
"Assalamu'alaikum ... Bulik," sapa Tari pada Bulik Kiswanti yang sedang menyapu halaman pagi itu.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Bulik dengan senyum. Seketika ia menghentikan kegiatan menyapunya dan menghampiri Tari.
"Maaf, Bulik, pakliknya ada?"
"Ada, Tar. Masih di belakang lagi ngopi sama ngurusin burung piaraan. Ada apa ya?" tanya bulik penasaran. Tumben Tari pagi-pagi begini sudah datang ke rumah dan mencari suaminya. Kalau tidak penting-penting sekali, ia tidak mungkin datang sepagi ini.
"Ah, ini mau minta tolong jualin rumah, Bulik," jawabnya sambil memperlihatkan stop map yang ada di tangannya.
"Ah, ya udah ayo masuk! Mumpung paklikmu belum berangkat kerja."
Tari mengangguk dan mengikuti bulik yang langsung menjatuhkan sapunya kemudian melangkah masuk. Gadis itu dipersilahkan duduk di ruang tamu. Sedangkan bulik memanggil suaminya yang ada di halaman belakang sedang menikmati kopi sambil menjemur burung-burungnya.
Beberapa menit, Tari duduk sendirian. Bulik dan paklik tak juga keluar menemuinya, padahal ia harus segera bergantian ke rumah sakit menjaga Bu Mae. Farhan dan Bilal juga harus berangkat ke sekolah. Tari melirik jam yang menggantung di dinding, sudah pukul tujuh. Untung tadi Adnan mau bangun pagi dan sudah berangkat ke sekolah. Masih ada waktu tiga puluh menit lagi, ia yakin adik-adiknya nanti akan terlambat ke sekolah.
Karena hati tak tenang, ia mengambil ponselnya di saku celananya kemudian menelpon Farhan.
"Halo, han." Kalimat pertama yang Tari ucapkan setelah Farhan mengangkat telponnya.
"Kakak nggak bisa langsung ke rumah sakit. Ada urusan sebentar, kamu nggak papa kan telat dikit ke sekolahnya? Atau mungkin ibu titipin ke perawat dulu. Udah bawa seragam kan?"
"Oh, kalian ijin libur. Apa nggak papa libur berkali-kali gitu? Nanti kalian ketinggalan pelajaran."
"Oke." Setelah Farhan memberitahu mereka akan libur, Tari lega. Ia tidak perlu khawatir jika urusannya dengan paklik sedikit lama.
"Gimana, Tar? Ada perlu sama paklik?" Suara paklik mengejutkannya.
Tari langsung mendongak karena sedikit terkejut. Ia masih fokus memainkan ponselnya saat itu.
"Eh iya, Paklik. Ini Tari mau minta tolong sama Paklik."
"Apa, Tar?" tanya pria itu sambil menjatuhkan bobotnya di kursi samping Tari.
Tari menyodorkan benda yang ia bawa. Sertifikat rumah dan tanah milik Bu Mae di kota yang dulu.
__ADS_1
"Ini buat apa, Tar?" Paklik masih belum mengerti.
"Tolong bantu jualin, Paklik. Buat biaya berobat ibu."
Paklik diam sambil melihat sertifikat tersebut. "Ini rumah kamu yang dulu, Tar?"
"Punya ibu, Paklik," jawab Tari singkat.
"Emangnya ibu kamu itu sakit apa sih, kok sampai harus jual rumah?"
Tari menghela napas panjang. Wajahnya mulai sendu membayangkan apa yang akan terjadi pada Bu Mae jika tidak segera ditangani. Sebenarnya ia tak mau menceritakannya, takut jika paklik atau bulik memberitahu ibunya. Ia tidak mau menambah beban pikiran sang ibu. Namun, tetap saja Tari harus memberitahu paklik. Gadis itu mulai membuka suara. Dari Diagnosa dokter hingga biaya yang harus ditanggung. Air matanya mulai menggenang saat memikirkan Bu Mae yang terkena penyakit mematikan.
Paklik juga sedikit terkejut. Ia tak menyangka Bu Mae itu menderita sakit yang mematikan. Semua orang tahu, penyakit kanker jarang sekali ada yang bisa sembuh. Semoga Bu Mae tidak termasuk.
"Eh, kamu tumben pagi-pagi ke sini, Tar." Gajendra tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Tari.
Tari menghentikan ceritanya. Ia menoleh pada gaje yang tanpa aba-aba langsung duduk di sebelahnya.
"Kamu kangen ya sama aku?" tanya nya sambil mencolek dagu Tari. Gadis itu berdecak. Laki-laki di sebelahnya ini memang selalu tidak jelas.
Tari berdecak. "Ish, apaan sih kamu? Nggak jelas banget."
"Nggak ada!" Tari sinis.
"Sudah, pagi-pagi sudah ribut!" Paklik melerai. "Gaje, kamu nggak pergi?"
"Paklik ngusir?" tanya Gajendra balik.
"Iya, cari kerja sana atau berangkat kuliah! Heran, sudah umur segitu masih jadi pengangguran dan kuliah nggak kelar-kelar."
Gajendra kini diam. Ia memang dikenal sebagai anak pemalas. Kesehariannya hanya pergi entah ke mana atau bersama Tari, seperti perangko yang menempel di amplop. Harusnya tahun lalu ia sudah wisuda dan menyandang gelar sarjana, tapi sampai saat ini hasil skripsinya pun tak pernah terlihat wujudnya.
"Kuliah nggak bikin orang jadi sukses, Paklik," ucap Gajendra.
"Haeh, terserah kamu saja lah. Paklik pusing. Yang jelas, jangan buat perjuangan paklik sekolahin kamu tinggi-tinggi jadi sia-sia."
__ADS_1
"Jadi gimana, Paklik?" Tari menyela. Mengingatkan kembali tujuan awalnya datang menemui paklik.
"Paklik bisa bantu, tapi ya ... ini kan jual tanah, Tar. Jadi nggak mungkin bisa langsung terjual."
"Apalagi lokasinya jauh di luar kota," imbuh paklik.
Kecewa, benar juga apa yang dikatakan paklik. Menjual tanah itu butuh waktu dan tidak bisa langsung terjual. Wajah Tari terlihat murung. Entah lah, ia tidak punya cara lain yang terlintas.
"Buat biaya rumah sakit?" tanya Gajendra pada Tari. Gadis itu mengangguk. Ia sedang memikirkan cara apa yang bisa mendapatkan uang dengan cepat.
"Berapa? Aku akan bantu!" Gajendra serius. Melihat Tari yang sedang sedih itu membuatnya tak tega.
"Memangnya kamu punya uang? Kerja aja enggak." Paklik meledeknya.
"Paklik ini, kayaknya benci banget sama aku," jawab Gajendra dengan nada sinis.
Semenjak Gajendra selalu keluyuran tidak jelas, sikap paklik padanya berubah. Paklik menjadi keras dan suka marah-marah padanya. Orang tua mana yang tidak akan marah jika anak yang mereka didik dari kecil, saat besar hidupnya tanpa tujuan? Menurutnya, Gajendra adalah tipe anak yang seperti itu. Mati-matian ia mengasuh Gajendra dengan baik mengingat ia adalah anak dari almarhum kakaknya, tapi sekarang anak itu malah seperti tidak mau punya masa depan yang cerah. Paklik hanya takut, kakaknya akan menangis jika melihat anaknya hidup tanpa tujuan seperti sekarang.
Apa mentang-mentang usianya masih sangat muda hingga kesehariannya hanya untuk bersenang-senang sesuka hati?
"Paklik, aku tetep mau jual tanah sama rumah itu."
"Iya, Tar. Paklik akan bantu, semoga bisa cepat terjual agar ibumu bisa segera ditangani." Tari mengangguk.
Karena paklik harus berangkat kerja, jadi Tari juga harus pamit. Begitu juga dengan Gajendra. Ia mengikuti sahabatnya itu ke manapun.
"Aku ikut ke rumah sakit ya!" pinta Gajendra.
Saat ini Tari sedang mengunci pintu rumahnya. Setelah pulang dari menemui paklik, ia kembali ke rumah untuk menyiapkan bekal yang akan dibawanya ke rumah sakit. Untuk Farhan dan Bilal tentunya. Tari hanya mengangguk dan tersenyum pada sahabatnya. Gajendra pun membalas senyuman Tari. Kemudian, mereka berjalan ke pangkalan angkot di ujung kampung.
"Tar, kamu nggak perlu jual benda berharga itu. Aku mau bantu kamu," ucap Gajendra. Ia benar-benar ingin membantu Tari. Menjual tanah itu sangat lama dan butuh proses.
"Emangnya kamu punya uang?" Secara tidak langsung Tari meremehkan sahabatnya. Bukan apa-apa, gadis itu juga tahu bahwa Gajendra tidak punya pekerjaan. Ah, ada. Pekerjaannya adalah selalu mengganggunya atau pergi keluyuran bersama teman-temannya yang lain.
"Kalau aku punya, boleh aku bantu kamu? Jangan menolak bantuanku, Tar. Aku tulus sama kamu."
__ADS_1
"Nggak usah deh, Gaje. Kalau kamu punya uang, mending diberikan ke paklik dan bulik aja. Mereka yang lebih berhak."
Kalau memang Gajendra niat membantu, tak perlu banyak bicara atau minta ijin. Langsung saja ke rumah sakit dan melunasi pembayaran administrasinya. Lalu buat Tari kaget karena bu Mae langsung ditangani dan masalah biaya sudah selesai, ia juga pasti akan mendapat apresiasi atas apa yang ia lakukan. Seperti pelukan atau sebuah kecupan, mungkin. Seperti papi dulu, pria itu tak perlu mendapat ijin apapun untuk membuatnya bahagia. Ah, kenapa tiba-tiba teringat masa lalu? Enam tahun berlalu, apa kabar Tuan Anton dan Yoga?