
Malam sudah larut, namun mata Tuan Anton masih setia terjaga. Sedangkan Yoga, ia sudah terlelap setelah meminum obatnya.
Tuan Anton sedang mengerjakan pekerjaan yang harusnya ditangani oleh Yoga besok pagi. Karena Yoga masih sakit akhirnya sang papi lah yang harus menggantikan tanggung jawabnya. Sebenarnya ia bisa saja meminta Beni untuk mengerjakannya malam ini juga. Namun, pria itu juga memiliki keluarga yang juga membutuhkannya, bukan?
Sesekali Tuan Anton menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Beberapa kali ia salah mengetik sesuatu di ponselnya dan mengulangnya kembali. Satu jam kemudian, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Dia menutup sebuah aplikasi penyimpanan data dan beralih membuka isi pesan WhatsApp di ponselnya.
Begitu banyak pesan yang diterima Tuan Anton. Namun, matanya tertuju pada sebuah pesan yang dikirim Beni yang belum sempat ia buka sedari tadi. Segera ia membukanya karena kembali penasaran dengan vidio yang dikirim Beni padanya.
Vidio pun terbuka dengan sekali tekan. Terlihat dalam vidio itu Yoga sedang memaki-maki Tari di depan umum. Tuan Anton terus fokus mengamati vidio itu hingga habis. Tangannya mengepal kala mendengar suara Yoga yang mempermalukan gadisnya dengan kasar.
Pria itu mendengus kesal. Hingga vidio itu habis diputar, hanya kata-kata tidak pantas yang keluar dari mulut Yoga. Tuan Anton bangkit dan mendekati brankar. Dilihatnya dengan lekat wajah anak semata wayangnya yang tengah terlelap itu. Rasa amarah mulai menyeruak di hatinya. Andai anak itu tidak sakit seperti ini, Tuan Anton pasti sudah merobek mulutnya itu.
Semasa hidupnya, ia tidak pernah mengajari anak itu untuk berkata kasar dan merendahkan orang lain. Ia juga yakin kedua kakek dan nenek anak itu tidak pernah mengajari hal yang tidak semestinya. Tapi sekarang, mulut Yoga sudah seperti tidak di ajarkan untuk berkata baik dan benar.
"Kamu keterlaluan, Yoga. Ternyata cintamu untuk Tari hanya sebatas itu. Jika kamu mencintainya, kamu tidak akan tega mempermalukannya di hadapan umum. Kamu pasti akan menerimanya apapun yang terjadi. Jika cintamu itu tidak jauh lebih besar dari Papa, kenapa kamu bisa sampai semarah ini?" ucap Tuan Anton panjang lebar.
Dia berharap Yoga mendengar semua yang ia ucapkan meskipun suaranya terdengar sangat pelan.
"Kamu pasti akan menyesal, Yoga." imbuhnya.
Kemudian, Tuan Anton pergi meninggalkan Yoga sendirian di ruangan itu. Tuan Anton menghampiri beberapa perawat jaga dan mengatakan bahwa ia ingin pulang sebentar dan meminta tolong pada perawat tersebut untuk menjaga Yoga selagi dirinya tidak ada.
****
Tuan Anton mengendarai mobilnya memasuki perumahan elite tempat gadisnya tinggal. Dia ingin melihat keadaan gadis itu setelah kejadian yang menimpanya. Ia yakin Tari sedang tidak baik-baik saja saat ini. Mobil Tuan Anton mulai memasuki area pekarangan rumah Tari. Setelah memarkirkan mobilnya, pria itu segera turun dan masuk ke dalam rumah.
Keadaan di dalam rumah tersebut sudah sangat sepi. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di semua ruangan. Malam memang sudah sangat larut, mungkin semua penghuni rumah itu sudah menyelami alam bawah sadar mereka.
Tuan Anton langsung menuju kamar sang gadis. Dia mengetuk pintu pelan. Tidak ada jawaban dan mungkin Tari sudah tertidur. Namun, ia merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Tuan." panggil Bu Mae.
"Eh," Tuan Anton terkejut.
Bu Mae menepuk lengannya dengan pelan namun tetap saja dirinya merasa kaget.
"Iya, Bu?"
"Boleh saya bicara sebentar, Tuan."
"Silahkan, Bu. Mari kita duduk di sana." ajak Tuan Anton.
__ADS_1
Keduanya pun berjalan menuju ruang tengah.
"Ada apa, Bu?" tanya Tuan Anton sembari mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Begini, Tuan ...."
"Tunggu!" sela pria itu.
"Jangan panggil saya dengan sebutan Tuan. Saya ini anak Ibu."
"Tapi,"
"Bu, Tari dan adik-adiknya sudah menganggap Ibu sebagai ibu kandung mereka. Jadi, itu artinya Ibu juga Ibu saya." jelas Tuan Anton.
"Baik lah kalau begitu, Nak Anton."
"Nah, begitu kan lebih baik." ucapnya sembari tersenyum.
"Tari dari pulang sekolah tadi terlihat murung. Dia juga tidak mau makan sampai sekarang, bahkan Tari juga tidak keluar kamar." jelas Bu Mae.
"Dia belum makan?"
"Belum, Nak." jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.
Bu Mae menghela napas kasar. Bukan dia tidak tahu polemik yang sedang terjadi di kehidupan Tari. Gadis itu sudah terlalu banyak menanggung beban berat yang belum saatnya ia pikul. Apalagi kehidupan percintaannya yang rumit. Ia pun merasa malu pada dirinya sendiri karena sebagai orang tua, dirinya tidak bisa memberi arahan yang baik untuk gadis yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya tersebut.
"Nak Anton,"
"Iya?"
"Ibu harap Nak Anton bisa mengerti perasaan Tari. Gadis itu sudah banyak melewati perjalanan hidup yang menyedihkan. Hatinya masih terlalu rapuh untuk memikirkan di mana ia akan berlabuh."
Setelah mengatakan itu, Bu Mae pamit untuk menghangatkan makanan dan meminta Tuan Anton untuk mengantar makanan tersebut untuk Tari.
Sedangkan Tuan Anton, sembari menunggu Bu Mae menyiapkan makanan, ia terus memikirkan kalimat yang di ucapkan oleh Bu Mae. Beban hidup gadis itu sudah sangat berat, namun ia malah menambah permasalahan dengan memaksakan cinta nya. Hidup tanpa orang tua utuh memang tidak mudah. Tapi gadis itu masih memiliki Bu Mae dan dirinya, bukan?
****
Tuan Anton memasuki kamar Tari sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk gadis itu. Untung saja setiap pintu di rumah itu memiliki kunci cadangan yang di simpannya. Jadi, Tuan Anton bisa dengan mudah masuk ke dalam kamar itu.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya nya sembari menaruh nampan di atas nakas.
__ADS_1
Pria itu duduk di bibir ranjang dan mengamati Tari yang sedang tertidur dengan selimut setinggi leher. Tuan Anton mencoba membangunkan sang gadis dengan mengusap pelan kepalanya.
Berhasil, gadis itu mulai terusik. Ia membuka perlahan matanya yang masih sembab itu dan terkejut mendapati sang papi sudah ada di kamarnya.
"Kamu tenang dulu, Sayang." kata sang papi saat melihat Tari yang beringsut menjauh.
Mungkin dirinya masih mengantisipasi jika terjadi sesuatu nantinya.
"Papih, ngapain di sini?" tanya Tari.
"Papi hanya mengantarkan makanan buat kamu. Kamu belum makan, kan? Ayo, Papi suapin!" ucap nya sembari mengambil seiring nasi dan sayur di atas nampan.
"Tari nggak laper, Pih."
"Kamu harus makan. Papi nggak mau kamu juga sakit seperti Yoga."
"Yoga sakit?" tanya Tari tidak percaya.
Siang tadi Yoga masih lancar memakainya2, apa mungkin laki-laki itu tiba-tiba jatuh sakit?
"Iya, tadi siang Yoga datang ke kantor lalu pingsan. Sekarang dia masih berada di rumah sakit." jelas Tuan Anton sembari menyuapkan sesendok nasi ke mulut Tari.
"Lalu?" tanya gadis itu lagi seraya mengunyah nasi di mulutnya.
"Kata dokter, dia tidak apa-apa. Cuma butuh istirahat yang cukup dan minum vitamin."
"Tapi kenapa Yoga bisa pingsan, Pih?" tanya Tari penasaran.
"Dia pingsan karena syok." jawabnya singkat.
Tari terdiam sembari mengunyah nasi yang entah suapan keberapa kali. Benar saja jika syok. Gadis itu masih mengingat dengan jelas bagaimana mimik wajah Yoga yang marah akibat dia mengetahui semua tentang dirinya.
"Kamu mikirin apa?" Pertanyaan sang papi membuat gadis itu terkejut.
"Enggak, Pih." jawabnya singkat.
"Kamu nggak mau tanya ke Papi kenapa tiga bisa pingsan karena syok?"
Tari tersenyum. Dia yakin sang papi pasti sudah tahu semua nya. Namun, Tari masih mencoba untuk tidak mengatakan sesuatu. Gadis itu menggelengkan kepala nya.
"Enggak, Pih."
__ADS_1
"Sudah habis." kata papi. Pria itu menaruh piring yang sudah kosong di atas nakas. Tari tidak sadar bahwa dirinya sudah disuapi oleh sang papi hingga habis.
Tuan Anton tersenyum. "Kamu itu terlalu antusias dengan cerita Yoga, apa kamu begitu mencintainya?"