KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 78


__ADS_3

Malam ini, Tari menginap di apartemen Yoga. Selang infusnya sudah dilepaskan. Sedangkan Yoga, setelah bertemu dengan Tari, ia sama sekali tidak memikirkan keadaan di rumah. Bagaimana keadaan adik rasa anaknya? Apakah istrinya sudah pulang? Atau bagaimana keadaan sang papa? Ia tidak peduli.


Tengah malam, Yoga masuk ke kamar untuk melihat keadaan Tari. Melihat gadis itu tertidur pulas di atas tempat tidurnya membuat hatinya tenang. Ia mendekat dan duduk di samping ranjang, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Tari. Yoga tersenyum. Wajah ayu nan manis itu kini berada di hadapannya. Sekian lama ia mencarinya kini, gadis itu sedang terlelap bersamanya.


Namun, ia teringat dengan tujuannya mencari Tari. Membantu mengembalikan ingatan papa. Ia berharap Tari bisa memulihkan ingatan papanya. Tangan yang hendak mengelus lembut pipi gadis yang sedang tertidur itu urung melakukan niatnya. Sekali lagi, ia harus menekan egonya untuk memiliki Tari. Ah ... bahkan kini ia sudah berkeluarga. Haruskah ia kembali mencintai dalam diam?


Yoga beranjak dan berpindah menaiki ranjang yang masih kosong. Membaringkan tubuh yang entah mengapa tiba-tiba terasa sangat lelah. Dipandangnya wajah manis itu dari samping. Sekali lagi, ia benar-benar yakin bahwa cinta itu masih ada. Ya Tuhan ... bolehkan ia memilikinya?


***


Hangat, AC yang terpasang menghembuskan hawa dingin tak menyurutkan rasa hangat yang menyelimuti. Sebuah guling nan empuk begitu nyaman saat dipeluk. Tari tersenyum dalam tidurnya. Begitu nyaman hingga rasanya tak mau membuka mata. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Tidur nyaman hingga pagi menjelang adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Tuhan.


Yoga, tidurnya terganggu kala merasakan seperti ada yang melilit tubuhnya. Perlahan ia membuka mata, ah ... ternyata yang mengungkung tubuhnya adalah Tari. Dilepaskannya pelukan erat Tari padanya kemudian ia berganti memeluknya. Entah apa yang sedang diimpikan gadis itu, ia juga membalas pelukan Yoga dengan erat.


Pukul tiga dini hari, saat-saat terberat di setiap malam-malam yang dilewati Yoga. Saat inilah gejolak rasa yang tak biasa muncul merasuki tubuhnya. Terkadang ia harus bangun untuk menuntaskan sesuatu. Seperti sekarang ini, rasanya baru saja ia memejamkan mata, tapi harus membukanya kembali karena sesuatu. Apalagi kini ia sedang bersama orang terkasih. Hasrat kelelakiannya terpancing ingin membuka kancing mendengarkan suara yang melengking.


Dengan perlahan pria itu mencium seluruh bagian wajah Tari. Namun, kecupannya tak sampai menyentuh bagian di bawah hidung. Meskipun pada bagian itu benar-benar sangat menantang untuk dikecup. Tari hanya menggeliat pelan kala mendapat beberapa kecupan di wajahnya. Semakin membuat gemas ingin merampas agar semua tuntas dan berakhir dengan keramas.


"Ah ... aku nggak bisa gini terus," katanya dalam hati.


Yoga semakin memeluk erat tubuh Tari yang terlelap. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan gadis itu. Hatinya ingin menolak, tapi tubuhnya terus bergerak. Harus!


Yoga mendongak. Ditatapnya wajah cantik itu kemudian terkunci pada bibir kecil yang sedikit terbuka. Dengan berani ia mendekat kemudian mengecupnya pelan. Tidak! Sekali saja tidak cukup. Yoga mengecupnya lagi dan lagi. Sampai rasa itu semakin mencuat, ia melu*mat dengan lembut bibir Tari dan menikmati manisnya benda tersebut.


Di bawah kesadarannya, Tari merasa seorang pria tengah memeluknya dan sedang menci*umnya. Aroma tubuh pria itu sangat ia kenal. Wangi parfum berbau menenangkan terbang menyusuri rongga hidungnya. Lum*atan kecil begitu terasa. Yoga, dialah Yoga. Tari bermimpi sedang memadu kasih dengan pria tersebut. Hingga tanpa sadar ia mendesah membuat lum*atan itu menuntut ingin lanjut merusak tatanan kasur agar menjadi kusut.

__ADS_1


Tubuh Yoga semakin memanas kala ia merasa Tari juga membalas ciu*mannya. Ia memeluk erat gadis itu dan mencoba menerobos pintu manis yang saat ini sedang ia cicipi.


***


Suasana canggung begitu terasa pagi ini. Kejadian semalam membuat Yoga dan Tari seperti dibatasi sebuah dinding tebal di hadapan mereka.


"A-ayo dimakan supnya!" Yoga buka suara setelah beberapa saat mereka hanya diam mematung di meja makan.


Tari tersenyum kikuk dan mulai menyuapkan sup ayam buatan Yoga di mulutnya. Mengingat kembali kejadian semalam membuat pipinya bersemu merah. Yoga pun demikian. Setiap kali melirik gadis yang sedang duduk di depannya itu, ia selalu teringat kejadian malam tadi. Andai saja gadis itu tidak segera sadar, mungkin sesuatu akan terjadi pagi ini. Tari ... menangis, mungkin.


Ya, kalau saja Tari tidak segera terbangun dan membuka mata, mungkin bunga yang selama ini ia jaga akan dihisap nektarnya oleh Yoga. Untung saja gadis itu merasa dinginnya udara yang keluar dari AC saat Yoga mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan.


"Nanti aku anter sampai rumah, ya!" kata Yoga memecah keheningan.


"Ng-nggak usah, Ga. Aku mau naik bus aja," balas Tari.


"Bukan apa-apa, Tar. Aku malah seneng kamu di sini. Kalau perlu, mending kamu tinggal di sini aja."


Tari menggeleng. "Ibuku sakit. Aku juga tidak bisa meninggalkan Adnan lama-lama."


"Ajak mereka balik ke sini aja, Tar. Sekolahkan mereka di sini!"


"Nggak, Ga. Kita udah nyaman di sana. Adnan juga banyak teman. Nggak mungkin bisa pindah semudah itu."


"Lagipula, aku butuh bantuanmu, Tar."

__ADS_1


"Bantuan apa?" tanya gadis itu sambil mencuci mangkuk yang baru saja ia pakai.


"Bantu aku buat ngembaliin ingatan papa!"


"Apa?" tanya Tari terkejut. Seketika ia menghentikan tangannya dan berbalik menatap Yoga.


Tinggal di sini dan membatu memulihkan ingatan Tuan Anton? Bukan hal yang mudah. Apalagi sekarang ini ia dikenal sebagai wanita simpanan Yoga. Mendengar makian yang keluar dari mulut pria tua itu lagi? Ah ... mustahil gadis itu akan sanggup.


"Maaf, Ga. Kayaknya aku nggak bisa. Aku nggak bantuin kamu." Tegas Tari kemudian kembali mencuci mangkuk kotornya.


Setelah itu, ia bergegas masuk ke kamar untuk mengambil tasnya dan segera pergi ke terminal. Ya, ia harus segera pergi sebelum Yoga kembali memintanya untuk tetap tinggal.


"Tar, aku mohon!" Yoga mencoba menghalangi langkah Tari yang ingin keluar dari kamarnya.


"Maaf, Ga. Aku nggak bisa." Tegas Tari sekali lagi.


"Cuma kamu yang bisa sembuhin papa, Tar."


"Ga, aku harus segera pulang. Orang-orang di rumah sedang menungguku." Tari memelas.


"Siapa? Adik-adikmu? Mereka sudah besar dan pasti asyik dengan dunianya tanpa memikirkanmu. Adnan? Aku sudah mengirim seorang pengasuh untuk memenuhi kebutuhannya. Bu Mae? Ibu kamu itu sudah mendapatkan penanganan terbaik di rumah sakit. Beberapa suster juga sudah menunggunya." Suara Yoga mulai mengeras.


Tari diam. Yoga ... melakukan semuanya?


"Atau ada yang lain?" tanya Yoga. Entahlah, wajahnya langsung memerah saat ia mengatakan 'Ada yang lain' seakan sedang menahan kesal.

__ADS_1


"Ya ... benar ada yang lain," katanya lagi sambil tersenyum sinis.


__ADS_2