KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 60


__ADS_3

"Kenapa tidak makan malam di sini saja?" tanya Bu Ratih yang kecewa saat Tari berpamitan ingin pulang.


Saat ini mereka sedang berada di depan rumah. Raut kekecewaan Bu Ratih terlihat jelas kala Tari meminta pamit untuk pulang. Pasalnya, selama ini ia tidak pernah merasakan memiliki seorang anak perempuan. Dengan kehadiran Tari, ia menjadi sangat bahagia. Bu Ratih ingin melakukan banyak hal bersama dengan Tari layaknya seorang ibu dan anak. Memasak, menanam bunga, dan lain sebagainya.


"Maaf, Tante. Tapi kasihan adik-adik di rumah," jawab gadis tersebut.


"Besok aku akan bawa Tari ke sini lagi. Ya kan, Sayang?" Tuan Anton melihat kesedihan di wajah sang mama. Gadis itu pun menjawab dengan anggukan dan tersenyum.


"Pokoknya selama kami ada di sini, sempatkan waktumu untuk mengunjungi kami. Atau mungkin nanti kami yang akan berkunjung ke rumah kalian." sahut Pak Widodo.


Tuan Anton pun segera mengajak Tari untuk masuk ke dalam mobil. Namun, saat hendak membuka pintu, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Mobil yang tak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan milik Angga Yoga Pratama, anak semata wayang Tuan Anton.


Tari mematung. Tiba-tiba ada rasa aneh yang merasuk ke dalam tubuhnya. Rasa takut, rindu, dan rasa ingin tidak peduli menyatu. Ia takut jika Yoga akan mengolok-oloknya lagi, tapi ia juga rindu ingin menyapa laki-laki itu. Yoga keluar dari mobil setelah memarkirkannya. Pria muda yang memakai setelan jas warna putih dan kaos senada itu juga terkejut saat melihat keberadaan Tari di rumahnya.


Sesaat Yoga hanya diam mematung melihat gadis yang berada di samping sang papa. Ana, sosok Ana lah yang kini hinggap di kepala Yoga. Gadis cantik yang ia cintai dan sangat dirindukan. Namun, ia juga sangat membencinya. Mengingat bahwa gadis itu telah membohonginya, Yoga langsung tersadar dan segera masuk ke dalam rumah tanpa menyapa orang-orang yang ada di sana.


"Benar-benar tidak sopan," celetuk Tuan Anton saat melihat Yoga masuk begitu saja tanpa menyapa mereka.


"Kalau kita melihat seseorang yang kita sukai sedang bersama orang lain, apakah kita bisa berbuat sopan?" tanya Bu Ratih.


Entahlah apa yang dipikirkan Bu Ratih saat ini. Tak ada yang mampu menjawabnya. Termasuk Tari, gadis itu semakin menunduk tak percaya diri lagi. Pertanyaan Bu Ratih seakan menampar dirinya yang memiliki hubungan dengan anak dan cucu nya. Rasa bersalah pun muncul. Dia lah biang dari pertikaian antara Tuan Anton dan Yoga. Namun, ia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini.


"Sudah, Ayo kita pergi!" ajak Tuan Anton pada Tari. Kemudian gadis itu masuk ke dalam mobil dibantu oleh Tuan Anton.


Bu Ratih melambaikan tangan ketika mobil itu mulai melaju pelan keluar dari gerbang rumah. Seseorang juga turut mengantar kepergian mereka meski dari kejauhan. Yoga, menatap mobil hitam yang Tuan Anton dan Tari tumpangi dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Tatapannya tak bisa diartikan saat ini. Namun, dalam hati nya terasa berlubang dan membuat isi di dalamnya berceceran ke mana-mana.

__ADS_1


Ada apa ini? Bukankah dia membenci gadis itu? Akan tetapi saat melihatnya kembali, ada rasa yang tak mampu ia uraikan. Sakit saat melihat sosok Ana yang baru saja ia lihat kini bersama lelaki lain. Sekali lagi, hanya butuh satu pandangan pertama untuk menyukai seseorang, tapi butuh waktu lebih lama untuk melepasnya dari hidup kita.


****


Hari berlalu, tidak ada yang terjadi. Semua berjalan dengan semestinya. Yang membedakan, kini Bu Ratih lebih sering mengunjungi rumah Tari karena di sana beliau tidak merasa kesepian. Ada Adnan yang selalu menggemaskan dan Bu Mae yang sudah seperti saudara juga Tari yang sudah seperti anak perempuannya. Di sekolah pun, semua kembali normal. Tari kembali menjadi murid cupu yang tenggelam, duduk di pojokan kelas dan tak pernah keluar kecuali ada kepentingan. Yoga? Dia sibuk mencari kegiatan yang bermanfaat. Seperti ekstrakurikuler basket, musik, dan juga mengikuti tambahan pembelajaran untuk kelas XII.


Beberapa pelajaran ekstra sengaja ia ambil agar tidak cepat pulang ke rumah atau mengerjakan pekerjaan kantor. Ia merasa beban yang diembannya terlalu berat. Sepulang sekolah Yoga harus langsung ke kantor papanya untuk urusan pekerjaan, padahal ada Beni yang bisa menangani semuanya. Namun, sepertinya sang papa sengaja membebankan pekerjaan kantor padanya agar dia semakin sibuk dan melupakan gadis yang mereka sukai.


Karena lelah dengan rutinitas kantor, ia mengakalinya dengan mengikuti beberapa kegiatan sekolah. Yoga masih muda, umurnya baru belasan tahun. Wajar jika terkadang merasa penat dengan kegiatan sehari-hari nya.


"Ah," jerit Tari ketika seseorang menarik dan membekap mulutnya dari belakang.


Tari yang baru saja keluar dari perpustakaan sekolah itu mencoba memberontak saat seseorang tersebut menariknya. Tari mencoba melepaskan diri, tapi tenaganya tak cukup kuat. Mencoba berteriak, suaranya tertahan oleh tangan yang menutup mulutnya. Sampai di belakang sekolah, seseorang tersebut melepaskan gadis itu.


"Yoga!" Tari terkejut. Matanya tak percaya bahwa Yoga berada di hadapannya.


Mata Yoga menelisik ke sana ke mari berjaga-jaga bila ada yang mengawasi mereka. Terutama mata-mata yang sengaja papanya pekerjakan untuk menjaga Tari. Yoga kembali memperingatkan Tari untuk tidak berteriak dan gadis itu mengangguk pelan. Perlahan Yoga menjauhkan tangannya dari mulut gadis itu.


"Kamu ngapain?" tanya Tari heran.


"Nggak ngapa-ngapain," jawab Yoga singkat sambil menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya, kamu kenapa bawa aku ke sini?" tanya Tari lagi.


"Nggak ada, cuma mau ketemu kamu."

__ADS_1


"Kalau cuma itu kenapa kamu bawa aku ke tempat sepi gini?" Tari masih bertanya. Sesekali ia menaikkan kaca matanya yang sedikit menurun.


"Banyak mata-mata papa." Sesekali Yoga masih mengamati sekitar untuk berjaga-jaga.


Tari menghela napas. Gadis itu tidak tahu harus bertanya apa lagi. Ia merasa canggung saat berada di dekat Yoga.


"Ini," Yoga memberikan sesuatu pada Tari.


"Apa ini?"


"Kamu nggak tahu ini apa?"


"Aku tahu ini kunci mobil. Tapi punya siapa dan untuk siapa?"


"Itu punyaku. Nanti pulang sekolah kamu langsung aja masuk ke mobilku dan tunggu aku." jelas Yoga.


"Kenapa?"


"Kamu banyak tanya ya sekarang." Yoga mulai kesal.


"Pokoknya, kamu tunggu aku di dalam mobil!" imbuhnya.


"Tapi kan ...."


"Sopir yang menjemputmu biar urusanku," sela Yoga.

__ADS_1


Setelah itu, Yoga pergi dari tempat itu. Sedangkan Tari masih berdiri di sana sembari mengamati kunci mobil Yoga yang ada di genggamannya. Ia merasa heran dengan tingkah Yoga yang tiba-tiba baik padanya. Tidak ada amarah yang terdengar di setiap ucapan Yoga. Apa Yoga tidak lagi membencinya? Apa yang membuat laki-laki itu kembali baik padanya?


__ADS_2