
"Aku yakin kamu baik-baik aja selama ini, Tar." Yoga mulai bicara.
Saat ini Tari dan Yoga duduk di kursi teras. Kursi yang masih awet hingga sekarang meski sudah lama tidak digunakan. Sedari tadi Tari hanya diam. Ia menunduk sambil menautkan jemarinya. Rasa canggung menyelimuti dirinya. Enam tahun tak bertemu, seperti membuat jarak mereka semakin menjauh. Ah, memang sudah jauh.
"Tar, bagaimana keadaan adik-adikmu?" Tari masih diam.
Gadis itu, sebenarnya ingin sekali menjawab semua pertanyaan dari Yoga. Namun, lidahnya kelu. Sifatnya yang pendiam enam tahun lalu seakan muncul kembali.
"Tar, jangan diam aja! Aku banyak banget pertanyaan yang mau aku tanyakan ke kamu." Yoga mulai kesal.
"Kamu tinggal di mana sekarang? Apa kegiatanmu selama ini? Bagaimana kabar keluargamu? Banyak ...."
"Apa kabar Tuan Anton?" sela Tari.
Ia sudah tahu kabar Yoga pasti baik-baik saja karena kini ia sudah melihatnya sendiri. Namun, Tuan Anton? Kenapa bukan pria itu yang mencarinya? Yoga terkesiap. Seketika mulutnya diam terkunci. Matanya lekat menatap gadis yang duduk menunduk di hadapannya. Begitu banyak pertanyaan yang ia tanyakan, kenapa kabar papanya yang menjadi jawaban? Sebegitu dalam kah perasaan gadis itu pada papanya?
"Lebih baik kamu liat sendiri, Tar," jawab Yoga dengan lesu. Yoga seakan patah hati. Rasanya seperti dicubit. Sakit.
"Maaf, aku dan keluargaku baik-baik aja, Yoga."
"Syukurlah." Yoga tersenyum.
Tari melirik jam di ponselnya. Sudah hampir jam lima. Aduh, kalau begini ia bisa berangkat malam. Sebenarnya gadis itu ingin melihat Yoga lebih lama lagi. Juga ingin tahu keadaan Tuan Anton sekarang, tapi ia lebih ingin pulang.
"Mm, apa rumah Bu Mae itu mau dijual, Tar?" tanya Yoga lagi.
Tari mengangguk sebagai jawaban. "Aku kemari karena ada janji temu dengan pembelinya, tapi ternyata sampai sekarang ia belum juga datang. Aku sudah mau pulang tadi," jawab Tari kemudian menunduk. Mungkin kecewa karena merasa sudah tertipu.
"Aku lah pembeli itu, Tar."
"Apa?" Tari mendongak.
"Iya, aku yang buat janji temu hari ini. Enam tahun aku nyari kamu dan nggak pernah ketemu. Aku memang payah," kesalnya.
"Aku mempekerjakan seorang mata-mata di rumah ini. Agar kalau kamu pulang ke sini, aku bisa tahu dan langsung bertemu denganmu. Namun, nyatanya kamu nggak pernah datang, Tari." Suara Yoga semakin pelan.
__ADS_1
"Kemarin waktu tau ada yang mau menjual rumah Bu Mae, aku pikir itu kamu. Makannya aku langsung setuju untuk membeli rumah itu dan minta bertemu." Jelasnya lagi.
"Oh ...."
Oh? Hanya kata itu? Yoga yakin, memang tidak ada perasaan untuknya. Mungkin juga tidak ada rindu untuknya.
"Hanya itu, kata-kata buatku?"
"Ma-maaf, Yoga. Aku harus segera pergi." Kata Tari gugup.
Ya, ia lebih banyak diam karena merasa gugup. Bukan tanpa alasan, pria yang di hadapannya ini adalah pria yang dulu pernah dicintainya. Namun, kini malah ia takut jika masa lalunya terulang kembali. Tari harus segera pulang. Jika ia berada di sini lebih lama, ia takut akan kejadian di masa lalu terulang kembali.
"Kamu mau pulang? Bukankah kita harus lakukan transaksi dulu?"
"Transaksi apa?"
"Jual beli rumah lah, Tar."
"Mm, aku nggak jadi jual rumah Bu Mae, Yoga. Sekarang aku mau pulang sebelum malam."
"Maaf, Yoga. Aku nggak jadi jual rumah itu," tegasnya.
Yoga diam. Ia merogoh ponsel di sakunya dan mengirim pesan pada seseorang. Setelah itu, ia kembali melihat Tari. Gadis itu seperti tidak nyaman. Apa memang ia benar-benar ingin pulang? Apa bertemu dengannya adalah sebuah penyesalan?
Ponsel yang Yoga genggam bergetar. Ada pesan masuk. Ia segera membukanya. Beberapa saat Yoga fokus pada layar ponselnya. Sedangkan Tari, ia sedang berpikir bagaimana caranya Yoga bisa segera pergi dan ia juga bisa segera ke terminal.
"Aku sudah menyelesaikannya," kata Yoga tiba-tiba.
"Ha?" Tari bingung.
"Kamu nggak perlu khawatir sama pengobatan Bu Mae. Aku sudah mengurusnya."
Dahi Tari mengerut. Bagaimana bisa Yoga tahu tentang keluarganya? Dan juga membayar pengobatan ibu.
"Menginap lah semalam lagi, dan besok siang aku akan mengantarmu pulang," kata Yoga lagi.
__ADS_1
"Ka-kamu tau ibuku sedang sakit?" Yoga mengangguk.
"Maaf, aku baru tau sekarang. Semoga nggak terlambat aku bantu kamu, Tar. Maaf!"
"Aku memang bukan orang pintar yang bisa mencari kamu dalam waktu singkat. Bahkan kalau kamu nggak jual rumah, sampai sekarang pasti aku masih nggak bisa nemuin kamu."
"Kamu pasti merindukan papa. Besok pagi aku ajak kamu ke rumah, ya! Tolong, jangan menolak, setelah itu aku antar kamu ke terminal. Aku yakin kamu pasti nggak akan mau diantar pulang sampai rumah."
Gadis itu tak tahu lagi harus menjawab bagaimana. Sungguh, ia tidak mau lagi berurusan dengan keluarga itu. Bahkan, hingga sekarang pun ia masih merasa berhutang budi. Kehidupannya yang lalu tak luput dari campur tangan Tuan Anton. Enam tahun hidup tanpa mereka rasanya sudah sangat menyenangkan, tapi kenapa sekarang harus bertemu lagi?
"Kenapa kamu seenaknya sendiri berbuat semau mu sih? Ini hidupku sendiri, bukan hidupmu. Kamu nyebelin, Yoga!" Tari kesal.
Ia langsung pergi masuk ke kamar meninggalkan Yoga sendirian. Ya Tuhan .... apa dirinya harus terjebak lagi seperti burung dalam sangkar di keluarga mereka?
****
Pukul delapan malam, perut Tari melilit. Ia merasa lapar dan ini sudah waktunya makan malam. Diambilnya ponsel di samping bantal kemudian memesan makanan online. Ia juga mengirim pesan pada adiknya bahwa dirinya akan pulang besok. Ah, entahlah. Harusnya ia bisa saja langsung pulang dan meninggalkan Yoga tadi. Kenapa malah masuk kamar sampai ketiduran?
"Bo*doh!" umpatnya pada diri sendiri.
Tari ke luar kamar dan terkejut masih mendapati Yoga di ruang tamu. Dan sudah ada beberapa bungkus makanan di atas meja.
"Tar,"
"Kamu ngapain masih di sini?" tanya Tari.
"Aku nemenin kamu, dan ini aku udah beliin makan malam. Baru aja kok belinya." Ucapnya lalu tersenyum.
Tari duduk di kursi lalu diam. Rasanya lapar, apalagi melihat makanan hangat yang menggugah selera di meja.
"Ayo, kamu mau makan apa? Spaghetti, pizza, nasi goreng, atau kepiting saos tiram ini?" Tari menelan ludah mengamati hidangan yang dibuka Yoga satu persatu.
Tin tin ....
Suara klakson motor terdengar dari luar. Tari segera bangkit. Itu pasti pengantar pesanannya. Dan benar, pesanan Tari sudah datang. Setelah membayar, Tari kembali masuk.
__ADS_1
"Kamu beli makanan sendiri?"