit, nanti ada yang lihat kita." titah Yoga.


Setelah sampai di depan apartemen milik Yoga, ia menekan tombol sandi yang terpasang di pintunya. Pintu pun terbuka. Yoga segera mempersilahkan Tari masuk ke dalam.

__ADS_1


"Masuklah!"


Dengan perlahan Tari mengikuti langkah Yoga masuk ke dalam apartemennya. Tari melihat sekeliling ruangan, sungguh megah. Desain ruangan yang hampir sama persis dengan rumah Tuan Anton dan Yoga. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Selain ketampanan yang sama, Yoga dan papanya memiliki konsep tata ruang yang sama pula. Ah, dan juga mereka menyukai gadis yang sama. Tiba-tiba Tari memijit pangkal hidungnya. Rasanya penat jika memikirkan mereka secara bersamaan.


"Kamu mau berdiri terus? Ayo sini duduk!" ucap Yoga yang berhasil mengejutkan Tari.


"Eh, iya." jawab Tari singkat dan kemudian ia ikut duduk di sofa bersama Yoga.


Hening, baik Yoga maupun Tari hanya diam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba Yoga beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian, Yoga datang dengan membawa sebungkus tisu basah di tangannya.


"Kamu mau ngapain?" Tari menepis tangan Yoga yang ingin menyentuh wajahnya.


"Ish, diem dulu! Nurut bentar sama aku."


Dengan selembar tisu basah di tangan, Yoga mulai mengusap wajah Tari dengan pelan. Yoga mencoba menghilangkan bedak yang menempel di wajah Tari. Tindakan yang Yoga lakukan seperti dejavu. Sepertinya ia pernah mengalami kejadian saat ini. Ah, Tari ingat. Dulu sang papi juga pernah melakukannya. Membersihkan wajah Tari dari riasan tebal. Merubah sosok Tari menjadi Ana dan kini Yoga juga melakukan hal yang sama.


"Sudah selesai," ucap Yoga sembari menaruh beberapa lembar tisu yang sudah terpakai di atas meja.


"Ana," panggil Yoga pada gadis itu.


Gadis yang dipanggil hanya menunduk, yang Yoga inginkan tetaplah Ana, bukan Tari. Padahal, Ana sudah tidak ada lagi. Hanya ada Tari seorang.


"Ma-maaf, Yoga." Tari membuang muka.


"Aku bukan Ana, aku adalah Tari dan Ana sudah tidak ada lagi." imbuhnya.


"Ah, iya. Tari dan Ana, sekarang sama saja."


"Maksud kamu?" Gadis itu kembali menatap mata Yoga.


Laki-laki itu menggenggam kedua tangan Tari. Mengelus punggung tangan Tari dengan kedua ibu jarinya.


"Maaf," lirihnya.


"Maafkan semua yang aku perbuat sama kamu selama ini. Setelah tahu semuanya, aku sangat terkejut dan membuatku hilang kendali, Tar. Aku sudah coba untuk menjauhi kamu. Memutus persahabatan kita agar aku nggak lagi mengingat tentang kita, tapi nyatanya aku malah semakin tersiksa." jelas Yoga panjang lebar.


"Orang bilang, benci dan cinta itu beda tipis. Dan benar, aku sudah merasakannya. Semakin aku membencimu, aku semakin tersiksa karena semakin mencintaimu. Aku nggak bisa melupakan Ana dan aku nggak bisa jauh dari kamu, Tar. Sekali lagi maaf," imbuh Yoga.

__ADS_1


Tari mematung. Tak tahu harus mengatakan atau melakukan apa saat ini.


"Kamu mencintai papaku?"


Pertanyaan Yoga sukses membuat mata Tari membulat. Apa maksud dari semua ini?


"Kalau kamu benar mencintai papaku, aku akan melepas mu. Cinta memang butuh pengorbanan dan aku yang akan berkorban untuk kebahagiaan kalian." Yoga tersenyum.


Bibirnya sedikit bergetar saat mengucapkan beberapa kalimat tersebut. Mungkin apa yang ia katakan tak seirama dengan apa yang ia rasakan. Yoga menarik jemari Tari kemudian menciumnya beberapa saat sebelum ia melepaskan genggamannya.


Tari, gadis itu diam dalam kebingungan. Yoga berhasil membuat hatinya terombang-ambing. Apa Yoga sudah merelakan hubungannya dengan sang papi? Benarkah Yoga melakukannya? Laki-laki itu memang tidak bisa ditebak.


"Ka-kamu sudah memaafkan aku, Yoga?"


Yoga kembali tersenyum. "Bukannya aku yang barusan minta maaf? Berarti aku yang salah, Tar. Kamu nggak perlu minta maaf ke aku."


"Tapi, aku sebab kalian bertengkar." ucap Tari penuh sesal.


"Kalau kamu bahagia, aku juga akan bahagia."


"Tapi kenapa kamu tiba-tiba baik sama aku?" tanya Tari kembali.


"Kamu banyak pertanyaan." Yoga mulai kesal menjawab semua pertanyaan yang Tari lontarkan.


"Ya kan aku juga mau tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah gini."


"Karena aku mencintaimu, Kirana Dwi Lestari!"


Mendengar pernyataan cinta berkali-kali membuat jantung Tari berdegup kencang. Ingin ia membalas kata cinta tersebut. Namun, lidahnya sangat kelu. Iya, Tari juga merasakan hal yang sama. Dihatinya masih ada cinta untuk Yoga meski tekadnya sudah matang memilih sang papi.


"Tar," Yoga meraih dagu sang gadis dan membawanya untuk melihat wajahnya.


Tari hanya menurut dan pandangan mereka saling bertemu. "Biarkan aku, melepas mu dengan caraku,"


Cup,


Sebuah kecupan hangat mendarat tepat di bibir Tari. Yoga kembali menatap mata sang gadis. Tatapan sayu penuh arti. Tersirat rasa yang begitu dalam. Yoga benar-benar mencintai Tari hingga rela melepasnya. Sedetik kemudian, Yoga kembali mencium bibir gadis itu. Beberapa detik bibir mereka bertaut dan saling memejamkan mata. Menyalurkan sebuah perasaan yang mungkin takkan pernah bersatu.

__ADS_1


Tak perlu harus memiliki untuk sekedar mencintai. Titik tertinggi mencintai adalah merelakan apa yang tidak bisa dimiliki. Terkadang Tuhan membuat kisah hidup kita berjalan dengan seseorang hanya untuk sebagai teman di suatu masa, tapi tidak sebagai pasangan selamanya.


__ADS_2