
"Pagi Pa!" sapa Yoga pada orang tua tunggalnya.
"Pagi!" jawab tuan Anton.
Pagi ini, Yoga dan papa nya melakukan sarapan bersama di rumah utama. Tempat di mana Yoga dan tuan Anton tinggal. Selama liburan, Yoga mengisi waktu senggangnya untuk datang ke kantor dan belajar bisnis bersama papa nya. Bahkan ia sampai lupa pada misi hatinya untuk bertemu dengan Ana. Mengungkapkan sebuah rasa yang sudah ia pendam sejak lama.
Sebenarnya, Yoga bisa saja meminta bantuan pada papa nya untuk mencari gadis itu. Namun jika papa tahu ia sudah menyukai salah satu gadis pekerja di klub nya ... Ah, pasti pria tua itu akan menentang keras keinginannya. Tidak! Yoga akan menyelesaikan masalah ini sendiri.
***
Liburan sekolah telah usai, para pelajar hari ini mulai sibuk bersiap diri dan berangkat ke sekolah. Termasuk Tari dan kedua adiknya. Hari ini, adalah hari pertama di kelas yang baru. Tanpa terasa Tari kini sudah duduk di bangku kelas XII, itu tandanya satu tahun lagi ia akan lulus dari sekolah. Tari berencana untuk membuka usaha bersama bu Mae. Sebuah toko kecil mungkin, atau rumah makan.
Apa gadis itu tidak ingin melanjutkan sekolah? Jawabannya, tidak. Tari ingin memiliki kehidupan yang normal kembali. Tidak ingin pergi ke klub malam lagi dan berhenti total. Padahal, dulu ia bertekad tidak akan pernah meninggalkan tempat itu. Karna dari sana lah ia bisa hidup seperti ini. Ya begitulah manusia, pikirannya selalu berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu.
Tin ... Tin ....
Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah. Siapa gerangan yang bertamu pagi-pagi sekali? Tari berjalan keluar rumah. Ah, ternyata Yoga. Dia sudah bersender di samping mobilnya dan sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas punggung yang ia gantung sebagian di lengannya.
Meski hampir setiap hari melihat, namun Tari selalu terpana dengan laki-laki itu. Yoga tersenyum pada Tari. Sedetik kemudian Tari mempersilahkan masuk sahabatnya itu. Yoga juga sudah akrab dengan adik-adik Tari, karna hampir setiap hari Yoga selalu datang berkunjung. Pagi sebelum ke kantor, siang saat makan siang atau setelah pulang dari kantor.
Dari perhatian-perhatian kecil Yoga pada adiknya atau pada dirinya sendiri lah yang membuat Tari semakin menggilai sosok Yoga. Ah, andai saja perasaan itu dapat ia ungkapkan.
Sudah hampir pukul 7, Yoga segera mengajak Tari dan adik-adiknya untuk berangkat ke sekolah. Itu memang tujuannya dari awal, menjemput Tari untuk berangkat ke sekolah bersama.
__ADS_1
***
Yoga melanjutkan perjalanan kembali setelah Farhan dan Bilal turun di depan sekolahnya. Kini hanya tinggal Tari dan Yoga di dalam mobil. Jika tadi ada Farhan dan Bilal suasana menjadi ramai karna Yoga bercanda gurau dengan mereka, kini suasana menjadi canggung karna perbedaan rasa yang mereka rasakan.
Jika Tari memendam rasa sukanya pada Yoga, lelaki itu hanya menganggap Tari sebagai sahabatnya. Tari memang orang yang pendiam, gadis itu bukan tipe gadis yang ceria dan memiliki banyak ide untuk memulai pembahasan.
Sampai di sekolah, Yoga segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan setelah itu ia keluar mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk sahabatnya itu. Kejadian itu ternyata diperhatikan beberapa murid yang ada di sekitar tempat itu. Kebanyakan dari mereka menatap sinis pada Tari saat ia keluar dari mobil. Tentu saja mereka merasa iri karna Tari bisa satu mobil dengan Yoga murid tampan di sekolah itu apalagi sampai dibukakan pintu, sudah seperti sepasang kekasih. Tak terkecuali Sarah yang ternyata juga melihat adegan romantis itu, gadis populer yang bahkan hingga kini belum bisa mendekati Yoga sedikitpun.
Di sekolah ini tidak ada yang bisa menolak kecantikan Sarah namun tidak dengan Yoga, ia hanya bersikap ramah pada gadis itu saat Sarah menyapa atau meminta bantuan dan selebihnya, acuh.
Tari berjalan di belakang Yoga dengan menunduk melewati beberapa tatapan tajam padanya. Mungkin jika tidak ada Yoga, Tari pasti sudah habis-habisan mendapat perlakuan tidak baik dari para murid. Untuk sementara, dia aman.
"Ck ... Kamu lelet banget sih Tar!" Yoga segera menggandeng tangan Tari dan membawanya berjalan sejajar dengannya. Ia tahu yang terjadi, gadis itu merasa takut dengan tatapan para murid di sekitar. Yoga menariknya karna ingin memberitahu pada semua orang bahwa Tari berada dalam lindungannya.
Sebenarnya Tari lebih suka tidak ada yang melihatnya, ia bisa melakukan apapun semuanya tanpa ada yang mau melihat. Tapi sekarang, ada Yoga di sampingnya. Apapun yang ia lakukan pasti menjadi perhatian semua orang karna adanya Yoga. Ah, ya sudahlah! Mau bagaimana lagi? Mereka sudah terlanjur terkait.
***
"Loe, ikut gue!" hardik Sarah tiba-tiba dan segera menarik tangan Tari untuk mengikutinya.
Saat itu sedang jam pelajaran, Tari meminta ijin keluar untuk ke toilet. Tak disangka ternyata Sarah mengikutinya. Saat Tari keluar toilet Sarah langsung menariknya ke belakang sekolah.
"Auh, sakit Sar. Tolong lepasin!" keluh Tari yang tak digubris oleh Sarah.
__ADS_1
Gadis cantik itu tetap menariknya dengan kasar. Sampai di belakang sekolah, Sarah segera melepaskan Tari dengan kasar hingga ia terjatuh ke tanah.
"Auh ..." Tari mengaduh. Sikunya terluka karna terbentur batu kecil.
"Kamu kenapa Sar? Aku ngelakuin salah apa sama kamu?" tanya nya.
"Salah apa? Ngga usah pura-pura deh Loe!" ucap Sarah penuh emosi.
"Loe pasti guna-gunain Yoga kan biar dia lengket sama Loe?"
"Maksudmu Sar?" Tari mencoba berdiri sembari memegang siku kirinya.
"Iya Loe pasti pake guna-guna buat deketin Yoga kan? Ngaku Loe! Kalau engga, Yoga ngga bakal mungkin bisa sebaik itu sama Loe. Loe liat kan di sekolah ini ngga ada yang suka sama Loe dan cuma Yoga yang mau deket sama Loe. Ngga mungkin Loe ngga pake guna-guna."
"Eng-engga Sar, aku ngga ngelakuin apapun." Tari mencoba membela diri.
"Lagian, ini sudah jaman modern Sar. Hal seperti itu sudah tidak ada lagi dan kamu masih percaya itu?" imbuhnya lagi.
'Benar juga apa yang di katakan Tari ....' Sarah bermonolog dalam hatinya.
"Alah, ngga mungkin kalau Loe ngga ngelakuin apapun. Sadar diri dong! Loe itu jelek, dekil, udik, ngga pantes deket sama Yoga." Ejek Sarah sembari mendorong Tari hingga terjermbab ke belakang.
"Awas kalau gue liat Loe deket-deket sama dia lagi!" Sarah memperingatkan. Kemudian ia pergi meninggalkan Tari sendirian.
__ADS_1
To Be Continue ....