
Teng ... Teng ... Teng ....
Lonceng tanda jam istirahat terdengar. Semua murid bersorak menyambut waktu istirahat siang itu. Beberapa jam berada di kelas dan mengikuti kegiatan belajar mengajar membuat tenaga mereka terkuras. Waktu yang sangat di nanti untuk mengisi perut mereka yang kosong sebelum kembali memulai pembelajaran selanjutnya.
"Tenang semua!" seru Pak Guru sambil membereskan buku-bukunya.
Para murid lalu terdiam dan duduk kembali.
"Jangan lupa untuk mengerjakan tugas rumah yang saya berikan tadi! Saya sudahi pertemuan kita hari ini, sekian dan terima kasih."
Pak guru tersebut melangkah pergi sambil menenteng beberapa buku di tangannya. Setelah kepergian sang guru, kelas menjadi riuh kembali. Beberapa dari mereka langsung keluar menuju tempat mereka mengisi energi dalam tubuh mereka. Kantin.
"Kantin yuk, Tar!" Yoga sudah berdiri di samping meja Tari.
Tari yang sedari tadi hanya diam dan menunduk pun terkejut. Gadis itu langsung mendongak untuk melihat orang yang mengajaknya berbicara.
"Kamu aja duluan, Ga. Aku belum laper." Tari membaik-balik halaman di buku pelajarannya.
"Kamu cari apa?"
"Cari jawaban buat tugas barusan." jawabnya sekenanya. Sebenarnya Tari tidak sedang mencari apapun atau mengerjakan apapun. Dia hanya ingin menghindari Yoga saat ini.
"Jawabannya ada di kantin!" Yoga langsung menarik tangan Tari dan membawanya keluar kelas.
"Ah, Yoga!" Tari terkejut. Dia hanya bisa mengikuti langkah Yoga yang membawanya keluar kelas.
__ADS_1
Untung saja tubuh Tari tidak terbentur sudut-sudut meja karena langkah kaki Yoga sedikit cepat.
"Aku laper, Tar. Kalau kamu ngga mau makan ya temani aku makan di kantin!" Masih menggengam tangan Tari.
Gadis itu hanya diam pasrah. Mengikuti langkah Yoga dengan tangan yang masih dia genggam. Sebenarnya dia takut jika masih dekat dengan Yoga, keselamatan sahabatnya itu akan terancam di tangan papa nya sendiri. Tari tidak mau sesuatu terjadi pada diri Yoga kedepannya. Tapi jika dekat sekali dua kali saja tidak apa, kan?
Kedua insan bersahabat itu sampai ke area kantin. Yoga menyuruh Tari untuk mencari tempat duduk sedangkan dia memesan makanan pada penjaga kantin. Tari memilih duduk di tempat yang paling pojok yang sekiranya tidak dilihat oleh murid lain.
Kantin sekolah itu memang terbilang luas. Meja dan kursi panjang berukuran sekitar 2 meter berjejer rapi di sisi kanan dan kiri. Di tengahnya digunakan sebagai jalan. Kantin terasa sangat sejuk karena di disain tanpa dinding sehingga para murid bisa merasakan kenyamanan karena diterpa angin sepoi yang berhembus.
"Nah, makan siang sudah datang, Tuan Putri." Yoga datang ke meja Tari dengan membawa satu nampan berisi dua mangkuk mie instan kuah dan juga dua gelas es teh manis.
"Kok bawa dua mangkuk?" tanya Tari heran.
"Kalau aku makan ya kamu juga harus makan." jawab Yoga sambil menaruh pesanannya di atas meja.
Pandangan gadis itu beralih ke wajah Yoga yang terlihat serius. Jauh lebih tampan sekarang, dengan kumis tipis yang baru tumbuh di atas bibirnya. Pria muda yang hampir mirip dengan artis muda Indonesia yang sekarang sedang naik daun itu sungguh sangat mempesona.
"Jangan lama-lama liatnya nanti kamu cinta loh."
Tari tersadar. Dia segera mengambil sambal dan menuangnya ke dalam mangkuk miliknya. Tari mengaduk mie instan dalam mangkuk menggunakan sendok kemudian memakannya.
"Auw!" Tari mengaduh. Mie tersebut ternyata masih panas.
"Kamu nggak papa?" Yoga memyodorkan tisu pada Tari.
__ADS_1
Tari menggelengkan kepalanya. Dia mengambil tisu dari tangan Yoga kemudian menggunakannya untuk mengelap mulutnya yang terkena kuah panas.
"Makannya, kalau makan pelan-pelan." Yoga mengusap pelan kepala Tari kemudian dia melanjutkan kembali makan siangnya.
Tari terdiam. Hatinya kembali tersentuh dengan kelembutan laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Bagaimana mungkin dia bisa mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Yoga? Sumpah demi apapun, dia tidak bisa melakukannya.
Air mata Tari menetes begitu saja dari pelupuk matanya. Rasanya sakit mengingat dia harus merelakan cintanya layu sebelum mekar. Tari segera mengusap air matanya sebelum Yoga menyadari bahwa dirinya menangis. Dia juga tidak mau topeng yang menutupi wajah manisnya luntur karena tangisannya.
"Buruan dimakan! Nanti nggak enak kalau kedinginan." titah Yoga di sela makannya.
****
"Kamu kenapa sih selalu nolak kalau mau ku antar pulang?" Yoga mencoba menyamakan langkah kaki Tari yang terlihat buru-buru.
Saat ini mereka sedang berjalan di koridor sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah usai beberapa menit yang lalu. Kini saatnya para murid untuk pulang ke rumah masing-masing atau melakukan kegiatan yang lainnya.
"Ayo lah, Tar. Sekali aja mau aku antar. Biar aku tau rumah barumu. Kita kan sahabat. Atau nanti gantian aku ajak kamu kerumah ku terus aku kenalin ke papa ku. Ya ... Ya ...."
Yoga mencoba berbagai cara agar dapat mengantar Tari pulang. Bukan apa-apa, tujuannya hanyalah ingin tahu rumah baru Tari dan nanti nya dia bisa datang ke rumah Tari setiap saat seperti biasanya. Dia sudah terlanjur suka bermain dengan Adnan yang menggemaskan.
"Nggak, nggak, aku bisa pulang sendiri. Lagian aku juga sudah pesan taksi online, Ga." Tari mempercepat langkah kakinya.
Astaga, bisa-bisanya Yoga berencana untuk membawanya ke rumah. Bertemu dengan Papa nya pula. Itu sama saja dengan memberi dua umpan sekaligus pada hiu yang lapar. Tari menggelengkan kepalanya sendiri. Tak mau lagi berpikir yang tidak-tidak.
Sedangkan Yoga, dia menyerah. Dia tidak lagi mengejar sahabatnya itu. Yoga memilih berjalan menuju tempatnya memarkir mobil. Apa yang Tari sembunyikan sampai dia tidak mau menunjukkan dimana rumahnya?
__ADS_1
Tari segera masuk ke dalam sebuah mobil fortuner warna hitam yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah. Di dalam sana sudah ada seorang sopir yang bertugas untuk mengantar Tari kemanapun. Tuan Anton tidak lagi memperbolehkan gadisnya pulang pergi dengan kendaraan umum. Dia benar-benar ingin menjaga gadisnya lebih ketat lagi.